Ketua Yayasan Bagimu Negeri, Hasidi
CILEGON— Wilayah Kelurahan Pabean, Kecamatan Purwakarta, Kota Cilegon, Banten, yang selama ini dikenal sebagai salah satu kantong pertanian potensial, kini menghadapi ancaman serius. Lahan-lahan produktif yang menjadi sumber penghidupan warga perlahan menyempit, seiring munculnya rencana pembangunan jalan tembus yang menghubungkan Lingkungan Pabean dengan Gempol Kulon.
Isu ini bukan sekadar soal infrastruktur. Di baliknya, tersimpan kekhawatiran mendalam tentang masa depan pertanian dan keberlangsungan ruang hidup warga.
Rencana pembangunan jalan yang disebut akan menerobos area persawahan dinilai berpotensi menggerus lahan produktif. Jika hal ini benar terjadi, bukan tidak mungkin kawasan tersebut akan mengalami alih fungsi menjadi permukiman. Dampaknya, generasi mendatang—anak cucu warga Pabean—terancam kehilangan akses terhadap lahan pertanian yang selama ini menjadi identitas sekaligus sumber ekonomi masyarakat.
Padahal, potensi pertanian di wilayah ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Tanaman palawija, khususnya cabai rawit (cengek), terbukti mampu tumbuh subur dengan hasil yang menjanjikan. Program pembinaan yang dilakukan oleh Hasidi, Ketua Yayasan Bagimu Negeri, menjadi salah satu bukti konkret bahwa sektor pertanian di Pabean masih sangat layak dikembangkan, bukan justru dikorbankan.
“Ini bukan hanya soal lahan, tapi soal masa depan. Kalau sawah terus menyempit, anak cucu kita mau makan apa?” demikian kegelisahan yang disampaikan Hasidi, Selasa 24 Maret 2026.
"Pemerintah juga wajib menjalankan UU Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Aluh Fungsi Lahan Pertanian," sambungnya.
Lebih jauh, pembangunan jalan yang tidak mempertimbangkan aspek lingkungan juga dikhawatirkan memicu persoalan baru. Sistem drainase yang tidak terencana dengan baik dapat mengganggu aliran air alami, meningkatkan risiko genangan hingga banjir di kemudian hari.
Karena itu, warga berharap pemerintah tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Pembangunan jalan tembus seharusnya dirancang lebih bijak dan fleksibel—misalnya dengan mengikuti alur sungai yang sudah ada. Selain menjaga keseimbangan ekosistem, pendekatan ini juga dinilai mampu meminimalisir dampak negatif terhadap lahan pertanian.
Pembangunan memang penting, namun tanpa perencanaan yang matang, ia bisa berubah menjadi ancaman. Pabean hari ini sedang berada di persimpangan: antara mempertahankan warisan pertanian atau menyerah pada laju betonisasi.
Pemerintah diharapkan tidak hanya melihat jalan sebagai penghubung wilayah, tetapi juga mempertimbangkan apa yang mungkin terputus karenanya—ruang hidup, ketahanan pangan, dan masa depan generasi. (*/red)
#Ekonomi
Komentar