Illustrasi Masjid Banten Lama
CILEGON— Banyaknya tradisi keislamanan yang ada di Kota Cilegon selama bulan suci Ramadhan. Menjadikan suatu kearifan lokal yang harus terus dijaga kelestariannya sebagai entitas di kota industri tersebut.
Selain oleh masyarakat Cilegon sendiri, adanya campur tangan pemerintah daerah dengan kebijakannya juga dinilai sangat strategis untuk bisa berpartisipasi menjaga kelestariannya.
"Tradisi berupa mikran, dala'il, taqabalan dan lainnya yang sudah turun menurun ini harus terus dijaga. Masyarakat Cilegon yang heterogen dalam arti banyaknya orang luar yang makin banyak tinggal di Cilegon membuat tradisi tersebut rentan terkikis, ditambah jaman makin modern yang menjadikan gaya hidup masyarakat serba instan dan cenderung individual," ungkap Ustadz Away. Sabtu (25/3/2023).
"Maka perlu campur tangan pemerintah daerah dalam hal ini Bapak Walikota untuk berperan selain masyarakat Cilegon sendiri selain aktif melakukan tarawih keliling," sambungnya.
Menurut Ustadz Away, peran Walikota Cilegon selama beberapa tahun terakhir sudah baik dalam mengimplementasikan pembangunan di tingkat lingkungan. Namun dalam momentum tertentu seperti bulan Ramadhan ini, diperlukan improvisasi kebijakan.
"Naiknya honor RT/RW jadi Rp 1 juta perbulan, dana pembangunan Rp 100 juta/RW setiap tahun sudah bagus. Namun perlu ada inovasi berupa sentuhan pembagunan ruhani, seperti di bulan puasa yang sudah jadi kearifan lokal dan secara tradisi turun menurun ini yang harus dijaga melalui kebijakan. Entah itu Pemkot Cilegon ngadain lomba dula'ilan, misalnya Ramadhan pekan pertama seleksi tingkat kelurahan, yang terbaik naik tingkat kecamatan hingga tingkat kota. Kemudian lomba mikran atau tadarus, walikota berikan hadiah sarung atau THR bagi masjid yang paling banyak menghatamkan Al-Qur'an selama malam Ramadhan. Hal ini saya kira bisa mendekatkan hubungan pemimpin dengan rakyatnya," paparnya.
"Ini sangat bisa menstimulasi masyarakat untuk terus semangat menjaga tradisi keislaman di Bulan Ramadhan, pahala dapat dan secara moril masyarakat juga akan terbangun ketika mendapat perhatian dari pemerintah. Karena selama ini monoton, yang ada lomba takbir alias nabuh bedug melulu," imbuh Ustadz Away.
Lebih lanjut ia menjelaskan historis pembangunan spiritual yang lebih diutamakan oleh para leluhur, dibanding pembangunan fisik atau infrastruktur. Untuk itu, ia menyarankan pembangunan ruhani juga tidak hanya dilakukan di bulan Ramadhan dan membuat program yang digagas dan dianggarkan oleh pemerintah.
"Dulu Sultan Hasanudin Banten di awal-awal memimpin pemerintahan Kesultanan Banten yang dibangun masjid di samping keraton, artinya sisi spiritualitas lebih diutamakan. Sekarang dengan APBD Rp 2 triliun lebih, juga penting untuk membangun ruhani masyarakatnya. Kalau perlu ada atau dijadikan program oleh Pemkot," tandasnya. (*red)
#SosialKeagamaan
Komentar
