Menagih Wajah Manusiawi dalam Kesehatan Perkotaan

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Menagih Wajah Manusiawi dalam Kesehatan Perkotaan

Kamis, 07 Mei 2026



​Oleh: Arifin Al Bantani


​Di tengah ambisi digitalisasi layanan medis dan modernisasi rumah sakit, kita sering kali melupakan satu hakikat dasar: keberhasilan sistem kesehatan tidak diukur dari seberapa canggih alat pacu jantung di ruang operasi, melainkan dari seberapa sedikit warga yang harus mengantre di sana. Saat ini, wajah kesehatan masyarakat kita masih terjebak dalam paradigma kuratif yang reaktif. Kita lebih sibuk "memadamkan api" penyakit daripada membangun fondasi ketahanan warga.

​Kesehatan masyarakat, pada refleksi terdalamnya, bukan sekadar urusan medis. Ia adalah sebuah kontrak sosial dan politik. Di wilayah urban seperti Cilegon dan kota-kota industri lainnya, tantangan kesehatan tidak lagi hanya soal kuman dan virus, melainkan soal bagaimana tata kota, kualitas udara, dan ruang terbuka hijau berinteraksi dengan kesejahteraan manusia.

​Paradigma Pencegahan yang Terpinggirkan

​Salah satu tantangan terbesar dalam memajukan kesehatan masyarakat adalah sifatnya yang "tak terlihat". Efektivitas kesehatan masyarakat diukur dari apa yang tidak terjadi—tidak adanya wabah, terkendalinya angka stunting, atau menurunnya penderita diabetes. Sayangnya, secara politis, investasi pada pencegahan sering kali dianggap kurang menarik karena hasilnya tidak instan.

​Namun, secara ekonomi, mencegah satu kasus penyakit kronis melalui kebijakan lingkungan yang sehat jauh lebih efisien daripada membiayai perawatan komplikasi seumur hidup yang membebani APBN dan APBD. Kita perlu bergeser dari sekadar "mengobati yang sakit" menjadi "merawat yang sehat".

​Kesehatan sebagai Produk Lingkungan
​Kesehatan seseorang sering kali lebih ditentukan oleh "kode pos" tempat mereka tinggal daripada kode genetik mereka. Inilah yang kita sebut sebagai Determinan Sosial Kesehatan.
​Sanitasi dan Air Bersih: Tanpa akses air bersih, edukasi kesehatan akan lumpuh di hadapan diare dan penyakit kulit.

​Ruang Publik: Ketersediaan trotoar yang layak jalan dan taman kota bukan sekadar estetika, melainkan infrastruktur pencegahan penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi dan obesitas.

​Literasi Masyarakat: Di era infodemi, kemampuan warga memilah informasi kesehatan menjadi benteng pertama pertahanan komunitas.

​Forum Kota Sehat: Menuju Kolaborasi Pentahelix

​Sebagai penggerak di Forum Kota Sehat, saya melihat bahwa kesehatan masyarakat adalah kerja kolaborasi. Ia tidak bisa hanya dibebankan pada pundak Dinas Kesehatan. Ia membutuhkan tangan Dinas Pekerjaan Umum untuk sanitasi, Dinas Lingkungan Hidup untuk kualitas udara, hingga sektor swasta melalui tanggung jawab sosialnya.

​Kota sehat bukan hanya kota yang bebas penyakit, tetapi kota yang sistemnya dirancang untuk mendukung setiap warga hidup produktif. Ini membutuhkan keberanian kepemimpinan untuk menempatkan kesehatan sebagai arus utama dalam setiap kebijakan pembangunan (Health in All Policies).

Penutup

​Kesehatan masyarakat adalah manifestasi dari keadilan sosial. Kita tidak boleh membiarkan kesehatan menjadi barang mewah yang hanya bisa diakses oleh mereka yang mampu. Sudah saatnya kita meredefinisi arah pembangunan kita: menempatkan manusia sebagai pusat, dengan lingkungan yang mendukungnya untuk tetap bugar.

​Karena pada akhirnya, kota yang hebat bukanlah kota yang memiliki rumah sakit paling megah, melainkan kota yang mampu menjaga warganya tetap sehat di rumah mereka masing-masing. (*/)

(*/) Ustadz Arifin Al Bantani 
(Wakil Ketua 1 Forum Kota Sehat Cilegon)

#Opini




close