Tradisi Qunutan dan Ketupat di Tengah Masyarakat Banten: Antara Do'a dan Rasa

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Tradisi Qunutan dan Ketupat di Tengah Masyarakat Banten: Antara Do'a dan Rasa

Senin, 02 Maret 2026


Oleh Arifin Al Bantani

Di tanah Banten, agama bukan hanya dipeluk dalam keyakinan, tetapi juga dihidupkan dalam tradisi. Islam hadir bukan semata sebagai ajaran normatif, melainkan sebagai denyut kebudayaan yang menyatu dalam napas keseharian masyarakat. Di antara tradisi yang tumbuh dan lestari adalah qunutan dan perayaan ketupat—dua ekspresi kolektif yang memadukan spiritualitas dan sosialitas dalam satu harmoni.

Qunutan: Doa yang Menjadi Ruang Kebersamaan

Tradisi qunutan di Banten biasanya merujuk pada pembacaan doa qunut secara berjamaah—terutama pada momen-momen tertentu seperti pertengahan Ramadan pada saat mendirikan shalat tarawih atau dalam rangka memohon keselamatan bersama. Secara fikih, doa qunut dikenal dalam mazhab Syafi’i sebagai amalan yang dibaca dalam salat Subuh. Namun di Banten, qunut tidak berhenti sebagai praktik ritual individual; ia berkembang menjadi simbol solidaritas sosial.

Dalam perspektif pendidikan Islam, qunutan mengajarkan tiga nilai utama. Pertama, nilai tadharru’ (kerendahan hati di hadapan Tuhan). Doa qunut berisi permohonan hidayah, keselamatan, dan perlindungan—sebuah pengakuan bahwa manusia adalah makhluk yang lemah. Kedua, nilai kebersamaan. Ketika doa dipanjatkan bersama, lahir kesadaran kolektif bahwa keselamatan bukan hanya urusan pribadi, melainkan tanggung jawab komunal. Ketiga, nilai transmisi tradisi. Anak-anak yang berdiri di saf belakang, mendengar imam melafalkan doa dengan suara bergetar, sedang belajar tentang warisan iman yang hidup.

Secara sosiologis, qunutan memperlihatkan bagaimana agama berfungsi sebagai perekat sosial. Masjid bukan hanya ruang ibadah, tetapi pusat pembentukan karakter dan solidaritas. Di sinilah spiritualitas bertemu dengan pendidikan moral.

Ketupat: Simbol Kesucian dan Silaturahmi

Jika qunutan adalah ekspresi vertikal manusia kepada Tuhan, maka tradisi ketupat adalah ekspresi horizontal manusia kepada sesamanya. Di berbagai wilayah Banten, perayaan ketupat—sering dikaitkan dengan Lebaran Ketupat setelah Idulfitri dan juga Perayaan pertengahan Ramadhan—menjadi momentum mempererat silaturahmi dan sebagai bentuk Tahadduts bin ni’mah..

Ketupat sendiri bukan sekadar makanan. Anyaman janur yang membungkus beras mengandung simbol yang kaya makna. Dalam khazanah budaya Jawa-Banten, ketupat sering dimaknai sebagai ngaku lepat—mengakui kesalahan. Anyamannya yang rumit melambangkan kompleksitas kesalahan manusia, sementara isinya yang putih setelah dibuka melambangkan hati yang kembali bersih setelah saling memaafkan.

Dari sudut pandang edukatif, tradisi ketupat mengajarkan nilai rekonsiliasi dan empati. Masyarakat saling berkunjung, membawa hidangan, berbagi cerita. Anak-anak belajar bahwa kebahagiaan tidak lahir dari konsumsi semata, tetapi dari relasi yang hangat. Tradisi ini juga memperkuat identitas lokal; ia menjadi ruang di mana budaya dan agama berdialog tanpa saling menegasikan.

Harmoni Agama dan Budaya

Sejarah panjang Islam di Banten—yang pernah mencapai puncaknya pada masa Kesultanan Banten—menunjukkan bahwa dakwah berkembang melalui pendekatan kultural. Nilai-nilai Islam tidak dipaksakan secara kaku, melainkan ditanamkan melalui simbol, tradisi, dan praktik sosial yang akrab dengan masyarakat.

Qunutan dan ketupat adalah contoh nyata dari integrasi tersebut. Keduanya bukan bid’ah budaya yang terpisah dari agama, melainkan medium edukasi spiritual yang kontekstual. Tradisi menjadi jembatan agar ajaran tetap hidup dan relevan.

Dalam bahasa sastra, qunutan adalah lirih doa yang menembus langit Banten, sementara ketupat adalah senyum bumi yang menyambut manusia kembali pada fitrahnya. Keduanya mengajarkan bahwa keberagamaan tidak hanya diukur dari kekhusyukan individu, tetapi juga dari kepedulian sosial.

Penutup

Tradisi qunutan dan ketupat di tengah masyarakat Banten menghadirkan pelajaran penting bagi generasi masa kini: bahwa agama dan budaya dapat berjalan beriringan dalam harmoni. Qunutan membentuk kesadaran spiritual, sementara ketupat merawat ikatan sosial.
Di antara doa yang terangkat dan anyaman janur yang terikat, masyarakat Banten sedang merawat satu hal yang paling esensial: kebersamaan dalam iman dan kemanusiaan. (*/)

(*/) Ustadz Arifin Al Bantani 
Penulis merupakan pegiat keagamaan di Kota Cilegon

#Opini

close