Illustrasi kegiatan belajar mengajar siswa
Manajemen kesiswaan adalah proses kegiatan yang dilaksanakan secara sistematis dan terprogram dalam rangka menegakkan hak dan kewajiban siswa dalam suatu lembaga pendidikan atau sekolah. Namun pada kenyataannya sering kali tugas dan peran guru khususnya dibidang manajemen kesiswaan sekolah tidak tercapai secara efektif dan efisien, karena masih banyak guru yang melalaikan pengelolaan atau manajemen bidang kesiswaan yang mengakibatkan tidak tertata dengan baik.
Hal ini dijelaskan dalam artikel pada website BBC Indonesia tanggal 27 November 2012 yang menyebutkan bahwa Sistem Pendidikan Indonesia menempati peringkat terendah di dunia menurut tabel liga global yang diterbitkan oleh Firma Pendidikan Pearson. Kedua, rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam rendahnya kualitas pendidikan Indonesia. Berdasarkan survei FGII (Federasi Guru Independen Indonesia) pada pertengahan tahun 2005. Ketiga, kurangnya sarana dan prasarana pendidikan.
Berbagai permasalahan yang terjadi dalam manajemen kesiswaan yaitu ada lima komponen manajemen pendidikan yang bermasalah: (1) manajemen kesiswaan; (2) pendidik; (3) kurikulum; (4) ketatalaksanaan; dan (5) sarana dan prasarana. Adapun cara yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu dengan memperbaiki pencatatan dan pelaporan yang berkaitan dengan kesiswaan, meningkatkan kualitas guru agar lebih kompeten, memperbaiki kurikulum, dan meningkatkan kualitas sarana dan prasarana agar lebih memadai.
Pengertian Manajemen Kesiswaan
Secara umum manajemen dalam bidang pendidikan adalah sering disandingkan dengan administrasi sekolah, sedangkan kesiswaan dalam lembaga pendidikan adalah murid, peserta didik ataupun siswa.
Menurut Soetopo dalam Fadhillah, dkk (2018:9) menyatakan bahwa manajemen kesiswaan adalah suatu penataan atau peraturan segala aktivitas yang berkaitan dengan siswa tersebut dari mulai masuknya siswa sampai dengan keluarnya siswa tersebut dari sekolah atau lembaga. Sedangkan menurut Syarbini dalam Haetami (2023: 76) mengatakan bahwa manajemen kesiswaan adalah kayanan yang memusatkan perhatian pada pengaturan, pengawasan, dan layanan individual seperti pengembangan keseluruhan kemampuan, minat, dan kebutuhan sampai ia matang mendapatkan proses pendidikan di sekolah.
Sama halnya dengan kedua pendapat di atas manajemen kesiswaan adalah seluruh proses kegiatan yang direncanakan dan diusahakan secara sengaja serta pembinaan secara kontinu terhadap siswa untuk mengikuti proses belajar mengajar secara efektif dan efisien mulai dari penerimaan siswa hingga keluarnya siswa dari Lembaga Pendidikan (Zebua 2023: 52).
Berdasarkan beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa manajemen kesiswaan adalah proses pengurusan segala hal yang berkaitan dengan siswa, pembinaan sekolah mulai dari penerimaan siswa hingga pembinaan siswa berada di sekolah sampai keluarnya siswa dari suatu lembaga.
Tujuan dan Prinsip Manajemen Kesiswaan
Bidang operasional yang penting dalam kerangka manajemen sekolah salah satunya adalah manajemen kesiswaan. Tujuan dari manajemen kesiswaan adalah mengatur kegiatan-kegiatan siswa agar dapat menunjang proses pembelajaran di sekolah. Adanya manajemen kesiswaan ini berguna untuk mengelola aktivitas kesiswaan yang berguna dalam membantu kegiatan pembelajaran sehingga sesuai prosedur, disiplin, dan dapat memberi masukan dalam mencapai sasaran yang sudah disepakati (Putri, dkk., 2019: 119).
Pada dasarnya memang tujuan dari manajemen kesiswaan di sekolah adalah untuk mengatur dan mengelola segala kegiatan di sekolah supaya dapat berkontribusi bagi tercapainya tujuan sekolah dan tujuan pendidikan. Jika manajemen kesiswaan diabaikan oleh sekolah, maka sangat mungkin dapat menyebabkan tidak berkembangnya potensi yang ada di dalam diri siswa dan juga disiplin belajar siswa tidak terkendali, sehingga dapat menurunkan hasil belajar siswa.
