Oleh: Arifin Al Bantani
Ada bulan yang datang sekadar membawa pergantian kalender. Tetapi ada pula bulan yang mengajak manusia membuka kembali lembaran sejarah, lalu bertanya kepada dirinya sendiri: ke mana sesungguhnya kita sedang berjalan?
Rabiul Awal adalah salah satunya.
Bulan ini memiliki tempat istimewa dalam ingatan umat Islam karena berkaitan dengan sejumlah peristiwa penting dalam kehidupan Nabi Muhammad ﷺ. Kelahiran beliau, perjalanan hijrah yang berujung pada lahirnya masyarakat Madinah, hingga wafatnya Sang Nabi, semuanya menjadi bagian dari mozaik sejarah yang terus dibaca dari generasi ke generasi.
Namun sejarah yang hanya dikenang akan berubah menjadi museum. Ia menjadi benda mati yang indah untuk dilihat, tetapi tidak lagi mampu mengubah manusia.
Karena itu, Rabiul Awal seharusnya tidak sekadar menjadi musim untuk mengingat Nabi, melainkan momentum untuk menghidupkan kembali nilai-nilai kenabian dalam kehidupan manusia modern.
Dari Makkah, Sebuah Cahaya Dimulai
Muhammad ﷺ lahir di Makkah pada tahun yang dikenal sebagai Tahun Gajah. Mengenai tanggal kelahiran beliau, para ulama dan ahli sejarah memiliki beberapa pendapat. Tetapi yang jauh lebih penting daripada perdebatan tanggal adalah kenyataan sejarah bahwa dari seorang manusia yang lahir di tengah masyarakat Arab abad ketujuh itu, kemudian lahir sebuah transformasi peradaban yang pengaruhnya melampaui batas geografis dan zaman.
Al-Qur’an menggambarkan misi kenabian itu dengan kalimat yang sangat indah :
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiyā’: 107)
Kata rahmah menjadi penting untuk direnungkan.
Sebab dunia modern sebenarnya tidak kekurangan kecerdasan. Kita memiliki teknologi yang mampu menghubungkan manusia lintas benua dalam hitungan detik. Kita memiliki kecerdasan buatan, rekayasa genetika, energi baru, eksplorasi ruang angkasa, dan berbagai pencapaian ilmu pengetahuan yang dahulu hanya hidup dalam imajinasi.
Tetapi pertanyaan terbesar manusia bukan selalu tentang seberapa jauh teknologi dapat membawa kita.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:
untuk apa semua kemajuan itu digunakan?
Di sinilah konsep rahmah menjadi relevan.
Pengetahuan tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi kesombongan. Kekuasaan tanpa amanah dapat berubah menjadi penindasan. Kekayaan tanpa kepedulian dapat melahirkan kesenjangan. Bahkan teknologi tanpa etika dapat menciptakan bentuk baru dari dehumanisasi.
Nabi Muhammad ﷺ datang bukan untuk memusuhi kemajuan manusia, melainkan untuk memberikan arah moral kepada kemajuan itu.
Hijrah: Ketika Sejarah Memilih untuk Bergerak
Rabiul Awal juga mengingatkan kita kepada peristiwa hijrah Rasulullah ﷺ dan perjalanan menuju Madinah.
Hijrah sering dipahami sebagai perpindahan geografis dari Makkah menuju Madinah. Tetapi jika kita berhenti pada dimensi geografis, kita kehilangan pesan terbesarnya.
Hijrah adalah seni keberanian untuk meninggalkan keadaan yang tidak lagi memungkinkan nilai-nilai kebaikan tumbuh.
Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan umatnya untuk mencintai tempat secara buta. Yang dicintai adalah nilai, kebenaran, dan kemaslahatan.
Maka hijrah bukan hanya berpindah dari satu tanah ke tanah yang lain.
Hijrah juga dapat berarti berpindah:
dari kebencian menuju kasih sayang,
dari kebodohan menuju ilmu,
dari kesombongan menuju kerendahan hati, dari korupsi menuju amanah,
dari permusuhan menuju persaudaraan,
dan dari kehidupan yang kehilangan arah menuju kehidupan yang memiliki tujuan.
Dalam konteks masyarakat hari ini, barangkali kita membutuhkan makna hijrah yang lebih substantif daripada sekadar simbol.
Sebab sebuah bangsa tidak akan maju hanya karena mengganti slogan. Sebuah masyarakat tidak akan berubah hanya karena mengganti pemimpin. Dan seorang manusia tidak akan menjadi lebih baik hanya karena mengganti penampilan.
Perubahan yang sejati selalu dimulai dari transformasi kesadaran.
Madinah dan Politik Moral
Sesampainya di Madinah, Rasulullah ﷺ tidak hanya membangun tempat ibadah. Beliau membangun masyarakat.
Masjid menjadi pusat spiritual sekaligus ruang pendidikan. Persaudaraan dibangun di antara kaum Muhajirin dan Ansar. Hubungan sosial ditata. Kehidupan ekonomi diperhatikan. Perbedaan masyarakat dikelola dengan prinsip keadilan dan kesepakatan.
Madinah dengan demikian bukan sekadar sebuah kota dalam peta.
Ia adalah gagasan tentang bagaimana agama diterjemahkan menjadi peradaban.
Di sinilah kita menemukan pelajaran penting bagi kehidupan politik dan sosial kontemporer.
Islam tidak mengajarkan kekuasaan sebagai kemewahan. Kekuasaan adalah amanah.
Jabatan bukan mahkota. Ia adalah tanggung jawab.
