Menenun Kembali Benang Peradaban: Renaisans Islam di Abad Digital

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Menenun Kembali Benang Peradaban: Renaisans Islam di Abad Digital

Kamis, 02 April 2026
Illustrasi

​Oleh: Arifin Al Bantani

​Sejarah pernah mencatat sebuah era di mana cahaya ilmu pengetahuan memancar kuat dari pusat-pusat peradaban Islam, mulai dari Baghdad, Cordoba, hingga Samarkand. Di masa itu, Islam bukan hanya hadir sebagai risalah spiritual, melainkan sebagai mesin penggerak kemajuan dunia. Namun, hari ini, saat kita menoleh ke belakang, sering kali yang tersisa hanyalah nostalgia yang manis namun getir. Pertanyaannya: mampukah dunia Islam kembali membangkitkan peradabannya di tengah kompleksitas abad ke-21?

​Membangkitkan peradaban bukanlah sekadar membangun gedung-gedung pencakar langit atau mengadopsi teknologi Barat secara mentah. Peradaban adalah buah dari sebuah pohon yang bernama "intelektualitas" dan akarnya adalah "iman yang progresif". Masa keemasan Islam dahulu dicapai karena para ulamanya adalah juga para saintis yang tekun. Mereka tidak memisahkan antara wahyu dan akal, antara doa di masjid dan observasi di laboratorium.

​Langkah pertama menuju kebangkitan peradaban ini adalah pemulihan tradisi ijtihad—kebebasan berpikir yang bertanggung jawab dalam bingkai etika ketuhanan. Dunia Islam saat ini membutuhkan lebih banyak pemikir yang mampu merumuskan solusi atas krisis iklim, ketimpangan ekonomi, hingga etika kecerdasan buatan dari perspektif nilai-nilai Islam yang universal. Kita perlu beralih dari posisi konsumen pengetahuan menjadi produsen peradaban.

​Lebih jauh lagi, kebangkitan peradaban Islam harus berlandaskan pada konsep Rahmatan lil 'Alamin. Peradaban yang kuat tidak eksklusif atau menutup diri, melainkan ia yang mampu memberikan rasa aman dan kemakmuran bagi seluruh alam. Dalam konteks Indonesia, semangat moderasi (wasathiyah) dapat menjadi modal besar untuk menunjukkan pada dunia bahwa Islam adalah nafas bagi perdamaian dan kemajuan teknologi yang tetap berjiwa manusiawi.

​Transformasi digital yang kita alami hari ini sebenarnya adalah peluang emas. Jika dulu ilmu pengetahuan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk berpindah dari satu kota ke kota lain, kini ia berpindah dalam hitungan detik. Tantangannya adalah bagaimana generasi muda Muslim mampu menguasai "bahasa" masa depan ini tanpa kehilangan identitas asalnya. Kita membutuhkan "Ibnu Sina baru" yang ahli dalam bioteknologi dan "Al-Khawarizmi baru" yang merajai algoritma, namun tetap memiliki kerendahan hati seorang hamba.

​Pada akhirnya, kebangkitan peradaban Islam bukanlah sebuah titik tujuan, melainkan sebuah proses panjang yang membutuhkan napas panjang pula. Ia dimulai dari transformasi individu, penguatan literasi, dan keberanian untuk bersaing di panggung global. Kita tidak sedang mencoba mengulang masa lalu, tetapi kita sedang menenun benang-benang kejayaan baru di atas kanvas masa depan. Karena peradaban yang sejati adalah peradaban yang mampu membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik bagi semua, sebelum kita semua kembali kepada-Nya. (*/)

(*/) Ustadz Arifin Al Bantani
Penulis merupakan pegiat keagamaan di Kota Cilegon

#Opini
close