Islam dan Kemerdekaan: Mensyukuri Kebebasan, Menghidupkan Keadilan

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Islam dan Kemerdekaan: Mensyukuri Kebebasan, Menghidupkan Keadilan

Jumat, 14 Agustus 2026




Oleh : Arifin Al Bantani

Kemerdekaan sering dirayakan dengan kibaran bendera, perlombaan, upacara, dan gegap gempita perayaan. Tetapi di balik warna merah dan putih yang berkibar di langit Agustus, ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar: untuk apa kemerdekaan diberikan kepada sebuah bangsa?

Pertanyaan itu penting, sebab kemerdekaan bukanlah garis akhir. Ia adalah awal dari sebuah tanggung jawab sejarah.

Tahun ini, Indonesia memperingati 81 tahun kemerdekaannya dengan tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.” Tema tersebut sesungguhnya memiliki resonansi yang kuat dengan nilai-nilai Islam. Kedaulatan berbicara tentang kehormatan bangsa; keadilan berbicara tentang amanah kekuasaan; sementara kemakmuran berbicara tentang kemaslahatan yang semestinya dirasakan seluruh rakyat.

Iklan

Dalam perspektif Islam, kemerdekaan dapat dipahami sebagai nikmat sekaligus amanah. Nikmat harus disyukuri, sementara amanah harus dipertanggungjawabkan.

Al-Qur'an mengajarkan:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.'" (QS. Ibrahim: 7)

Syukur atas kemerdekaan karena itu tidak cukup diwujudkan dengan seremoni. Syukur yang paling tinggi adalah menggunakan kemerdekaan untuk menghadirkan kebaikan.

Iklan

Bangsa yang merdeka tetapi rakyatnya masih tertindas oleh kemiskinan, korupsi, ketidakadilan, kebodohan, dan diskriminasi, sesungguhnya masih memiliki pekerjaan rumah yang besar.

Sebab kemerdekaan politik harus menemukan maknanya dalam kemerdekaan manusia untuk hidup bermartabat.

Iklan

Kemerdekaan dan Tauhid

Islam memiliki pandangan yang sangat dalam tentang kebebasan manusia. Tauhid membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah.

Manusia tidak boleh diperbudak oleh kekuasaan, harta, fanatisme kelompok, popularitas, bahkan oleh hawa nafsunya sendiri.

Iklan

Karena itu, kemerdekaan dalam perspektif Islam bukan kebebasan tanpa batas. Ia adalah kebebasan yang memiliki tanggung jawab moral.

Kita bebas berbicara, tetapi tidak bebas memfitnah.

Kita bebas berpolitik, tetapi tidak bebas mengkhianati amanah.

Kita bebas mencari kekayaan, tetapi tidak bebas merampas hak orang lain.

Iklan

Kita bebas berbeda pilihan, tetapi tidak bebas menghancurkan persaudaraan.

Inilah kemerdekaan yang beradab: kebebasan yang disertai kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi di hadapan manusia dan di hadapan Allah.

Merdeka dari Korupsi dan Keserakahan

Barangkali salah satu bentuk penjajahan modern yang paling berbahaya adalah ketika manusia diperbudak oleh keserakahan.

Bangsa dapat memiliki pemerintahan sendiri, bendera sendiri, dan wilayah yang berdaulat, tetapi jika kekayaan publik dirampas untuk kepentingan pribadi, maka kemerdekaan kehilangan sebagian maknanya.

Islam menempatkan amanah sebagai prinsip fundamental kehidupan sosial.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا ۖ وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil." (QS. An-Nisa: 58)

Ayat ini seakan mengingatkan bahwa kemerdekaan sebuah negara akan kehilangan ruhnya jika kekuasaan tidak lagi menjadi amanah.

Jabatan bukan kesempatan untuk memperkaya diri.

Kekuasaan bukan tiket menuju kemewahan.

Anggaran negara bukan milik penguasa.

Semuanya adalah amanah rakyat yang pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Merdeka untuk Berbeda, Bersatu untuk Indonesia

Indonesia lahir bukan dari keseragaman, melainkan dari keberagaman.

