Oleh: Arifin Al Bantani
Demi masa.
Demikian Allah bersumpah dalam Q.S. Al-‘Ashr ayat 1. Sebuah sumpah yang agung, sebab yang bersumpah adalah Dia Yang Maha Awal dan Maha Akhir, Yang tidak terikat oleh ruang dan waktu, namun justru menjadikan waktu sebagai saksi atas perjalanan makhluk-Nya. Allah tidak menerangkan secara rinci kapan dan bagaimana masa itu bermula, tetapi sumpah-Nya menjadi isyarat bahwa waktu bukan sekadar detik yang berlalu, melainkan rahasia kosmik yang mengandung makna keberadaan.
Segala sesuatu bermula bukan dari waktu, melainkan dari kehendak. Dalam khazanah tasawuf dikenal ungkapan suci: “Aku adalah Khazanah Tersembunyi. Aku berkehendak untuk dikenal, maka Aku ciptakan makhluk.” Dari hasrat ilahiah untuk dikenal itulah semesta tersibak, bukan sebagai kebetulan, melainkan sebagai tajalli—penyingkapan Diri-Nya.
Maka masa awal-mula kejadian pun terhampar melalui tujuh martabat alam: Ahadiyah, Wahdah, Wahidiyah, Alam Arwah, Alam Mitsal, Alam Ajsam, hingga mencapai puncaknya pada Alam Insan Kamil. Setiap martabat bukan sekadar tingkatan kosmologis, tetapi juga fase kesadaran dan penyingkapan makna wujud.
Tujuh martabat alam ini beririsan dengan empat alam besar: Lahut, Jabarut, Malakut, dan Nasut. Alam Ahadiyah, Wahdah, dan Wahidiyah beririsan dengan Lahut—alam keesaan mutlak, tempat segala nama dan sifat belum terpisah. Alam Arwah beririsan dengan Jabarut, wilayah kekuasaan ruhani. Alam Mitsal beririsan dengan Malakut, alam citra dan makna. Sedangkan Alam Ajsam dan Insan Kamil beririsan dengan Nasut, alam jasmani dan kemanusiaan.
Irisan ketiga alam terakhir inilah yang disebut dunia—dunya—sebuah masa fana yang menjadi panggung ujian. Dunia bukan tujuan, melainkan lintasan. Ia adalah ruang perjumpaan antara langit dan tanah, antara ruh dan jasad, antara potensi ilahi dan kecenderungan kebinatangan.
Dalam konteks ini, Alam Insan Kamil memiliki dua fase: fase insan biasa dan fase insan paripurna. Tidak setiap manusia mencapai paripurna. Manusia dimuliakan, diangkat derajatnya, bahkan dijadikan cermin sifat-sifat Ilahi. Namun ketika ia lebih menuruti nafsu kebinatangan, ia jatuh ke derajat paling rendah: “Tsumma radadnahu asfala sรขfilรฎn.” Kemuliaan tanpa kesadaran hanya akan melahirkan kejatuhan.
Untuk mencapai derajat Insan Kamil, manusia tidak menempuh jalan ramai. Ia berjalan di Jalan Sunyi, melalui tujuh pintu batin: Jasad, Nafsu, Akal-Budi, Ruh, Sir, Nur, hingga Hayyu. Setiap pintu menuntut pelepasan, penyucian, dan kejujuran eksistensial. Dari tubuh yang ditundukkan, nafsu yang dijinakkan, akal yang diterangi budi, ruh yang disadarkan, rahasia yang dibuka, cahaya yang memancar, hingga kehidupan sejati yang berdenyut oleh Nama-Nya Yang Maha Hidup.
Pada akhirnya, demi masa yang terus mengalir, manusia diuji: apakah ia sekadar menjadi bagian dari arus dunia yang fana, ataukah menjadikan waktu sebagai tangga pulang. Sebab masa bukan musuh, melainkan saksi. Ia akan bersaksi apakah manusia mengkhianati amanah keinsanannya, atau justru menjelma cermin yang memantulkan kembali cahaya Sang Khazanah Tersembunyi. (*/)
(*/) Ustadz Arifin Albantani
Penulis merupakan aktivis keagamaan di Kota Cilegon
#Opini
Komentar