Wong Cilegon Gelar Tradisi Padang Wulan, Warisan Budaya Nusantara yang Sarat Makna Spiritual

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Wong Cilegon Gelar Tradisi Padang Wulan, Warisan Budaya Nusantara yang Sarat Makna Spiritual

Minggu, 15 Februari 2026
Susana kebersamaan dalam serawung Padang Wulan di Kota Cilegon 



CILEGON – Pegiat seni budaya di Kota Cilegon kembali mengadakan Tradisi Padang Wulan, sebuah tradisi yang kembali menjadi perbincangan masyarakat sebagai salah satu warisan budaya Nusantara yang sarat nilai spiritual, kebersamaan, dan refleksi diri. Secara harfiah, Padang Wulan dimaknai sebagai malam yang terang oleh cahaya bulan purnama.

Di sejumlah daerah, tradisi ini diperingati dengan berkumpul bersama keluarga maupun masyarakat di ruang terbuka saat bulan purnama tiba. Momentum tersebut dimanfaatkan untuk doa bersama, pagelaran seni tradisional, hingga diskusi kebudayaan yang menghidupkan kembali nilai-nilai leluhur.

Sebagai bagian dari upaya merawat dan menghidupkan nilai-nilai budaya lokal di tengah masyarakat Kota Cilegon, Dewan Kebudayaan Kota Cilegon (DKKC) bersama Forum Wartawan Kebudayaan (FORWARD) menggelar kegiatan Padang Wulan yang dilaksanakan Sabtu (14/2/2026) malam.

Kegiatan yang berlangsung di Pendopo Rumah Dinas Wali Kota Cilegon ini dihadiri oleh para budayawan, seniman, wartawan, komunitas literasi, organisasi pemuda dan mahasiswa, serta masyarakat umum. Padang Wulan menjadi momentum refleksi bersama, menguatkan kembali identitas budaya sekaligus mempererat tali silaturahmi antar pelaku seni dan budaya.

Foto bersama, Usai acara Padang Wulan puluhan, pegiatan seni budaya dengan elemen masyarakat dari berbagai kalangan yang masih peduli dengan budaya

Ketua DKKC, Ayatullah Khumaeni, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Padang Wulan bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang batin untuk menyalakan kembali kesadaran kebudayaan.

“Di bawah cahaya bulan purnama, kita diingatkan untuk menerangi diri dengan nilai, etika, dan kearifan lokal,” ujarnya.

Kegiatan ini sekaligus menegaskan komitmen DKKC dalam membangun ekosistem kebudayaan yang inklusif, kolaboratif, dan berkelanjutan di Kota Cilegon. Padang Wulan pun rencananya akan menjadi agenda rutin yang mampu menghadirkan ruang dialog kebudayaan serta memperkuat peran budaya sebagai fondasi pembangunan daerah.

"Insya Allah akan rutin dilaksanakan setiap satu bulan sekali di Rumah Dinas. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa di tengah gemerlap modernitas, cahaya bulan purnama tetap menyinari nilai-nilai kebersamaan, kesederhanaan, dan spiritualitas yang tak lekang oleh waktu," tandasnya.

Sementara itu Ketua Forum Wartawan Kebudayaan (FORWARD), Rizal Arif Baihaqi menyampaikan, Padang Wulan bukan sekadar peristiwa alam, melainkan simbol penerangan batin. “Cahaya bulan menjadi perlambang harapan, ketenangan, dan ajakan untuk merefleksikan diri,” ujarnya.

Di era modern, lanjutnya, Padang Wulan mulai dikemas lebih kreatif dengan sentuhan seni dan wisata budaya. Generasi muda dilibatkan dalam kegiatan literasi budaya, diskusi sejarah, hingga pertunjukan seni budaya. Hal ini menjadi upaya konkret menjaga eksistensi tradisi agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

"Dengan semakin tingginya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian budaya lokal, Padang Wulan diharapkan tidak hanya menjadi ritual seremonial, tetapi juga ruang memperkuat identitas dan jati diri bangsa," tutupnya.