Berbeda suku, bahasa, adat, agama, dan budaya, tetapi memilih untuk hidup sebagai satu bangsa.

Dalam perspektif Islam, perbedaan bukan alasan untuk saling merendahkan. Al-Qur'an justru mengajarkan bahwa keragaman merupakan bagian dari sunnatullah.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

"Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal." (QS. Al-Hujurat: 13)

Karena itu, mencintai Indonesia tidak berarti mengingkari identitas keagamaan. Sebaliknya, menjadi Muslim yang baik dapat diwujudkan dengan menjadi warga negara yang baik: menjaga persatuan, menghormati sesama, menaati hukum, menolong yang lemah, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Nasionalisme yang sehat tidak perlu mempertentangkan agama dengan kebangsaan.

Keduanya dapat bertemu dalam satu ruang bernama pengabdian.

Mengisi Kemerdekaan dengan Amal

Generasi yang lahir setelah kemerdekaan tidak mengalami dentuman senjata para pejuang. Mereka tidak merasakan bagaimana rasanya hidup di bawah penjajahan.

Tetapi mereka memiliki tugas yang tidak kalah berat: memastikan kemerdekaan tidak kehilangan makna.

Mengisi kemerdekaan berarti belajar dengan sungguh-sungguh.

Mengisi kemerdekaan berarti bekerja dengan jujur.

Mengisi kemerdekaan berarti melawan korupsi.

Mengisi kemerdekaan berarti menjaga lingkungan.

Mengisi kemerdekaan berarti menghormati perbedaan.

Mengisi kemerdekaan berarti membangun ekonomi yang berkeadilan.

Mengisi kemerdekaan berarti memastikan anak-anak bangsa memperoleh pendidikan yang layak.

Dan yang paling penting, mengisi kemerdekaan berarti menghadirkan kehidupan yang semakin manusiawi.

Sebab para pahlawan dahulu berjuang agar kita terbebas dari penjajahan. Tugas kita hari ini adalah membebaskan generasi berikutnya dari penjajahan kebodohan, kemiskinan, ketidakadilan, intoleransi, dan korupsi.

Dari Merayakan Menuju Menghayati

Agustus seharusnya tidak hanya menjadi bulan memasang bendera.

Ia harus menjadi bulan untuk bertanya kepada diri sendiri:

Sudahkah kemerdekaan membuat kita lebih adil?

Sudahkah kemerdekaan membuat kita lebih peduli?

Sudahkah kemerdekaan membuat kita lebih beradab?

Sebab ukuran kemajuan bangsa bukan hanya gedung pencakar langit, jalan tol yang panjang, atau pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Ukuran paling dalam dari kemajuan adalah apakah manusia di dalamnya merasa dihargai, dilindungi, memperoleh kesempatan, dan dapat hidup dengan martabat.

Kemerdekaan akhirnya bukan sekadar terbebas dari penjajah.

Kemerdekaan adalah kemampuan sebuah bangsa untuk menentukan masa depannya sendiri dengan moral, ilmu, keadilan, dan tanggung jawab.

Maka, di usia 81 tahun Republik Indonesia, mari kita ubah cara memandang kemerdekaan.

Jangan hanya merayakannya.

Mari menghidupinya.

Jangan hanya mengibarkan Merah Putih di halaman rumah.

Mari kita kibarkan nilai-nilai kemerdekaan di dalam hati: kejujuran, persaudaraan, keadilan, keberanian, dan pengabdian.

Karena pada akhirnya, kemerdekaan yang paling indah bukanlah ketika sebuah bangsa mampu berkata, “Kami telah bebas.”

Melainkan ketika seluruh rakyatnya dapat berkata:

“Kami hidup merdeka, karena keadilan hadir, amanah dijaga, dan kemakmuran dapat dirasakan bersama.”

Dirgahayu Republik Indonesia.
Merah Putih di langit, tauhid di hati, keadilan dalam kehidupan. (*/)

(*/) Ustadz Arifin Al Bantani
Penulis merupakan pegiat sosial keagamaan di Kota Cilegon

#Opini

close