Menyambut Bulan Suci Ramadhan: Jalan Pulang Menuju Diri

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Menyambut Bulan Suci Ramadhan: Jalan Pulang Menuju Diri

Senin, 16 Februari 2026


Oleh Arifin Al Bantani

Ramadhan bukan sekadar bulan yang datang setiap tahun. Ia adalah tamu agung yang mengetuk pintu hati—dan pertanyaannya bukan apakah ia datang, tetapi apakah kita siap menerimanya.

Di tengah hiruk-pikuk dunia modern, ketika waktu terasa sempit dan jiwa terasa penuh oleh kebisingan, Ramadhan hadir seperti jeda ilahi. Ia tidak hanya mengubah jadwal makan dan tidur, tetapi menata ulang arah hidup. Dalam tradisi sufistik, Ramadhan adalah jalan pulang—pulang dari keterpecahan menuju keutuhan, dari kelalaian menuju kesadaran.

1. Puasa: Mengosongkan Diri untuk Diisi Cahaya

Secara lahiriah, puasa adalah menahan diri dari makan dan minum. Namun secara batiniah, ia adalah latihan mengosongkan diri. Kita mengosongkan perut agar hati terisi. Kita menahan lidah agar jiwa belajar diam. Kita membatasi dunia agar ruang bagi Tuhan menjadi lapang.

Dalam perspektif tasawuf, lapar bukan sekadar kondisi fisik, melainkan cermin kefakiran kita di hadapan Allah. Saat tubuh melemah, kesombongan ikut runtuh. Saat dahaga terasa, kita belajar bahwa yang paling kita butuhkan bukan hanya air, tetapi rahmat-Nya.

Ramadhan mengajarkan bahwa kekuatan bukan terletak pada seberapa banyak yang kita miliki, tetapi pada seberapa mampu kita menahan diri.

2. Waktu yang Disucikan

Tidak semua waktu memiliki rasa yang sama. Ramadhan adalah waktu yang diberkahi—malamnya dipenuhi doa, siangnya dihiasi kesabaran. Ia seperti taman spiritual yang dibuka hanya sebulan dalam setahun.

Di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam ketika langit seakan lebih dekat dengan bumi, dan doa-doa terasa lebih ringan untuk terbang menuju arsy.

Namun sufisme mengingatkan: kemuliaan waktu tidak otomatis memuliakan manusia. Yang mengubah kita bukan Ramadhannya, tetapi bagaimana kita hadir di dalamnya. Apakah kita hanya sibuk dengan menu berbuka dan agenda dunia? Ataukah kita benar-benar menjadikannya ruang untuk berdialog dengan Tuhan?

3. Membersihkan Cermin Hati

Para sufi sering mengibaratkan hati seperti cermin. Dosa dan kelalaian adalah debu yang menutupinya. Ramadhan adalah saat membersihkan cermin itu.

Dzikir menjadi kainnya. Taubat menjadi airnya. Tangis malam menjadi sabunnya.

Ketika cermin hati bersih, kita tidak hanya melihat diri sendiri dengan jujur, tetapi juga melihat tanda-tanda kebesaran Allah dalam segala hal—dalam lapar, dalam sabar, dalam keheningan sahur, dalam takbir yang menggema menjelang Idul Fitri.

4. Dari Ritual ke Transformasi

Tantangan generasi sekarang bukanlah kurangnya informasi tentang Ramadhan, tetapi kurangnya transformasi. Kita tahu hukum-hukumnya, hafal jadwalnya, bahkan merayakannya dengan meriah. Namun, apakah kita benar-benar berubah?

Ramadhan sejatinya bukan perayaan tahunan, melainkan revolusi batin. Ia mengajarkan:

- Kesederhanaan di tengah konsumtivisme.
- Kesabaran di tengah kecepatan.
- Keheningan di tengah kebisingan.
- Kepedulian di tengah individualisme.

Ketika kita berbuka, kita diingatkan pada mereka yang tidak pernah benar-benar kenyang. Ketika kita bangun sahur, kita diajak menyadari betapa rapuhnya diri ini tanpa pertolongan-Nya.

5. Menyambut dengan Kerendahan Hati

Menyambut Ramadhan bukan hanya dengan ucapan “Marhaban ya Ramadhan,” tetapi dengan niat memperbaiki diri. Dengan meminta maaf sebelum diminta. Dengan menata ulang prioritas. Dengan mengurangi dendam dan memperbanyak ampunan.

Sebab bisa jadi ini Ramadhan terakhir kita.

Kesadaran akan kefanaan membuat setiap tarawih terasa lebih khusyuk, setiap sujud terasa lebih panjang, setiap doa terasa lebih mendalam. Kita tidak lagi sekadar menjalankan ibadah, tetapi merindukannya.

Penutup: Ramadhan sebagai Jalan Cinta

Pada akhirnya, Ramadhan adalah bulan cinta—cinta Tuhan kepada hamba-Nya. Ia memberi kesempatan baru tanpa menanyakan masa lalu. Ia membuka pintu maaf tanpa syarat.

Maka menyambut Ramadhan berarti menyambut kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih utuh: lebih lembut, lebih sadar, lebih dekat kepada Allah.

Semoga ketika bulan itu berlalu, ia tidak hanya meninggalkan kenangan tentang takjil dan suasana malam, tetapi meninggalkan jejak cahaya dalam hati kita—cahaya yang tetap menyala bahkan setelah hilal tak lagi terlihat.

Marhaban ya Ramadhan. Semoga kita tidak hanya memasuki bulan suci, tetapi juga memasuki kedalaman diri. (*/)

(*/) Ustadz Arifin Albantani
Penulis merupakan penggiat keagamaan di Cilegon

#Opini
close