Oleh Arifin Al Bantani
Setiap Nisfu Sya’ban, langit seakan dipaksa menjadi saksi kesalehan massal. Doa dibaca panjang, masjid penuh, dan media sosial ramai kutipan tentang ampunan Allah. Namun justru di sinilah ironi terbesar muncul: kita sangat yakin Allah Maha Pengampun, tapi sangat enggan berubah. Nisfu Sya’ban pun perlahan berubah fungsi—dari momentum taubat menjadi alibi spiritual.
Kita datang dengan dosa yang sama seperti tahun lalu, dengan niat yang sama lemahnya, dan pulang dengan rasa aman palsu: “Yang penting sudah berdoa.”
Kesalehan yang Ribut, Akhlak yang Sunyi
Nisfu Sya’ban sering dirayakan dengan suara—zikir keras, bacaan panjang, seremoni kolektif. Tapi ada satu hal yang nyaris tidak terdengar: keheningan nurani. Tidak ada kegelisahan yang cukup dalam tentang kebohongan yang kita rawat, kezaliman kecil yang kita normalisasi, atau luka orang lain yang kita anggap sepele.
Kita sibuk bertanya, “Amalan apa yang paling besar pahalanya?”
Tapi jarang bertanya, “Dosa apa yang paling keras menutup pintu ampunan?”
Padahal pesan moral Nisfu Sya’ban justru brutal dalam kesederhanaannya: Allah menangguhkan ampunan bagi orang yang masih memelihara permusuhan, kesombongan, dan kezaliman. Bukan karena kurang ibadah, tetapi karena rusak akhlaknya.
Tuhan Tidak Bisa Disuap dengan Ritual
Ada pola keberagamaan yang berbahaya di masyarakat kita: ritual dijadikan alat tawar-menawar dengan Tuhan. Seolah dosa bisa dinegosiasikan dengan jumlah rakaat, dan kezaliman bisa ditebus dengan bacaan tertentu. Nisfu Sya’ban sering terjebak dalam logika ini—seakan ia adalah “malam diskon dosa”.
Padahal Tuhan tidak butuh ritual kita. Yang Dia tuntut adalah kejujuran. Dan kejujuran itu menyakitkan, karena ia menelanjangi kepalsuan iman: rajin berdoa tapi culas dalam transaksi, fasih zikir tapi bengis di media sosial, menangis di sajadah tapi kering empati.
Jika ibadah tidak membuat seseorang lebih adil, lebih rendah hati, dan lebih bertanggung jawab, maka itu bukan kesalehan—itu kosmetik spiritual.
Nisfu Sya’ban Menggugat, Bukan Menenangkan
Nisfu Sya’ban seharusnya bukan malam yang menenangkan, melainkan malam yang mengganggu tidur nurani. Ia datang bukan untuk membuat kita merasa “sudah cukup baik”, tetapi untuk menyadarkan betapa jauhnya kita dari standar moral Islam yang sesungguhnya.
Muhasabah sejati bukan menghitung dosa abstrak, tetapi berani mengakui:
- siapa yang kita zalimi dan belum kita minta maaf,
- kekuasaan kecil apa yang kita salahgunakan,
- dan kepentingan pribadi apa yang kita lindungi dengan dalih agama.
Tanpa keberanian ini, Nisfu Sya’ban hanya menjadi teater religius tahunan—indah di luar, kosong di dalam.
Dari Ampunan ke Tanggung Jawab
Islam tidak pernah mengajarkan taubat yang murah. Ampunan selalu disandingkan dengan tanggung jawab moral. Maka Nisfu Sya’ban bukan puncak spiritualitas, melainkan awal interogasi diri: apakah kita siap meninggalkan dosa yang sama besok pagi?
Jika tidak, maka doa kita hanyalah pengulangan kata tanpa komitmen. Kita tidak sedang bertaubat—kita hanya menunda perubahan dengan bahasa agama.
Penutup: Malam yang Tidak Bisa Dibohongi
Nisfu Sya’ban tidak bisa ditipu dengan keramaian. Ia membaca isi hati, bukan isi agenda masjid. Ia tidak terkesan oleh panjang doa, tetapi oleh keberanian untuk berubah.
Malam ini bukan tentang seberapa banyak kita memohon ampun, tetapi seberapa jujur kita mengakui bahwa kita bersalah—dan seberapa serius kita berhenti mengulanginya.
Jika setelah Nisfu Sya’ban kita masih nyaman menjadi orang yang sama, maka yang kita rayakan bukan malam pengampunan, melainkan malam pembenaran diri.
Dan itulah kegagalan spiritual yang paling halus—dan paling berbahaya. (*/)
(*/) Ustadz Arifin Albantani
Penulis merupakan pegiat keagamaan di Kota Cilegon
#Opini
Komentar