Dalam upaya membina dan mengembangkan potensi yang ada di dalam diri siswa, sekolah harus lebih peduli dengan program-program yang nantinya 5 berguna bagi siswa. Maka dari itu, prinsip-prinsip yang menjadi dasar dalam pelaksanaan manajemen kesiswaan menurut Gunawan dalam Fadhilah (2019: 125) adalah:
Siswa harus diperlakukan sebagai subjek, sehingga siswa harus didorong untuk berperan serta dalam perencanaan dan pengambilan keputusan yang terkait dengan kegiatan mereka.
Setiap siswa memiliki media untuk mengembangkan potensinya secara optimal. Kondisi siswa di setiap sekolah pasti berbeda-beda, untuk itu jika dilihat dari aspek fisik, intelektual, sosial ekonomi, minat dan aspek lainnya, maka perlu media kegiatan yang beragam sebagai wadah pengembangan potensinya.
Pembelajaran harus bisa mengembangkan motivasi siswa. Siswa akan terdorong untuk belajar, jika mereka suka dengan apa yang sedang mereka pelajari.
Pengembangan potensi siswa tidak hanya menyangkut ranah kognitif, tetapi juga ranah afektif dan psikomotor. Pengembangan potensi siswa yang hanya menjurus ke ranah kognitif akan menghasilkan hasil yang tidak sesuai dengan tuntutan masyarakat dan mengabaikan aspek yang lain.
Ruang Lingkup Manajemen Kesiswaan
Menurut Kompri dalam Sulfikram (2021:25) ruang lingkup manajemen kesiswaan antara lain sebagai berikut:
Penerimaan Siswa
Penentuan jumlah siswa yang diterima harus dilakukan oleh institusi agar layanan terhadap siswa bisa dilakukan secara optimal. Besarnya jumlah siswa yang akan diterima harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
Daya tampung kelas atau jumlah kelas yang tersedia. Banyaknya siswa dalam satu kelas dilihat dari ukuran kelas, berdasarkan kebijakan pemerintah berkisar antara 40-45 orang, sedangkan ukuran kelas yang ideal secara teoritik berjumlah 25-30 siswa perkelas.
Rasio siswa dan guru, yaitu perbandingan antara banyaknya siswa dengan guru perfultimer atau penuh waktu. Idealnya rasio siswa dan guru adalah 1:30.
Orientasi Siswa Baru
Secara umum, orientasi diartikan sebagai pengenalan, pengenalan meliputi lingkungan fisik sekolah dan lingkungan sosial sekolah. Adapun tujuan orientasi siswa baru, sebagai berikut:
Agar siswa dapat mengenal lebih baik dekat mengenai diri mereka sendiri di lingkungan baru.
Agar siswa mengenal lingkungan sekolah.
Pengenalan lingkungan sekolah penting dilakukan kepada siswa mengenai pemanfaatan layanan yang dapat diberikan sekolah, kemampuan siswa dalam bersosialisasi dan mengembangkan diri secara optimal, serta menyiapkan siswa secara fisik, mental dan emosional agar siap menghadapi lingkungan baru di sekolah.
Peraturan dan Tata Tertib Sekolah
Siswa baru harus diperkenalkan dengan peraturan dan tata tertib sekolah. Tata tertib sekolah ini mengatur perilaku atau kedisiplinan peserta didik di sekolah. Mendisiplinkan siswa yang bertujuan untuk menemukan diri, mengatasi dan mencegah masalah kedisiplinan, serta berusaha menciptakan situasi yang menyenangkan dalam kegiatan pembelajaran.
Sehingga siswa menaati semua peraturan yang telah ditetapkan.
Pembinaan dan Pengembangan Siswa
Siswa memperoleh bermacam-macam manfaat dari pengalaman belajar untuk bekal kehidupannya di masa yang akan datang. Untuk memperoleh pengetahuan atau pengalaman belajar, siswa harus melakukan aktivitas yang berbeda. Sekolah yang menerima dan mengembangkan siswa biasanya melakukan kegiatan yang disebut dengan kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler.
