Oleh Arifin Al Bantani
Kitab Kifāyatul Atqiyā’, yang dinisbatkan kepada Imam Abu Bakar bin Muhammad Syathā ad-Dimyāṭī (ulama besar Mazhab Syafi‘i), merupakan nazham tasawuf yang kemudian dijelaskan secara luas dalam kitab Syarah Kifāyatul Atqiyā’. Kitab ini sejak lama menjadi rujukan pesantren dalam membentuk kesalehan batin dan kematangan akhlak. Di tengah arus modernitas yang serba cepat dan penuh pencitraan, ajaran-ajarannya justru tampil sebagai kritik spiritual yang relevan terhadap cara manusia beragama hari ini.
Perkembangan teknologi, media sosial, dan budaya kompetisi telah mengubah cara manusia beragama. Kesalehan hari ini sering kali tidak lagi hanya dialami, tetapi dipertontonkan. Dalam konteks inilah Syarah Kifāyatul Atqiyā’ hadir sebagai kritik halus namun mendalam terhadap cara beragama yang kehilangan kedalaman batin.
1. Ikhlas di Era Pencitraan
Ajaran utama kitab ini tentang ikhlas menjadi sangat relevan ketika amal mudah direkam, diunggah, dan dinilai. Sedekah, ibadah, bahkan dakwah sering bergeser dari niat pengabdian menjadi sarana membangun citra diri. Syarah Kifāyatul Atqiyā’ mengingatkan bahwa amal yang dinilai manusia belum tentu bernilai di sisi Allah.
Refleksi sosial:
Banyak orang tampak saleh secara digital, tetapi rapuh secara spiritual. Kitab ini mengajak untuk bertanya bukan “berapa yang melihat?”, melainkan “untuk siapa amal ini dilakukan?”.
2. Ilmu, Gelar, dan Otoritas Moral
Di zaman ketika akses ilmu terbuka luas, seseorang dapat dengan cepat tampil sebagai “ahli”. Namun Syarah Kifāyatul Atqiyā’ mengingatkan bahwa ilmu tanpa akhlak hanya akan melahirkan kesombongan dan konflik. Debat keagamaan yang keras di ruang publik sering lahir dari ilmu yang tidak disertai kerendahan hati.
Refleksi sosial:
Kitab ini menegaskan bahwa tanda orang berilmu bukan kerasnya suara, tetapi lembutnya sikap dan dalamnya adab.
3. Muhasabah di Tengah Budaya Menghakimi
Media sosial memudahkan manusia mengomentari kesalahan orang lain. Budaya “menghakimi” tumbuh subur, sementara muhasabah diri semakin jarang. Syarah Kifāyatul Atqiyā’ justru mengajarkan agar seorang hamba sibuk memperbaiki diri sebelum menilai orang lain.
Refleksi spiritual:
Orang yang benar-benar dekat dengan Allah biasanya lebih takut pada dosanya sendiri daripada sibuk membicarakan dosa orang lain.
4. Penyakit Hati di Balik Kesalehan Formal
Kitab ini sangat tajam dalam membahas penyakit hati—ujub, riya’, dan cinta dunia—yang sering tersembunyi di balik kesalehan formal. Di era kompetisi prestasi dan popularitas, penyakit ini makin sulit disadari karena dianggap wajar.
Refleksi sosial:
Kesombongan hari ini tidak selalu tampak kasar; ia sering berwujud klaim moral, merasa paling benar, dan merendahkan yang berbeda.
5. Zuhud di Tengah Budaya Konsumtif
Zuhud dalam Syarah Kifāyatul Atqiyā’ bukan anti-kemajuan, melainkan pengendalian hati. Budaya konsumtif mendorong manusia mengukur nilai diri dari kepemilikan. Kitab ini mengajarkan bahwa kemerdekaan sejati adalah ketika hati tidak diperbudak oleh apa yang dimiliki.
Refleksi sosial:
Banyak orang kaya secara materi, tetapi miskin ketenangan. Zuhud mengembalikan keseimbangan antara kebutuhan dan keinginan.
6. Istiqamah di Zaman Serba Instan
Zaman kini mencintai hasil cepat. Spirit hijrah pun kadang menjadi tren sesaat. Syarah Kifāyatul Atqiyā’ menekankan istiqamah—amal kecil yang konsisten—sebagai tanda kematangan iman.
Refleksi Spiritual:
Allah tidak menilai kehebohan awal, tetapi kesetiaan di tengah perjalanan.
7. Spiritualitas yang Membumi
Kitab ini mengajarkan tasawuf yang membumi, tidak mengasingkan diri dari masyarakat, tetapi membersihkan hati di tengah kehidupan sosial. Spiritualitas bukan melarikan diri dari realitas, melainkan hadir di dalamnya dengan hati yang jernih.
Refleksi sosial:
Masyarakat hari ini tidak hanya butuh orang pintar agama, tetapi orang yang menghadirkan ketenangan, keadilan, dan akhlak.
Penutup
Syarah Kifāyatul Atqiyā’ mengingatkan bahwa krisis terbesar manusia modern bukan kekurangan informasi, melainkan kehilangan kedalaman makna. Kitab ini membimbing agar manusia kembali menjadi hamba yang sadar: sadar niat, sadar batas, dan sadar tujuan hidup.
Di tengah hiruk-pikuk zaman, ajaran kitab ini bukan pelarian ke masa lalu, tetapi kompas moral dan spiritual untuk masa kini dan masa depan.
Tidak ada ketetapan-Nya diluar batas kesanggupan hamba-hamba-Nya.. Kesemuanya sudah terukur. ,(*/)
(*/) Ustadz Arifin Albantani
Penulis adalah aktivis pegiat keagamaan di Kota Cilegon
#Opini
Komentar