Islam dan Politik: Memuliakan Kekuasaan dengan Amanah

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Islam dan Politik: Memuliakan Kekuasaan dengan Amanah

Minggu, 12 Juli 2026



Oleh : Arifin Al Bantani

Politik sering menjadi kata yang menimbulkan rasa jengah. Bagi sebagian orang, politik identik dengan perebutan kekuasaan, intrik, fitnah, bahkan pengkhianatan. Tidak sedikit yang kemudian mengambil jarak, seolah agama harus steril dari urusan politik. Padahal, bukan politik yang kotor, melainkan perilaku manusialah yang dapat mengotorinya.

Dalam pandangan Islam, politik bukan sekadar perebutan jabatan. Politik adalah seni mengelola kehidupan bersama agar keadilan, kemaslahatan, dan kesejahteraan dapat dirasakan oleh seluruh rakyat. Kekuasaan bukan tujuan akhir, melainkan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Al-Qur'an mengingatkan, "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil." (QS. An-Nisa: 58). Ayat ini menunjukkan bahwa inti politik Islam bukanlah dominasi, melainkan amanah dan keadilan.

Iklan

Sejarah Islam mencatat bahwa Rasulullah SAW tidak hanya membangun masyarakat yang saleh secara spiritual, tetapi juga membentuk tata kelola sosial yang adil. Piagam Madinah menjadi bukti bahwa negara dapat dibangun di atas fondasi persaudaraan, penghormatan terhadap keberagaman, perlindungan hak-hak warga, dan supremasi hukum. Politik dalam Islam lahir sebagai instrumen pelayanan, bukan alat penindasan.

Namun, politik kehilangan kemuliaannya ketika kekuasaan dipandang sebagai hak istimewa, bukan tanggung jawab. Jabatan menjadi komoditas, suara rakyat diperjualbelikan, dan kepentingan umum dikalahkan oleh ambisi pribadi maupun kelompok. Ketika itu terjadi, politik berubah dari jalan pengabdian menjadi panggung pertarungan ego.

Ironisnya, sebagian umat justru memilih menjauhi politik dengan alasan menjaga kesucian agama. Sikap ini dapat dimengerti, tetapi tidak menyelesaikan persoalan. Sebab ruang politik yang ditinggalkan oleh orang-orang berintegritas akan mudah diisi oleh mereka yang hanya mengejar kepentingan. Kekosongan moral dalam politik tidak akan pernah menghasilkan kebijakan yang bermoral.

Islam tidak mengajarkan politisasi agama demi kepentingan sesaat. Sebaliknya, Islam mengajarkan agar nilai-nilai agama menjadi etika politik. Kejujuran, amanah, musyawarah, keadilan, kepedulian terhadap kaum lemah, serta keberanian membela kebenaran harus menjadi karakter seorang pemimpin. Politik tanpa moral akan melahirkan tirani, sementara moral tanpa keberanian politik sering kali kehilangan daya ubah.

Indonesia membutuhkan politik yang beradab, bukan politik yang gaduh. Demokrasi bukan sekadar memenangkan suara terbanyak, tetapi menghadirkan kebijakan terbaik bagi rakyat. Perbedaan pilihan politik semestinya tidak memutus tali persaudaraan. Kontestasi harus berakhir ketika pemilu usai, berganti dengan kolaborasi untuk membangun bangsa.

Generasi muda memiliki peran penting dalam mengubah wajah politik Indonesia. Mereka tidak cukup hanya menjadi pemilih, tetapi juga harus menjadi pengawas, penggerak, dan kelak menjadi pemimpin yang berintegritas. Politik masa depan membutuhkan kecerdasan digital, literasi kebangsaan, dan kedalaman spiritual agar tidak mudah terjebak pada polarisasi, hoaks, maupun politik identitas yang memecah belah.

Pada akhirnya, politik dalam perspektif Islam bukan tentang siapa yang berkuasa, tetapi tentang bagaimana kekuasaan digunakan. Sebab sejarah tidak hanya mencatat siapa yang memimpin, melainkan juga bagaimana seorang pemimpin memperlakukan rakyatnya.

Kekuasaan akan berakhir ketika masa jabatan selesai. Namun keadilan akan terus dikenang, dan kezaliman akan terus diingat. Itulah sebabnya, dalam Islam, jabatan bukanlah mahkota kehormatan, melainkan beban amanah yang kelak dimintai pertanggungjawaban.

"Politik yang kehilangan akhlak akan melahirkan kekuasaan yang menindas. Sebaliknya, politik yang dibimbing oleh nilai-nilai Islam akan melahirkan kepemimpinan yang melayani, bukan menguasai." (*/)

(*/) Ustadz Arifin Al Bantani
Penulis adalah pegiat sosial keagamaan di Kota Cilegon

#Opini
close