Langit yang Mendingin, Krakatau yang Bergolak Membaca Kebesaran Tuhan dari Kosmos hingga Perut Bumi

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Langit yang Mendingin, Krakatau yang Bergolak Membaca Kebesaran Tuhan dari Kosmos hingga Perut Bumi

Selasa, 07 Juli 2026




Oleh : Arifin Al Bantani

Subhanallah.
Ada keheningan yang sedang berlangsung di jagat raya, namun nyaris tak pernah kita sadari. Di balik gemerlap milyaran bintang, alam semesta sesungguhnya sedang menempuh perjalanan panjang menuju kesejukan. Sejak dentuman agung yang oleh sains dikenal sebagai Big Bang, ruang terus mengembang, galaksi-galaksi saling menjauh, dan suhu alam semesta perlahan menurun. Radiasi purba yang dahulu memenuhi seluruh kosmos kini tinggal berbisik dalam dingin yang nyaris mencapai nol mutlak.

Perubahan itu begitu lambat sehingga tidak dapat dirasakan oleh satu generasi manusia. Bahkan peradaban-peradaban besar lahir dan tenggelam tanpa mampu menyaksikan perbedaan suhu tersebut. Namun, bagi para ilmuwan, pendinginan itu merupakan bukti bahwa alam semesta bergerak mengikuti hukum yang sangat teratur.

Sains menyebutnya hukum fisika.

Seorang mukmin membacanya sebagai sunnatullah.

Semakin luas manusia memandang langit, semakin kecil ia melihat dirinya sendiri.

Ironisnya, ketika langit semakin dingin, bumi yang kita pijak justru tetap menyimpan lautan api. Ribuan kilometer di bawah permukaan, inti bumi masih membara dengan suhu ribuan derajat. Bara itulah yang menggerakkan lempeng-lempeng benua, melahirkan pegunungan, membentuk samudra, sekaligus membangunkan gunung-gunung api yang selama ini tampak tenang.

Indonesia berdiri di atas panggung geologi yang luar biasa. Negeri ini dianugerahi tanah yang subur karena dipanaskan oleh dapur magma yang sama. Rahmat dan risiko hadir dari sumber yang identik.

Maka ketika Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan peningkatan aktivitas, sesungguhnya alam sedang berbicara kepada kita. Ia tidak sedang menghukum siapa pun. Ia juga tidak sedang marah. Alam hanya sedang menjalankan hukum-hukum yang telah Allah tetapkan sejak bumi diciptakan.

Di sinilah sains dan iman bertemu.

Sains mengukur amplitudo gempa vulkanik, deformasi tubuh gunung, emisi gas belerang, dan pergerakan magma. Iman mengajarkan agar manusia tidak sombong terhadap pengetahuannya. Sebab sehebat apa pun teknologi, letusan gunung tetap mengingatkan bahwa manusia hanyalah pembaca, bukan pengendali alam.

Perlu ditegaskan, pendinginan alam semesta tidak memiliki hubungan sebab-akibat dengan meningkatnya aktivitas Krakatau. Kosmologi dan vulkanologi bekerja pada ranah yang berbeda. Yang satu berbicara tentang evolusi jagat raya selama miliaran tahun, sedangkan yang lain berbicara tentang dinamika panas bumi yang dipengaruhi pergerakan lempeng tektonik.

Namun, keduanya bertemu pada satu pelajaran yang sama: tidak ada ciptaan yang benar-benar diam.

Langit berubah.

Bumi berubah.

Manusia pun berubah.

Sayangnya, perubahan manusia sering kali tidak diiringi dengan pertumbuhan kebijaksanaan. Kita berhasil mengirim teleskop hingga menatap galaksi yang berjarak milyaran tahun cahaya, tetapi masih gagal menjaga sungai-sungai kita tetap bersih. Kita mampu menghitung usia bintang, tetapi belum sepenuhnya mampu merawat hutan yang menjadi penyangga kehidupan.

Barangkali krisis terbesar zaman ini bukanlah krisis energi, krisis pangan, atau krisis iklim. Melainkan krisis kesadaran.

Kita terlalu sibuk menaklukkan alam hingga lupa berdialog dengannya.

Padahal setiap gunung adalah guru kesabaran.

Setiap samudra adalah pelajaran tentang keluasan.

Setiap bintang adalah undangan untuk berpikir.

Dan setiap letusan Krakatau adalah pengingat bahwa bumi masih hidup.

Al-Qur'an berkali-kali mengajak manusia membaca dua kitab sekaligus: kitab yang tertulis dalam wahyu dan kitab yang terbentang di alam raya. Keduanya berasal dari Tuhan yang sama. Karena itu, tidak semestinya ilmu pengetahuan menjauhkan manusia dari keimanan. Justru pengetahuan yang jujur akan melahirkan ketundukan.

Ketika teleskop menemukan keluasan kosmos, hati menemukan tasbih.

Ketika seismograf merekam denyut Krakatau, jiwa menemukan kerendahan hati.

Mungkin itulah sebabnya para ilmuwan besar justru semakin takjub setiap kali menemukan hukum baru di alam. Sebab setiap penemuan bukanlah akhir dari pencarian, melainkan awal dari kesadaran bahwa masih jauh lebih banyak rahasia yang belum tersingkap.

Di hadapan alam semesta yang terus mendingin dan bumi yang tetap bergolak, manusia hanyalah pengembara kecil yang sedang belajar membaca tanda-tanda.

Dan setiap kali ilmu bertambah, semoga yang pertama terucap bukanlah kesombongan, melainkan satu kalimat yang sederhana, namun mengandung makna yang tak berbatas:

Subhanallah.(*/)

(*/) Ustadz Arifin Albantani
Penulis merupakan pegiat sosial keagamaan di Kota Cilegon

#Opini

close