Oleh Arifin Al Bantani
Abstrak
Ubar pamali merupakan tradisi lisan yang berfungsi sebagai pengendali etika dan perilaku sosial dalam masyarakat Banten. Artikel ini secara khusus mengkaji keberadaan dan transformasi ubar pamali dalam masyarakat Kota Cilegon, sebuah wilayah yang mengalami perubahan cepat akibat industrialisasi dan urbanisasi. Dengan pendekatan kualitatif-deskriptif bernuansa sastra-budaya, tulisan ini menempatkan ubar pamali sebagai teks kultural yang merekam relasi manusia dengan alam, ruang sosial, dan spiritualitas lokal.
Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun mengalami pergeseran makna, ubar pamali masih menyimpan relevansi sebagai sumber kearifan lokal dan etika sosial dalam konteks kota industri.
Pendahuluan
Kota Cilegon dikenal secara nasional sebagai pusat industri baja dan pelabuhan strategis di Provinsi Banten. Identitas ini sering kali menutupi lapisan budaya lokal yang telah hidup jauh sebelum pabrik, pelabuhan, dan kawasan industri hadir. Di balik citra modern tersebut, masyarakat Cilegon menyimpan tradisi lisan yang menjadi fondasi etika sosial, salah satunya adalah ubar pamali.
Sebagai tradisi lisan, ubar pamali diwariskan melalui tuturan orang tua dan sesepuh kampung, terutama di wilayah-wilayah yang masih mempertahankan pola hidup komunal.
Tradisi ini berfungsi sebagai sarana pendidikan nilai tanpa institusi formal, membentuk karakter masyarakat melalui larangan simbolik yang berakar pada pengalaman kolektif.
Ubar Pamali dan Lanskap Sosial Cilegon
Secara geografis, Cilegon berada di persimpangan laut, jalur perdagangan, dan kawasan perbukitan. Kondisi ini melahirkan beragam pamali yang berkaitan dengan ruang dan waktu. Larangan bermain ke pantai saat senja, misalnya, hidup di kampung-kampung pesisir seperti Pulomerak dan Anyer bagian timur. Pamali ini merefleksikan pengetahuan lokal tentang perubahan arus laut dan risiko keselamatan.
Di wilayah perkampungan yang dahulu dekat dengan ladang dan kebun, pamali terkait tanah dan pohon juga kuat. Menebang pohon sembarangan atau berbicara kasar di tempat sepi dianggap pamali. Dalam konteks ini, pamali menjadi bentuk kesadaran ekologis dan penghormatan terhadap ruang hidup bersama.
Dimensi Sastra Lisan dan Estetika Tuturan
Ubar pamali di Cilegon hadir dalam bahasa Sunda Banten yang lugas dan bernuansa afektif. Tuturan “ulah kitu, pamali” atau “tong ngalawan pamali kolot” tidak hanya menyampaikan larangan, tetapi juga menghadirkan otoritas moral penutur. Kalimat tersebut bekerja sebagai teks lisan yang memproduksi kepatuhan melalui rasa hormat dan takut akan konsekuensi simbolik.
Dari perspektif sastra lisan, pamali bersifat performatif: maknanya tidak terletak pada teks semata, tetapi pada konteks pengucapan, relasi sosial, dan situasi budaya. Setiap larangan menjadi fragmen narasi kolektif tentang bagaimana masyarakat Cilegon memahami batas, bahaya, dan kepantasan.
Spiritualitas Lokal dan Etika Kehidupan Sehari-hari
Cilegon sebagai bagian dari Banten memiliki tradisi keislaman yang kuat, termasuk pengaruh tarekat dan penghormatan terhadap tokoh agama. Dalam konteks ini, ubar pamali berfungsi sebagai pelengkap nilai-nilai religius. Ia mengajarkan adab sebelum hukum, kebiasaan sebelum aturan formal.
Pamali tidak diposisikan sebagai doktrin teologis, melainkan sebagai praktik etika sehari-hari. Melalui pamali, masyarakat diajarkan untuk menjaga ucapan, sikap, dan relasi sosial. Spiritualitas lokal ini menjadikan pamali sebagai jembatan antara nilai agama dan kearifan tradisional.
Industrialiasi dan Pergeseran Makna Pamali
Perkembangan industri di Cilegon membawa perubahan signifikan dalam struktur sosial. Pola hidup komunal perlahan bergeser menjadi individual, sementara ruang-ruang tradisional terdesak oleh kawasan industri. Dalam situasi ini, ubar pamali mengalami reduksi makna dan fungsi.
Generasi muda yang tumbuh dalam lingkungan urban lebih akrab dengan aturan formal daripada larangan simbolik. Pamali sering dianggap irasional dan tidak relevan. Namun, hilangnya pamali juga berarti hilangnya bahasa kultural yang selama ini mengajarkan batas dan tanggung jawab sosial.
Reinterpretasi Ubar Pamali dalam Konteks Kota Industri
Alih-alih ditinggalkan, ubar pamali dapat direinterpretasi sebagai etika pembangunan lokal. Dalam konteks Cilegon, pamali dapat dibaca sebagai kritik kultural terhadap eksploitasi ruang, alam, dan manusia. Larangan simbolik yang dahulu mengatur perilaku individu dapat dimaknai ulang sebagai kesadaran kolektif dalam pembangunan berkelanjutan.
Dengan pendekatan ini, ubar pamali tidak lagi berdiri sebagai kepercayaan mistis, melainkan sebagai sumber nilai budaya yang relevan untuk pendidikan karakter dan pelestarian identitas lokal.
Penutup
Ubar pamali dalam masyarakat Cilegon merupakan warisan budaya yang merekam cara masyarakat lokal memahami dunia sebelum modernitas hadir. Sebagai sastra lisan, ia menyimpan nilai etika, ekologis, dan spiritual yang tetap relevan di tengah kota industri.
Kajian ini menunjukkan bahwa pelestarian ubar pamali tidak harus dilakukan melalui pewarisan literal, melainkan melalui pemaknaan ulang yang kontekstual. Dengan demikian, Cilegon tidak hanya dikenal sebagai kota baja, tetapi juga sebagai ruang budaya yang memiliki ingatan dan kebijaksanaan lokal.
Dahulukan akhlaq/attitude mu daripada pendapatmu tentang Fiqih ...(*/)
(*/) Ustadz Arifin Al-Bantani
Penulis merupakan aktifis keagamaan di Cilegon
#Opini
Komentar