Illustrasi (google)
CILEGON – Menjelang Hari Raya Idul Fitri, kebutuhan uang pecahan baru di Kota Cilegon mengalami peningkatan signifikan. Namun, tingginya permintaan tersebut justru dimanfaatkan oleh sejumlah pihak dengan membuka jasa penukaran uang tidak resmi yang membebani masyarakat.
Pantauan di lapangan pada beberapa hari terakhir, menunjukkan aktivitas penukaran uang baru berlangsung ramai di beberapa titik strategis, seperti kawasan Taman Bonakarta dan depan Bank BRI KC Cilegon. Di lokasi tersebut, sejumlah oknum menawarkan jasa penukaran uang dengan berbagai pecahan yang dibutuhkan masyarakat untuk keperluan Lebaran.
Kemudahan yang ditawarkan ternyata diiringi dengan biaya tinggi. Dari penelusuran langsung menemukan adanya pungutan mencapai 20 persen dari jumlah uang yang ditukarkan.
Seorang penukar jasa yang enggan disebutkan namanya menjawab dengan jelas besaran potongan admin. Dimana setiap orang menukarkan Rp. 100 ribu hanya akan dapat Rp80 ribu karena dipotong biaya administrasi.
“Di sini adminnya 20 persen, Pak. Kalau Rp1 juta, kena Rp200 ribu," ucapnya. Kamis (19/3/2026).
Kondisi ini memperlihatkan maraknya praktik penukaran uang nonresmi yang kerap muncul setiap menjelang Lebaran. Tingginya tarif yang dikenakan menjadi beban tersendiri bagi masyarakat, khususnya kalangan menengah ke bawah yang ingin berbagi rezeki dalam bentuk uang baru kepada keluarga.
Terbatasnya layanan penukaran uang resmi diduga menjadi pemicu utama. Kuota yang terbatas, waktu pelayanan yang singkat, serta antrean panjang di perbankan membuat masyarakat kesulitan mendapatkan akses penukaran secara resmi. Situasi ini kemudian dimanfaatkan oleh oknum untuk meraih keuntungan besar dalam waktu singkat.
Dampak dari praktik riba ini tidak hanya dirasakan dari sisi ekonomi, tetapi juga menimbulkan ketimpangan akses di tengah masyarakat. Warga yang tidak memiliki cukup waktu untuk mengantre di bank terpaksa menggunakan jasa penukaran tidak resmi meski harus membayar biaya tinggi.
Fenomena ini pun menjadi sorotan bagi otoritas terkait, termasuk Bank Indonesia dan pihak perbankan. Masyarakat berharap adanya langkah konkret untuk memperluas layanan penukaran uang resmi, seperti penambahan titik layanan serta sistem distribusi yang lebih merata.
Selain itu, penertiban terhadap praktik penukaran ilegal juga dinilai penting agar tidak semakin merugikan masyarakat.
Warga Cilegon, Arif berharap pemerintah dan perbankan segera mengambil tindakan. Ketersediaan uang baru yang mudah diakses tanpa biaya tambahan dinilai menjadi kebutuhan penting setiap menjelang Lebaran.
"Gak nahan potongannya besar banget, ini harus ada solusi dari pemerintahan yang harusnya memahami kebutuhan rakyatnya," keluhnya.
Jika tidak segera ditangani, praktik riba dengan pungutan tinggi dalam penukaran uang dikhawatirkan akan terus berulang dan menjadi kebiasaan tahunan yang merugikan masyarakat luas.
Warga Cilegon lainnya, Handi Apis juga mengeluhkan hal yang sama saat mau menukar uang di Salah satu bank yang ada di Cilegon. Ia diarahan oleh Security bank melalui aplikasi pintar tapi saat akan menukar di aplikasi pintar jawaban selalu tidak ada.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan dari pihak perbankan terkait maraknya praktik penukaran uang dengan tarif tinggi di Kota Cilegon. (*/red)
#Peristiwa
Komentar