Oleh Arifin Al Bantani
Hypatia adalah seorang perempuan cerdas yang hidup di Alexandria pada abad ke-4 hingga awal abad ke-5 Masehi. Ia dikenal sebagai filsuf, matematikawan, dan astronom—peran yang pada zamannya hampir mustahil disandang oleh seorang perempuan. Putri dari Theon, seorang ilmuwan ternama, Hypatia dididik untuk mencintai kebenaran, berpikir jernih, dan hidup dengan kebajikan. Sejak muda, ia meyakini bahwa akal adalah anugerah Tuhan yang harus digunakan dengan tanggung jawab moral.
Sebagai pengajar Neoplatonisme, matematika, dan sains, Hypatia membuka ruang dialog yang luas. Murid-muridnya datang dari beragam latar belakang agama dan status sosial. Ia tidak mengajarkan kebencian, tidak pula memaksakan keyakinan. Baginya, ilmu adalah bahasa universal yang menyatukan manusia. Dalam hidupnya, kita melihat teladan keikhlasan: mencari kebenaran bukan demi kuasa atau pujian, melainkan demi kemaslahatan bersama. Nilai ini selaras dengan ajaran religius mana pun—bahwa ilmu adalah amanah, dan amanah harus dijalankan dengan rendah hati.
Namun, Alexandria kala itu diliputi ketegangan politik dan konflik identitas. Di tengah kebisingan fanatisme, kebijaksanaan sering disalahpahami sebagai ancaman. Hypatia difitnah, dijadikan simbol ketakutan, dan akhirnya dibunuh secara kejam pada tahun 415 M oleh massa yang terprovokasi. Tragedi ini bukan sekadar pembunuhan seorang ilmuwan; ia adalah runtuhnya akhlak ketika iman kehilangan kebijaksanaan.
Disinilah pesan religius dan moral Hypatia menjadi sangat eksplisit.
Pertama, kisah ini memperingatkan bahaya agama tanpa akhlak. Kekerasan atas nama Tuhan adalah pengkhianatan terhadap nilai ketuhanan itu sendiri. Tuhan tidak dimuliakan dengan darah, melainkan dengan keadilan dan kasih.
Kedua, tragedi ini menunjukkan bahaya ilmu tanpa kebijaksanaan—ketika pengetahuan dipisahkan dari etika, ia dapat diperalat untuk menindas atau menghasut.
Ketiga, Hypatia menegaskan nilai toleransi sebagai fondasi iman yang hidup: perbedaan adalah ladang perjumpaan, bukan alasan pemusnahan.
Secara reflektif, Hypatia mengajarkan bahwa kebenaran sejati tidak memerlukan teriakan. Ia tumbuh melalui dialog, kesabaran, dan keteladanan. Hypatia tidak membalas kebencian dengan kebencian; ia memilih diam yang bermartabat dan konsistensi pada kebajikan. Ini adalah iman yang bekerja melalui akal sehat dan akhlak—iman yang menenangkan, bukan menakutkan.
Akhir hidup Hypatia memang tragis, tetapi kekalahannya hanya bersifat jasmani. Secara moral, ia menang. Sejarah mengingatnya sebagai cahaya yang dipadamkan oleh kegelapan, namun cahayanya justru menjadi penanda: ketika ilmu, iman, dan kemanusiaan dipisahkan, peradaban berjalan menuju kehancuran.
Maka refleksi bagi kita hari ini menjadi tajam dan personal:
apakah ilmu yang kita miliki membuat kita lebih rendah hati atau lebih mudah menghakimi?
Apakah iman yang kita anut melahirkan kasih dan keadilan, atau justru ketakutan dan kekerasan?
Kisah Hypatia mengajak kita menjaga keseimbangan suci antara akal, iman, dan akhlak. Karena pada akhirnya, ukuran kesalehan bukan pada seberapa keras kita membela keyakinan, melainkan pada seberapa dalam keyakinan itu memanusiakan manusia.
"kematian" bukanlah sesuatu yang menakutkan untuk orang-orang yang hidup dalam Hikmah dan Kebijaksanaan. (*/)
(*/) Ustadz Arifin Al Bantani
Penulis Adalah aktivis keagamaan di Kota Cilegon
#Opini
Komentar