Kepemimpinan bukan kesempatan untuk dilayani. Ia adalah kesediaan untuk melayani.
Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut membuat konsep kepemimpinan menjadi sangat personal.
Kita mungkin bukan presiden. Bukan menteri. Bukan gubernur. Bukan pejabat.
Tetapi kita semua adalah pemimpin dalam ruang masing-masing.
Ada yang memimpin keluarga. Ada yang memimpin sekolah. Ada yang memimpin perusahaan. Ada yang memimpin organisasi. Bahkan seseorang yang hidup sendirian pun sesungguhnya sedang memimpin dirinya sendiri.
Karena itu, pertanyaan kenabian tentang kekuasaan bukan sekadar:
“Siapa yang berkuasa?”
Tetapi:
“Untuk siapa kekuasaan itu digunakan?”
Wafat Nabi dan Ujian Kedewasaan Umat
Rabiul Awal juga menyimpan kesedihan yang paling dalam: wafatnya Rasulullah ﷺ pada tahun 11 Hijriah.
Seorang manusia yang dicintai para sahabat meninggalkan dunia.
Kesedihan itu begitu berat hingga sebagian sahabat tidak mampu menerima kenyataan tersebut. Namun Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. kemudian mengingatkan umat dengan firman Allah :
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul; sungguh, telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.” (QS. Āli ‘Imrān: 144)
Ayat itu bukan sekadar penghiburan.
Ia adalah pendidikan tentang kedewasaan.
Rasulullah ﷺ wafat, tetapi risalah tidak boleh ikut wafat.
Nabi pergi sebagai manusia, tetapi ajarannya harus tetap hidup sebagai nilai.
Inilah barangkali salah satu pelajaran terbesar Rabiul Awal : mencintai Nabi bukan berarti membekukan beliau dalam kenangan, tetapi meneruskan nilai-nilai yang beliau perjuangkan.
Dari Maulid Menuju Akhlak
Kita boleh memperingati kelahiran Nabi ﷺ. Kita boleh bershalawat. Kita boleh membaca sirah. Kita boleh berkumpul untuk mengenang perjuangan beliau.
Tetapi semua itu menemukan makna terdalam ketika cinta kepada Nabi berubah menjadi akhlak.
Sebab Nabi tidak hanya datang membawa teks.
Beliau menghadirkan keteladanan.
Al-Qur’an menyebut :
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.” (QS. Al-Ahzāb: 21)
Maka ukuran keberhasilan memperingati Rabiul Awal tidak semestinya berhenti pada seberapa meriah acara diselenggarakan.
Ukuran yang lebih penting adalah :
Apakah setelah Rabiul Awal kita menjadi manusia yang lebih jujur?
Apakah kita menjadi lebih lembut kepada keluarga?
Lebih adil kepada orang yang berbeda dengan kita?
Lebih amanah ketika memegang jabatan?
Lebih peduli kepada mereka yang lemah?
Lebih menghormati ilmu?
Lebih santun dalam perbedaan?
Dan lebih takut menyakiti manusia daripada kehilangan pujian manusia?
Jika jawabannya iya, maka Rabiul Awal telah menemukan maknanya.
Nabi dan Masa Depan Kemanusiaan
Dunia hari ini membutuhkan Nabi Muhammad ﷺ bukan hanya sebagai figur sejarah, tetapi sebagai sumber inspirasi etika.
Ketika ruang publik dipenuhi kebisingan, kita membutuhkan kesantunan beliau.
Ketika politik mudah berubah menjadi permusuhan, kita membutuhkan keadilan beliau.
Ketika kekayaan membuat manusia lupa kepada sesama, kita membutuhkan kemurahan hati beliau.
Ketika ilmu berkembang tanpa batas moral, kita membutuhkan kebijaksanaan beliau.
Dan ketika manusia semakin terkoneksi secara digital tetapi semakin jauh secara emosional, kita membutuhkan kembali konsep persaudaraan yang beliau bangun.
Rabiul Awal akhirnya bukan hanya tentang masa lalu.
Ia adalah pertanyaan tentang masa depan.
Manusia seperti apa yang ingin kita bangun?
Masyarakat seperti apa yang ingin kita wariskan kepada anak cucu?
Peradaban seperti apa yang ingin kita tinggalkan ketika nama kita kelak hilang dari ingatan?
Barangkali jawabannya dapat kita mulai dari satu kesadaran sederhana :
Bahwa mencintai Nabi bukan sekadar mengenang kelahirannya, tetapi menghadirkan akhlaknya dalam kehidupan.
Sebab seorang Nabi tidak hanya meninggalkan sejarah.
Ia meninggalkan jalan.
Dan tugas umat bukan sekadar memandangi jalan itu dari kejauhan, melainkan berjalan di atasnya.
Rabiul Awal pun mengajarkan kepada kita: bahwa cahaya kenabian tidak pernah dimaksudkan untuk hanya menerangi masa lalu.
Ia diturunkan agar manusia hari ini memiliki keberanian untuk menyalakan cahaya itu kembali—di rumah, di sekolah, di ruang publik, di dunia politik, di tengah perkembangan teknologi, dan terutama di dalam hati manusia.
Karena pada akhirnya, peradaban yang besar bukanlah peradaban yang paling tinggi bangunan-bangunannya, melainkan peradaban yang paling tinggi martabat manusianya.
Dan di sanalah jejak Nabi Muhammad ﷺ menemukan relevansinya sepanjang zaman. (*/)
(*/) Ustadz Arifin Al Bantani
Penulis merupakan pegiat sosial keagamaan di Kota Cilegon
#Opini
Komentar