Oleh Arifin Al Bantani
Bahasa Arab memiliki kedudukan strategis dalam tradisi ilmu Islam. Penguasaan bahasa Arab tidak hanya memungkinkan pemahaman Al-Qur’an dan Hadis secara tepat, tetapi juga membuka akses ke literatur klasik dan pengetahuan ilmiah Islam. Dalam konteks ini, kitab klasik menjadi media pembelajaran yang penting, salah satunya adalah Matan Bina wal Asasi, yang telah menjadi rujukan selama berabad-abad di pesantren dan madrasah.
Kitab Matan Bina wal Asasi merupakan sebuah matan (teks ringkas) dalam ilmu sharaf—yakni ilmu yang mempelajari bentuk, perubahan, dan struktur kata dalam bahasa Arab. Kitab ini banyak digunakan oleh pelajar pemula karena sifatnya yang singkat, sistematis, dan mudah dihafal.
Kitab ini ditulis oleh Syaikh Ibrahim bin Abdul Wahhab bin Imaduddin (Az-Zanjani Al-Izzi), seorang ulama ahli bahasa Arab klasik dari Iran abad ke-13 M. Penyusunan kaidah yang rapi dan sederhana membuat kitab ini tetap relevan hingga kini, baik sebagai fondasi linguistik maupun sebagai warisan intelektual budaya Islam.
Gambaran Umum Isi Kitab
1. Kitab Ringkas Morfologi – Fokus pada sharaf (perubahan bentuk kata dalam bahasa Arab).
2. Struktur Bab – Berdasarkan jumlah huruf kata: tsulฤsi (3 huruf) dan ruba‘i (4 huruf), baik yang dasar maupun tambahan.
3. Wazan dan Mauzun – Wazan = pola kata; Mauzun = contoh kata sesuai pola.
4. Ciri dan Faedah – Setiap bab menjelaskan karakter huruf dan manfaat kaidah.
5. Contoh Kalimat – Menunjukkan penerapan kata dalam kalimat nyata untuk memahami konteks.
6. Tujuan Utama – Mempermudah hafalan, memahami kaidah sharaf, melatih logika dan analisis bahasa, serta menjadi fondasi literatur Arab klasik maupun modern.
Kesimpulan
Matan Bina wal Asasi merupakan karya klasik yang memiliki tiga dimensi penting:
1. Linguistik – Menjadi fondasi bahasa Arab bagi pelajar dan masyarakat yang ingin memahami literatur klasik.
2. Intelektual – Melatih logika, berpikir kritis, pemahaman sistematis, dan kreativitas linguistik.
3. Budaya – Melestarikan tradisi pendidikan klasik, menjaga warisan intelektual Islam, dan memperkuat penghargaan terhadap karya ulama terdahulu.
Dengan demikian, kitab ini bukan sekadar teks bahasa, tetapi juga alat pengembangan intelektual dan pelestarian budaya yang tetap relevan di era modern. (*/)
(*/) Ustadz Arifin Al Bantani
Penulis adalah aktivis keagamaan di Kota Cilegon
#Opini
Komentar