Ustadz Arifin. Albantani
Oleh Arifin Al Bantani
Di madrasah, suara bukan sekadar bunyi. Ia adalah jejak. Setiap kali istifalan dilantunkan, teks bergerak dari ingatan menuju lisan, lalu menetap di kesadaran. Di ruang-ruang sederhana itulah ilmu tidak hanya dipelajari, tetapi dijaga—dengan kesabaran dan ketekunan.
Istifalan menuntut pengulangan, dan pengulangan menuntut kerendahan hati. Tidak semua hafalan datang dengan mudah. Ada bait yang tersendat, kata yang tertukar, jeda yang terasa canggung. Namun justru di sanalah proses belajar menemukan maknanya: menerima koreksi tanpa merasa runtuh, memberi ruang bagi diam sebelum pemahaman tumbuh. Istifalan mengajarkan bahwa salah bukan lawan dari belajar, melainkan pintunya.
Di hadapan guru, suara ditata dan tubuh dijaga. Tidak ada teriakan, tidak ada tergesa. Adab hadir lebih dulu, mendahului makna yang perlahan dipahami. Madrasah tidak hanya membentuk kecakapan berpikir, tetapi juga cara bersikap. Menghafal di sini bukan semata mengingat teks, melainkan merawat hubungan—antara murid dan guru, antara masa kini dan masa lalu.
Waktu terus bergerak. Dunia menghendaki kecepatan, hasil instan, dan pemahaman yang serba ringkas. Di tengah arus itu, istifalan kerap dipertanyakan. Ia dianggap lambat, kuno, bahkan membebani. Anggapan itu tidak sepenuhnya keliru. Tradisi dapat kehilangan nyawa jika hanya dijalankan sebagai rutinitas. Hafalan dapat menjadi kosong jika tak disertai perenungan.
Justru karena itu, istifalan perlu dipertahankan dengan kesadaran baru. Ia mengajarkan sesuatu yang kian langka: kesediaan untuk tinggal lebih lama dalam proses. Ilmu tidak selalu hadir sebagai pencerahan yang tiba-tiba, melainkan sebagai suara yang diulang-ulang hingga menyatu dengan diri.
Dalam setiap lafalan, terjalin hubungan dengan mereka yang pernah berdiri di posisi yang sama—para santri dan ulama yang melafalkan teks serupa, dalam sunyi dan kesungguhan. Ada mata rantai yang tak kasatmata, namun kuat. Madrasah, melalui istifalan, menjaga mata rantai itu agar tidak putus oleh zaman.
Akhirnya, istifalan adalah latihan melawan lupa. Bukan hanya lupa pada teks, tetapi lupa pada nilai. Ia mengingatkan bahwa belajar adalah kerja sunyi, dan kesunyian itulah yang memberi kedalaman. Di tengah dunia yang bising, suara istifalan tetap pelan—namun justru karena itu, ia bertahan.
Dengan demikian, budaya istifalan di madrasah bukanlah relik masa lalu, melainkan praktik hidup yang relevan untuk masa depan. Ia mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya untuk diketahui, tetapi untuk dihayati; bukan sekadar dipahami, tetapi dijaga dengan adab. Tantangan zaman justru menuntut madrasah untuk merawat istifalan secara kreatif—agar tradisi tetap bernapas, dan pendidikan tetap berakar sekaligus menjulang.
Tujuan besar pendidikan bukanlah PENGETAHUAN, melainkan TINDAKAN (*/)
(*/) Ustadz Arifin Al-Bantani
Penulis adalah praktisi agama yang aktif di Kota Cilegon.
#Opini
Komentar