Menjemput Rahasia di Riuh Zaman: Membaca Ulang Khozinatul Asror di Era Algoritma

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Menjemput Rahasia di Riuh Zaman: Membaca Ulang Khozinatul Asror di Era Algoritma

Rabu, 20 Mei 2026




​Oleh : Arifin Al Bantani

​Zaman kita hari ini adalah sebuah panggung raksasa yang riuh, di mana segala hal diukur oleh apa yang tampak, yang instan, dan yang terhitung. Manusia modern hidup dalam kepungan algoritma digital yang memaksa pikiran bergerak linear: stimulus menghasilkan respons, investasi melahirkan profit, dan tombol klik mendatangkan kepuasan seketika. Dalam lanskap kesadaran yang kian mendatar dan mekanis ini, spiritualitas sering kali ikut tereduksi menjadi komoditas pragmatis—doa-doa diposisikan tak ubahnya mesin pencari yang diharapkan memberi jawaban tunai atas segala kecemasan duniawi.

​Di tengah kegamangan eksistensial inilah, menengok kembali khazanah literasi klasik seperti kitab Khozinatul Asror (Khazanah Rahasia) karya Syeikh Muhammad Haqqi Nazili menjadi sebuah laku yang radikal. Kitab yang jamak dijumpai di lemari-lemari kayu pesantren ini bukan sekadar sekumpulan teks kuning yang berdebu.

 Lebih dari itu, ia adalah sebuah kritik epistemologis yang sunyi terhadap kedangkalan cara berpikir modern. Ketika dunia hari ini mendewakan "eksterioritas" (segala yang lahiriah), Khozinatul Asror justru mengundang kita untuk menyelami "interioritas" (kedalaman batin)—sebuah wilayah yang kian asing bagi manusia abad ke-21.

​Secara tekstual, kitab ini mendokumentasikan laku spiritual, untaian shalawat, serta rahasia di balik ayat-ayat suci yang disusun melalui metode kompilasi sanad dan pendekatan mujarrobat (eksperimentasi spiritual). Namun, jika kita membacanya dengan kacamata hari ini, ada sebuah paradoks besar yang menuntut kejernihan berpikir. Di satu sisi, kitab ini menawarkan oase ketenangan di tengah badai kecemasan modern. Di sisi lain, ia menyimpan risiko spiritual yang besar jika diadopsi oleh mentalitas manusia zaman sekarang yang cenderung malas berproses dan mengidap sindrom "serba instan".

​Kritik terbesar untuk pembaca modern terhadap teks-teks mujarrobat adalah kecenderungan kita untuk mendatangi teks spiritual dengan mentalitas konsumen. Ketika membaca bab tentang khasiat surah atau bilangan wirid tertentu dalam Khozinatul Asror, godaan terbesar masyarakat hari ini adalah menjadikannya sebagai "jalan pintas" metafisika. Al-Qur'an yang diturunkan untuk merombak tatanan sosial-moral dan mengasah keadilan nurani, dalam benak manusia yang pragmatis, bergeser fungsi menjadi sekadar kalkulasi angka zikir demi menarik rezeki, meraih jabatan, atau menangkal kesialan. Ini adalah bentuk komodifikasi spiritualitas yang akut, di mana Tuhan dan firman-Nya diposisikan tak lebih dari sekadar pelayan ego manusia.

​Syeikh Haqqi Nazili sejatinya tidak sedang mewariskan ilmu sihir islamis. Beliau sedang menulis sebuah peta navigasi batin. Tradisi mujarrobat yang beliau rekam adalah hasil dari kedalaman laku (riyadhah) para ulama terdahulu yang telah selesai dengan urusan egonya. Energi spiritual yang mengalir dalam bait-bait shalawat di kitab tersebut lahir dari ketulusan cinta yang absolut kepada Sang Pencipta dan Rasul-Nya, bukan dari pamrih kalkulatif. Ketika manusia modern yang masih terikat pada keserakahan duniawi mencoba mereplika amalan tersebut sekadar untuk mengejar khasiatnya, yang terjadi adalah anomali spiritual: ritualnya bertambah, namun spiritualitasnya keropos.

​Oleh karena itu, kontekstualisasi Khozinatul Asror di zaman ini membutuhkan pisau analisis yang tajam dan bimbingan kultural yang otoritatif. Kita perlu memisahkan antara esensi transformasi batin dengan ekses-ekses takhayul yang kerap menungganginya. Menelan mentah-mentah teks klasik tanpa menyaring validitas teks atau tanpa memahami konteks alegoris di dalamnya hanya akan melahirkan masyarakat yang fatalis—masyarakat yang sibuk berkomat-kamit menghitung angka zikir di atas sajadah, namun abai terhadap ketimpangan sosial, kerusakan lingkungan, dan kebobrokan moral di hadapan mata mereka. Agama, jika tidak hati-hati, bisa bergeser dari penggerak perubahan menjadi candu pelarian.

​Membaca kembali Khozinatul Asror di era modern seharusnya menjadi momentum untuk melakukan dekonstruksi terhadap cara kita beragama. Kitab ini mengajarkan bahwa di balik yang fisik, ada yang metafisik; di balik yang tersurat, ada yang tersirat. Ia menantang kita untuk mengembalikan agama pada fungsi esensialnya: sebagai ruang kontemplasi yang dalam, bukan panggung pamer kesalehan (spiritual flexing) di media sosial. Ia menuntut kita untuk memperlakukan doa bukan sebagai transaksi dagang dengan Tuhan, melainkan sebagai bentuk penyerahan diri yang total dan mutlak.

​Pada akhirnya, Khozinatul Asror adalah cermin retak bagi manusia modern. Ia memperlihatkan betapa bisingnya dunia kita, sekaligus betapa sepinya jiwa kita. Jika dibaca dengan kedewasaan berpikir, kitab ini tidak akan membuat kita lari dari kenyataan duniawi menuju mistisisme yang egois. Sebaliknya, ia akan membekali jiwa kita dengan jangkar yang kokoh, sehingga ketika kita kembali berdiri di tengah riuh dan liarnya badai zaman modern, kita tidak akan mudah goyah oleh gemerlap ilusi yang ditawarkannya. (*/)

(*/) Ustadz Arifin Al Bantani
Penulis adalah pegiat sosial keagamaan di Kota Cilegon 

#Opini
close