Oleh: Arifin Al Bantani
Di ambang Idul Fitri, manusia berbondong-bondong pulang—namun para pejalan batin tahu, tidak semua yang bergerak itu kembali, dan tidak semua yang sampai itu tiba.
Mudik, dalam pandangan lahir, adalah perjalanan menuju rumah. Tetapi dalam napas tasawuf yang bertauhid, ia adalah perjalanan dari “aku” menuju “Engkau”—dari bayang menuju sumber cahaya, dari banyak menuju Yang Esa.
Bukankah sejak awal, manusia telah diusir dari kelalaian menuju kesadaran? Ia dilahirkan bukan sekadar untuk hidup, tetapi untuk mengingat. Namun dunia dengan gemerlapnya meninabobokan, menjadikan hati sibuk menghitung selain-Nya. Maka mudik adalah panggilan sunyi: pulanglah, sebelum tubuhmu benar-benar dipulangkan.
Jalaluddin Rumi pernah mengisyaratkan, bahwa segala rindu adalah gema dari perpisahan pertama. Dalam tasawuf ketauhidan, rindu itu bukan sekadar rasa—ia adalah bukti bahwa jiwa mengenal asalnya. Ia gelisah bukan karena dunia kurang, tetapi karena selain-Nya terlalu banyak memenuhi ruang hati.
Di jalan yang padat, di peluh yang menetes, di lelah yang merayap—seorang salik melihat tanda: bahwa perjalanan pulang tidak pernah mudah. Sebab yang harus ditinggalkan bukan hanya jarak, tetapi juga diri yang penuh ilusi. Ego adalah kampung yang paling sulit ditinggalkan, dan nafsu adalah rumah yang paling sering disalahpahami sebagai tempat pulang.
Mudik sufistik adalah fana—lenyapnya “aku” dalam kesadaran akan Yang Tunggal. Ketika seseorang berkata, “aku pulang,” sesungguhnya ia sedang diajak untuk berhenti berkata “aku.” Karena dalam tauhid, tidak ada yang benar-benar kembali selain Dia yang selalu ada.
Maka setiap permohonan maaf dalam tradisi itu sejatinya adalah pengakuan: bahwa selama ini kita terlalu banyak hidup sebagai diri yang terpisah. Kita meminta maaf bukan hanya kepada sesama, tetapi kepada kebenaran yang kita abaikan. Kita memaafkan bukan hanya orang lain, tetapi bayangan diri yang pernah kita anggap nyata.
Di titik terdalam, mudik bukan lagi gerak, melainkan tenggelam. Bukan lagi perjalanan, melainkan penyaksian. Bahwa tiada rumah selain Dia, tiada tujuan selain Dia, tiada keberadaan selain Dia.
Dan ketika semua penat telah luruh, semua identitas telah gugur, semua arah telah lebur—yang tersisa hanyalah satu kesadaran yang jernih: bahwa sejak awal, tidak pernah ada jarak antara hamba dan Tuhannya, selain tabir yang ia ciptakan sendiri.
Maka wahai jiwa yang merindu, jangan tunggu jalanan lengang untuk pulang. Pulanglah kini—dengan meninggalkan dirimu, dan menemukan Dia dalam setiap detak yang selama ini kau kira milikmu.
Karena dalam tauhid yang sejati, mudik bukanlah kembali ke tempat asal—melainkan sadar bahwa tak pernah ada tempat lain selain Dia. (*/)
(*/) Ustadz Arifin Albantani
Penulis merupakan kegiatan keagamaan di Kota Cilegon
#Opini
Komentar