Oleh Arifin Al Bantani
Setiap pergantian tahun, kita hampir selalu melakukan hal yang sama: menyusun resolusi, menata harapan, dan meyakinkan diri bahwa esok akan lebih baik. Namun tak jarang, semangat itu cepat memudar. Realitas hidup kembali menghadirkan ketidakpastian, kegagalan kecil, dan kelelahan yang tak tertulis dalam daftar resolusi. Pertanyaannya kemudian sederhana tapi mendasar: mengapa semangat baru sering tidak bertahan lama?
Dalam tradisi Islam, khususnya yang hidup di pesantren, pergantian waktu tidak dimaknai sebagai ledakan optimisme, melainkan sebagai ruang perenungan. Salah satu warisan spiritual yang menarik dibaca dalam konteks ini adalah Hizib Nashor, sebuah rangkaian doa yang disusun oleh ulama besar, Imam Abul Hasan asy-Syadzili. Hizib ini tidak menjanjikan hidup tanpa masalah, tetapi mengajarkan cara menghadapi hidup dengan keteguhan dan ketenangan.
Bagi Imam asy-Syadzili, doa tidak pernah dimaksudkan untuk menggantikan usaha. Ia justru menertibkan usaha agar tidak berubah menjadi ambisi yang melelahkan. Ungkapan beliau yang masyhur, “Bekerjalah dengan anggota badanmu, dan bertawakallah dengan hatimu,” menunjukkan keseimbangan yang sering kita lupakan. Kita diminta bekerja sungguh-sungguh, tetapi tidak menggantungkan ketenangan hidup sepenuhnya pada hasil kerja itu.
Hizib Nashor lahir dari kesadaran bahwa manusia hidup di tengah banyak hal yang tak bisa dikendalikan. Karena itu, do'a-do'anya bukan bahasa kekebalan, melainkan bahasa kepercayaan.
Dalam salah satu nasihat yang dinisbatkan kepada asy-Syadzili disebutkan, “Jika Allah memberimu kepercayaan kepada-Nya, hatimu akan tenang meski sebab-sebab tampak rapuh.” Ketenangan semacam ini penting, terutama di zaman ketika kita dituntut serba cepat dan serba pasti, padahal hidup jarang benar-benar pasti.
Modernitas mengajarkan kita untuk mengukur segalanya: target, capaian, bahkan kebahagiaan. Ketika ukuran-ukuran itu tidak tercapai, kita mudah cemas dan merasa gagal. Hizib Nashor menawarkan sudut pandang lain: bahwa akal dan perencanaan tetap penting, tetapi hati perlu diajari untuk tidak terus-menerus mengatur hasil.
Nasihat asy-Syadzili, “Istirahatkan hatimu dari mengatur urusan,” bukan ajakan untuk pasrah tanpa usaha, melainkan peringatan agar hidup tidak dikuasai kecemasan.
Yang menarik, Hizib Nashor juga tidak bersifat egoistis. Doa-doanya mencakup keselamatan banyak orang, bukan hanya diri sendiri. Ini menunjukkan bahwa spiritualitas yang matang selalu memiliki dampak sosial. Ketenangan batin seharusnya melahirkan kepedulian, bukan keterasingan. Dalam masyarakat yang kian individualistis, pesan ini terasa semakin relevan.
Maka, semangat baru yang ditawarkan Hizib Nashor berbeda dari narasi populer tentang “menjadi versi terbaik diri sendiri”. Semangat baru di sini adalah keberanian untuk tetap jujur ketika jalan pintas menggoda, tetap sabar ketika hasil tak kunjung datang, dan tetap peduli ketika dunia mendorong kita untuk sibuk dengan diri sendiri.
Pada akhirnya, tahun baru tidak menuntut kita menjadi manusia yang serba sempurna. Ia mengajak kita menjadi manusia yang lebih sadar: sadar bahwa hidup tidak sepenuhnya bisa direncanakan, sadar bahwa ketenangan batin adalah modal penting untuk bertahan, dan sadar bahwa harapan tidak selalu berarti menuntut, tetapi juga mempercayakan.
Menyambut tahun baru, barangkali kita tak perlu terlalu sibuk menulis resolusi panjang. Mungkin yang lebih penting adalah berhenti sejenak dan bertanya: sudahkah kita bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa kehilangan doa? Sudahkah kita berharap besar tanpa terlalu menggenggam hasil? Jika semangat baru dibangun di atas kesadaran semacam ini, maka tahun apa pun yang kita masuki bukan sekadar pergantian angka, melainkan kesempatan nyata untuk hidup dengan lebih tenang, lebih jernih, dan lebih bermakna.
Selamat datang Tahun 2026, Terima kasih Tahun 2025. Tahun baru, lembaran baru. Tulislah kisahmu dengan keberanian, ketekunan, dan semangat tak tergoyahkan. (*/)
(*/) Ustadz Arifin Al-Bantani
Penulis murupakan aktivis Islam di Cilegon.
#Opini
Komentar