Oleh: M. Ibrohim Aswadi
Kota Cilegon selama ini dikenal sebagai daerah yang subur dan kaya akan investasi. Deretan industri besar, pembangunan yang masif, serta nilai investasi yang terus meningkat menjadi simbol pertumbuhan ekonomi yang menjanjikan.
Namun di balik itu semua, realitas yang dirasakan masyarakat masih jauh dari mimpi dan harapan. Kekayaan yang ada belum sepenuhnya menghadirkan kesejahteraan yang merata. Lapangan kerja yang terbatas, kesenjangan sosial, kemiskinan yang menjadi tanda bahwa pembangunan belum sepenuhnya berpihak pada rakyat.
Ironisnya, data justru menunjukkan arah yang mengkhawatirkan. Tingkat pengangguran di Kota Cilegon mengalami kenaikan, dari 6,08 persen menjadi 7,41 persen. Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa derasnya investasi belum mampu menyerap tenaga kerja secara optimal, khususnya bagi masyarakat lokal.
Akibatnya, mimpi-mimpi besar yang digaungkan perlahan berubah menjadi delusi di tengah masyarakat. Harapan akan kehidupan yang lebih baik dan sejahtera seolah hanya menjadi wacana, narasi bahkan mungkin hanya menjadi itung itungan statistik ansih, tanpa kehadiran nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah kondisi ini, muncul kesadaran bahwa pembangunan tidak bisa hanya bergantung pada investasi semata. Masyarakat Cilegon harus menjadi subjek aktif diberbagai bidang, bukan sekadar objek dalam arus pembangunan.
Keterlibatan warga dalam berbagai sektor baik ekonomi, sosial, maupun pengawasan kebijakan menjadi kunci agar pembangunan benar-benar memberi dampak yang adil dan berkelanjutan.
Sudah saatnya masyarakat tidak hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri. Dengan partisipasi aktif, keberanian menyuarakan aspirasi, serta peningkatan kapasitas diri, rakyat Cilegon dapat mengambil peran penting dalam memastikan bahwa setiap investasi yang masuk benar-benar membawa manfaat nyata.
Ke depan, keberhasilan Cilegon tidak hanya diukur dari besarnya investasi, tetapi dari sejauh mana masyarakatnya ikut tumbuh, berdaya, dan merasakan hasil pembangunan tersebut.
Jika tidak, maka Cilegon akan terus dikenal sebagai kota yang kaya secara angka, namun miskin dalam mewujudkan mimpi rakyatnya sendiri. (*/)
Cilegon, 15 April 2026
(*/) M. Ibrohim Aswadi
Pemerhati Sosial Masyarakat Kota Cilegon
#Opini
Komentar