Melihat Tradisi Qunutan pada Pertengahan Ramadah di Cilegon yang Tak Lekang Oleh Waktu

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Melihat Tradisi Qunutan pada Pertengahan Ramadah di Cilegon yang Tak Lekang Oleh Waktu

Minggu, 17 April 2022


CILEGON— Masyarakat Kota Cilegon dan sebagian daerah Provinsi Banten lainnya, mempunyai tradisi unik saat memasuki pertengahan bulan suci Ramadhan. Di mana sehari sebelum hari ke-15 bulan Ramadhan, warga di hampir setiap rumah sibuk membuat cangkang atau kulit ketupat.

Pada tradisi ini kulit ketupat yang harus terbuat dari dua bilah daun kelapa yang dianyam untuk membungkus ketupat sebelum di masak, dan setelah matang kemudian ketupat tersebut bersama lauk dan sayurnya berserta makanan pengiring lainnya dari setiap rumah yang dibawa warga ke masjid atau mushola terdekat untuk dikumpulkan dan dilakukan ritual riungan atau ngeriung. Lalu sesudahnya kembali dibagikan ke warga. Riungan ketupat ini ada yang dilakukan menjelang berbuka puasa ada juga yang ba'da Shalat Tarawih.

Sebelum dimulai, Ketua RT setempat tampak sedang mengatur jama'ah riungan kupat agar lebih tertib.

Pelaksanaan tradisi Kupat Qunutan ini dilakukan hampir di setiap masjid atau mushola yang ada di Cilegon. Seperti yang dilakukan warga Link. Priuk, Kelurahan Sukmajaya, Kecamatan Jombang, Kota Cilegon, pada Minggu (17/4/2022) malam.

Tokoh pemuda setempat, Arif Setiadi menjelaskan bahwa tradisi Kupat Qunutan ini sebagai ungkapan rasa syukur karena telah melewati separuh puasa atau hari ke-15. Acara ini sekaligus juga untuk mempersiapkan menyambut malam Nuzulul Qur'an dan Lailatul Qadar, agar masyarakat lebih semangat lagi dalam beribadah.

Selain orangtua, peserta riungan juga diikuti pemuda hingga anak-anak sebagai edukasi untuk bisa mempertahankan tradisi

"Ketupat ini nantinya akan dibawa ke masjid dan dibagikan kembali ke warga lalu dibawa pulang ke rumah yang nantinya akan disajikan bersama opor ayam dan daging atau sayur kulit melinjo," jelasnya.

Arif juga berencana akan mengadakan kegiatan sosial keagamaan lainnya di lingkungannya untuk menyemarakan bulan Ramadahan, bulan dpenuh rahmat, maghfirah dan itskum minannar. 

"Malam ini tradisi leluhur yang masih kita lestarikan seperti di lingkungan atau Kampung lainnya di Cilegon dan Serang. Besok malam untuk menyemarakan bulan yang penuh berkah ini, kami dari kepemudaan, DKM dan Risma bersama warga insya Allah akan menggelar Pawai Obor, sebagai ungakap syukur dan menyambut hari diturunkannya Al-Qur'an sebagai petunjuk kehidupan," bebernya.

Tidak hanya di Link. Priuk, di hamir di semua masjid dan mushala lainnya di Kota Cilegon juga terpantau masih menjaga tradisi yang konon sudah berabad-abad masih dijaga kelesatriannya oleh masyarakat.

Belum diketahui pasti sejak kapan tradisi kupat qunut ini berlangsung. Namun dari berbagai versi kisah, diceritakan bahwa tradisi ini sudah ada sejak jaman Kerajaan Islam atau Kesultanan Banten sebagai pusat penyebaran Agama Islam di Banten. (*red)

#SosialKeagamaan
close