Aktivis senior Cilegon, Dwi Qorry
CILEGON— Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon, bakal mencatatkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dalam penyajian Rabeg terbanyak pada saat Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorkomwil) Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) yang digelar 7-9 Mei 2023 mendatang.
Rencananya, Pemkot Cilegon akan menyiapkan menu Rabeg sebanyak 2.400 porsi, akumulasi dari 8 kecamatan yang masing-masing akan menyediakan 300 porsi Rabeg untuk mencatatkan Rekor Muri Rabeg terbanyak. Yang sekaligus akan disajikan dan dikenalkan kepada puluhan walikota yang hadir dalam acara APEKSI, mengingat Rabeg merupakan olahan kuliner daging kambing khas Kota Cilegon.
Dalam penyelenggaraan penyajian Rabeg sebanyak itu, kabarnya akan digelar di Kantor Walikota Cilegon pada Senin (8/5/2023) besok, dan dicatatkan ke Muri karena dianggap baru pertama kali dilakukan.
Menanggapi hal tersebut, aktivis sosial Cilegon Dwi Qorry mengatakan ada hal yang tidak kalah penting yang harus dilakukan Pemkot Cilegon dalam memberdayakan peternakan kambing sebagai bahan utama pembuatan olahan Rabeg.
"Membuat rekor itu bagus, saya setuju. Tapi sebaiknya setiap tujuan tidak melupakan apalagi mengabaikan proses. Maksudnya sudah sejauh mana pembinaan dan pemberdayaan Pemkot Cilegon terhadap masyarakatnya peternak kambing? Apa kepala dinas terkait tahu ada berapa populasi kambing di Cilegon saat ini?" ungkapnya, Minggu (7/5/2023).
"Sang bos perusahaan bisa saja dengan seenaknya menyuruh bawahannya melakukan produksi besar-besaran tanpa tahu ketersediaan bahan baku produksi," sambungnya, menyindir Walikota Cilegon.
Lebih lanjut, Dwi Qorry juga menggambarkan soal makin sempitnya lahan untuk menggembalakan kambing yang merupakan kendala bagi para peternak kambing di Kota Cilegon saat ini, seiring dengan pesatnya pembangunan.
"Kalau dulu lahan sawah ladang atau tegal masih banyak, sekarang kita lihat sudah jadi perumahan, pemukiman, kantor dan pabrik-pabrik. Harusnya pemerintah daerah hadir memberikan solusi berternak. Misalnya memberi edukasi agar beternak kambing tidak digembala dan diganti sistem breding di kandang," terangnya.
"Barometernya ya lihat saja setiap Idul Adha untuk kebutuhan qurban, kebanyakan kambing pasokan dari luar daerah. Sementara kita besok dengan bangganya mengumumkan olahan kambing khas daerah kita, namun seolah tanpa memikirkan bagaimana nasib peternak kambing," tegasnya.
Masih minimnya perhatian pemerintah Kota Cilegon terhadap masyarakat peternak kambing juga diakui salah satu peternak yang enggan disebutkan namanya.
"Kalau dulu mah pernah ada bantuan bebek sama kambing untuk petani dari pemerintah. Udah lama sih sekitar sepuluh tahunan lah, sekarang-sekarang mah gak ada tuh. Pembinaan apa, ada juga tahun kemarin waktu ramai PMK (Penyakit Mulut dan Kuku-red) kambing kita diperiksain doang," ujarnya polos.
"Harapannya saya sih kalau Rabeg Kambing sudah dapat rekor itu, lebih banyak lagi orang Ciegon yang beternak kambing agar sejalan. Warga yang masih nganggur-nganngur diajari, diberi bantuan kambing dan kalau ada kendala tidak ada lahan untuk umbaran dikasih modal pembuatan kandangnya, jadi tinggal ngarit untuk pakannya," harapnya.
Ia juga menceritakan peluang usaha beternak kambing yang sangat prospektif dan bisa membantu perekonomian masyarakat. Bahkan ia kini memilih fokus beternak kambing dengan sistem semi umbaran dan berhenti dari pekerjaannya sebagai karyawan bank swasta.
"Breding dan fetening, sebagian dikandang saja, karena masih ada lahan tegalan di belakang sebagian saya angon, cuma 3-4 jam. Soalnya ingat waktu saya masuk sekolah dulu, biayanya dari Ibu saya jual kambing. Tadinya ini cuma usaha sampingan, tapi karena lebih menguntungkan saya seriusin. Alhamdulillah 3 kali lebaran haji (Idul Adha) bisa jual 60-70 ekor, sampai kehabisan stok kambing di kandang, karena masih banyak pesanan kita cari ke petani juga sama kehabisan stok. Itu artinya kebutuhan lebih tinggi dari populasi kambing di Cilegon," terangnya.(*red)
#Pertanian
Komentar