Kota Cilegon, Dikenal Kota Santri, Kota Baja, Kota Industri, dan Kota dengan Sejarah, identitas Serta Harapan Besar

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Kota Cilegon, Dikenal Kota Santri, Kota Baja, Kota Industri, dan Kota dengan Sejarah, identitas Serta Harapan Besar

Rabu, 07 Januari 2026


Oleh : M.Ibrohim Aswadi

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Cilegon bukanlah kota yang lahir tanpa sejarah. Sejak sebelum hingga setelah berpisah dari Kabupaten Serang dan berdiri sebagai kota otonom, Cilegon tumbuh sebagai kota yang mandiri, bergerak, berkembang, maju, dan modern. Pada masa itu, denyut pembangunan tidak hanya diisi oleh beton dan baja, tetapi juga oleh jiwa kebersamaan, keteladanan, dan semangat pengabdian para tokohnya.
Dahulu, Cilegon memiliki tokoh-tokoh besar yang bukan sekadar dikenal, tetapi dirasakan kehadirannya. Mereka menjadi panutan, patok, dan jejer—figur moral dan sosial yang berdiri di tengah masyarakat sebagai orang tua bagi semua golongan. Mereka mampu mempersatukan perbedaan, mengayomi yang lemah, menguatkan yang goyah, serta mensupport dan memperjuangkan harapan rakyat Cilegon secara utuh dan menyeluruh.

Di antara mereka yang kini telah berpulang, ada nama-nama yang masih hidup dalam ingatan dan doa kita:
Alm. Abuya KH. Safik, Alm. H. Tb. Aat Syafaat, Alm. H. Syam Rahmat, dan tokoh-tokoh lainnya.

Namun, sekitar dua setengah dekade terakhir, wajah ketokohan semacam itu kian jarang terlihat. Sosok pemersatu seolah memudar. Masing-masing berjalan dalam lingkar kepentingannya sendiri, sebagian terjebak pada ego sektoral, sebagian larut dalam hiruk-pikuk kekuasaan, dan sebagian lagi menjauh dari denyut batin rakyat. Akibatnya, Cilegon terasa kehilangan figur panutan yang mampu berdiri di atas semua golongan.

Kekosongan tokoh panutan—patok dan jejer—inilah yang sesungguhnya sangat dirasakan oleh masyarakat hari ini. Sebab kota sebesar dan sekompleks Cilegon tidak cukup dipimpin hanya oleh sistem dan jabatan, tetapi membutuhkan keteladanan, kebesaran jiwa, dan keberanian moral untuk menyatukan arah perjuangan.

Cilegon selama ini dikenal sebagai Kota Baja, simpul industri strategis nasional, sekaligus etalase investasi di pesisir barat Banten. Namun di balik deru pabrik dan angka pertumbuhan ekonomi, kota ini menyimpan wajah lain yang jarang disorot secara jujur: banjir yang berulang, pengangguran yang tak kunjung tuntas, kemiskinan yang membayang, kerusakan lingkungan yang meluas, serta kualitas kesehatan dan psikis lahir batin masyarakat yang kian tertekan dsr. 

Di tengah bertumpuknya persoalan itu, Cilegon tidak hanya menghadapi krisis tata kelola, tetapi juga krisis yang lebih mendasar—absennya tokoh pemersatu yang mampu mengonsolidasikan harapan rakyat menjadi kekuatan sosial.

Meski demikian, harapan itu belum padam. Masyarakat Cilegon masih menaruh harap kepada para tokoh yang hari ini masih ada, agar berkenan kembali merajut kekompakan, menenun kebersamaan, serta menanggalkan ego pribadi, kelompok, dan kepentingan sempit demi kepentingan rakyat yang lebih luas.
Harapan itu tertuju, di antaranya, kepada:
H. Iman Aryadi, H. Sahruji, H. Ali Mujahidin, KH. Lukman Harun, KH. Aqrom, H. Alawi Mahmud, H.Hamid, Prof.Fauzi Sanusi, Ir Fakih Usman dan tokoh-tokoh lainnya,
untuk tampil sebagai panutan, menyatukan langkah, menguatkan barisan, serta bersama-sama memikirkan dan memperjuangkan kembali kepentingan masyarakat Cilegon secara jujur, adil, dan bermartabat.

Semoga dari kesadaran bersama ini lahir kembali tokoh-tokoh pemersatu, yang tidak berdiri di atas rakyat, tetapi berdiri bersama rakyat.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.(*/)

(*/) M Ibrohim Aswadi
Penulis adalah aktivis sekaligus mantan Anggota DPRD Kota Cilegon periode 2019-2024

#Opini


close