Oleh: Arifin Al Bantani
Ada pemandangan yang selalu menyisakan kesedihan: hutan yang dahulu hijau berubah menjadi kepulan asap. Pohon-pohon yang tumbuh puluhan tahun dapat lenyap dalam hitungan jam. Satwa kehilangan habitatnya, udara tercemar, dan manusia di sekitarnya harus menghirup udara yang semestinya menjadi hak semua makhluk hidup.
Tetapi ketika hutan terbakar, apa sebenarnya yang sedang terbakar?
Bukan hanya pepohonan.
Yang terbakar adalah habitat, keanekaragaman hayati, cadangan karbon, sumber air, bahkan sebagian masa depan manusia.
Hutan adalah salah satu penyangga kehidupan bumi. Ia menyimpan karbon, membantu mengatur siklus air, menjaga tanah, dan menjadi rumah bagi begitu banyak makhluk. Ketika hutan rusak dalam skala besar, dampaknya tidak berhenti di tempat kebakaran. Ia dapat merambat menjadi persoalan iklim, ekonomi, kesehatan, dan kehidupan sosial.
Subhanallah.
Al-Qur'an telah memberikan sebuah peringatan yang sangat relevan:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini mengajak kita melihat lingkungan bukan sekadar sebagai objek yang boleh dieksploitasi tanpa batas. Manusia memiliki amanah sebagai khalifah di bumi.
Kita memang membutuhkan hutan untuk kehidupan dan pembangunan. Tetapi kebutuhan tidak boleh berubah menjadi keserakahan.
Sebab ketika manusia mengambil lebih banyak daripada yang mampu dipulihkan alam, keseimbangan akan terganggu.
Dan alam memiliki caranya sendiri untuk mengingatkan manusia.
Ironisnya, kita sering baru menyadari pentingnya hutan ketika asap telah memenuhi udara.
Kita baru menghargai air ketika sumbernya mengering.
Kita baru merindukan udara bersih ketika paru-paru kita sesak.
Barangkali persoalan lingkungan pada akhirnya bukan hanya persoalan teknologi.
Ia adalah persoalan akhlak.
Teknologi dapat membantu mendeteksi titik panas dari satelit. Ilmu pengetahuan dapat memetakan perubahan tutupan hutan. Pemerintah dapat membuat regulasi. Tetapi semuanya membutuhkan satu hal yang paling mendasar:
kesadaran manusia untuk tidak merusak sesuatu yang bukan hanya miliknya.
Hutan bukan warisan satu generasi.
Ia adalah titipan untuk generasi berikutnya.
Maka ketika sebatang pohon ditebang, kita seharusnya tidak hanya menghitung nilai kayunya. Kita juga perlu menghitung udara yang dihasilkannya, air yang dijaganya, tanah yang dilindunginya, dan kehidupan yang bergantung kepadanya.
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukanlah:
“Mengapa hutan terbakar?”
Tetapi:
“Mengapa manusia begitu mudah membakar sesuatu yang menjadi sumber kehidupannya sendiri?”
Ketika hutan terbakar, mungkin yang paling perlu kita selamatkan bukan hanya pepohonan.
Tetapi kesadaran manusia.
Sebab bumi tidak membutuhkan manusia yang sekadar mampu menaklukkan alam.
Bumi membutuhkan manusia yang mampu menjaganya.
Dan mungkin, di situlah makna sejati manusia sebagai khalifah fil ardh—bukan penguasa yang bebas merusak, melainkan penjaga yang bertanggung jawab. (*/)
(*/) Ustadz Arifin Al Bantani
Penulis adalah pegiat sosial keagamaan di Cilegon
#Opini
Komentar