Rangkaian acara Padang Wulan diawali dengan hadorot, yang dipimpin oleh Ustadz Sadeli, menghadirkan lantunan shalawat yang menguatkan nuansa spiritual dan tradisi keislaman khas Banten. Suasana khidmat terasa ketika peserta larut dalam irama pujian yang sarat makna religius.

Agenda dilanjutkan dengan diskusi budaya bertema “Munggahan dalam Perspektif Budaya Banten dan Keislaman," yang menghadirkan Budayawan Banten, Abah Yadi dan KH Muktillah yang merupakan Ulama sekaligus Dewan Penasehat DKKC.

Diskusi ini mengupas tradisi munggahan sebagai momentum penyucian diri menjelang Ramadan, yang tidak hanya dimaknai sebagai ritual makan bersama, tetapi juga sarana mempererat silaturahmi dan memperkuat nilai keimanan.

Kemeriahan semakin terasa dengan penampilan musik dari Komunitas Penyanyi Jalanan (KPJ) Cilegon yang membawakan lagu-lagu bernuansa sosial dan kebersamaan. Sentuhan musik menghadirkan suasana hangat dan membumi.

Sebagai simbol kebersamaan, peserta kemudian menikmati makan bersama dengan hidangan rabeg, kuliner khas Banten yang kaya rempah dan sarat filosofi kebersamaan. Tradisi makan bersama ini menjadi penegas bahwa budaya bukan sekadar wacana, melainkan praktik hidup sehari-hari.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama, memohon keberkahan serta memperkuat tekad menjaga harmoni budaya dan nilai keislaman di tengah masyarakat. Melalui Padang Wulan, DKKC berharap kebudayaan tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan dalam kehidupan bermasyarakat.

Pemilihan Rumah Dinas sebagai lokasi acara merupakan langkah konkret pemberdayaan ruang dan bangunan cagar budaya, yang memiliki nilai historis serta simbolik bagi daerah. Selain menjadi pusat aktivitas pemerintahan, bangunan tersebut juga diposisikan sebagai ruang kebudayaan yang hidup, tempat dialog, refleksi, dan penguatan identitas lokal.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjadikan ruang-ruang strategis daerah sebagai episentrum kegiatan budaya.

Kegiatan ini juga dihadiri berbagai tokoh dan elemen masyarakat, di antaranya Abah Sancang dari Masyarakat Adat Lebak Cibedug sekaligus pimpinan Padepokan Putra Leluhur, Deden Sunandar atau Kang Aden selaku Pimpinan Yayasan Mengetuk Pintu Langit, Ustadz Sunardi selaku Dewan Penasehat DKKC, Eric Islami, Direktur LPPL Radio Mandiri, serta Roni Denero selaku Ketua Kawan Robinsar (KAISAR).

Hadir pula Sohihul Hadis, Ketua Forum Pemuda Cilegon, Pemimpin Umum Gen Cilegon, Kalipha Umara Aruma, Pudji Hartoyo, Ketua Sahabat Kota Cilegon, Ari Irmawan selaku Ketua KNPI Kota Cilegon, Erza Erdiansyah selaku Ketua Gerakan Pramuka Kwarcab Kota Cilegon, Tokoh Pers Banten, Rapih Herdiansyah, serta Ibu Evi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Cilegon.

Kehadiran lintas organisasi, agama, pemuda, mahasiswa, pers, seni budaya, pemerintahan, hingga organisasi kemasyarakatan menunjukkan bahwa Padang Wulan bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang temu gagasan dan kolaborasi lintas generasi.

Dengan semangat kebersamaan, Padang Wulan #1 menjadi penanda bahwa budaya dapat menjadi titik temu seluruh elemen masyarakat, merawat tradisi, memperkuat identitas, dan meneguhkan Cilegon sebagai kota yang berdaya secara kultural. (*/red)

#Kebudayaan
close