Evaluasi Siswa
Tahap evaluasi dilakukan agar guru atau pendidik mengetahui sudah sejauh mana siswa memahami materi pembelajaran yang diajarkan.
Kelulusan dan Alumni
Proses kelulusan merupakan kegiatan akhir dari manajemen kesiswaan. Kelulusan adalah pernyataan selesainya suatu lembaga terhadap program pendidikan yang diharapkan dapat diselesaikan oleh siswa. Setelah siswa lulus, maka secara formal hubungan antara siswa dengan institusi telah selesai. Meski demikian, hubungan alumni dengan pihak sekolah diharapkan tetap terjaga.
Implementasi Manajemen Kesiswaan di Sekolah Dasar
Dalam menerapkan manajemen kesiswaan di sekolah dasar, terdapat beberapa tahap yang perlu dilakukan, sebagai berikut;
Perencanaan manajemen
Analisis kebutuhan siswa, dalam hal ini bertujuan agar layanan terhadap siswa berjalan optimal. Kebutuhan siswa dianalasis dengan mempertimbangkan jumlah ruang kelas dan jumlah guru yang mengajar.
Penerimaan siswa baru, dalam tahap ini akan dikelola oleh TU sekolah. Tahapan penerimaan siswa baru dimulai dari pendaftaran, pengisian formulir, sampai dengan tahap perlengkapan administrasi.
Seleksi siswa baru, pada tahap ini siswa diseleksi berdasarkan umur, yakni minimal 6,5 tahun dan melakukan seleksi psikologi kepada siswa baru untuk melihat ke arah mana minat dan bakat siswa.
Mengadakan Masa Orientasi Siswa (MOS), kegiatan ini dilakukan selama satu hari, yang bertujuan untuk memperkenalkan siswa baru terhadap lingkungan sekolah dan teman baru mereka.
Pencatatan data siswa oleh TU, nantinya TU akan memasukkan data yang berisi identitas siswa, identitas orang tua/wali siswa, dan nilai belajar selama satu semester ke dalam buku induk siswa.
Pengorganisasian Manajemen Kesiswaan
Dalam tahap ini siswa akan dikelompokkan menjadi kelas-kelas.
Pengelompokkan kelas dilakukan setiap tahun ajaran baru. Dalam setiap kelas, wali kelas akan menjadi penanggung jawabnya. Dalam hal ini, guru bertanggung jawab terhadap pengelolaan kelas yang meliputi ruang kelas, absensi siswa, penyusunan tempat duduk, pembuatan denah kelas, dan pengisian raport.
Pelaksanaan Manajemen Kesiswaan
Sama halnya dengan pembinaan kesiswaan, pelaksanaan manajemen kesiswaan juga memberikan binaan atau pelayanan kepada siswa di sekolah, baik di dalam maupun luar jam pembelajaran di kelas. Pelaksanaan manajemen kesiswaan terdiri dari pembinaan disiplin siswa, pembinaan kegiatan intrakurikuler, dan pembinaan bakat dan minat melalui kegiatan ekstrakurikuler.
Pengawasan Manajemen Kesiswaan
Menurut Arikunto dalam Dullah & Munir (2020: 5) pengawasan adalah proses pengumpulan data yang berguna untuk mengetahui sejauh mana, dalam hal apa, dan bagian mana tujuan pendidikan yang sudah tercapai. Dalam hal ini, pengawasan manajemen kesiswaan di sekolah dilakukan oleh kepala sekolah, karena kepala sekolah yang bertanggung jawab atas segala kegiatan yang diselenggarakan di sekolah. Jika kegiatan yang dilaksanakan terdapat penyimpangan, maka sebagian besar kesalahan ini akan dilimpahkan ke kepala sekolah. Maka dari itu, kepala sekolah mempunyai tugas untuk mengawasi segala kegiatan yang berlangsung di sekolah. Pengawasan dilakukan sebagai bentuk evaluasi dan refleksi sekolah, yang nantinya akan menjadi perbaikan.
DAFTAR RUJUKAN
BBC Indonesia. (2012, November 27). Peringkat sistem pendidikan Indonesia terendah di dunia. Dipetik September 4, 2023, dari BBC Indonesia: https://www.bbc.com/indonesia/majalah/2012/11/121127_education_ranks
Dullah, Y., & Munir, M. (2020). Manajemen Kesiswaan di SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu) Harapan Mulia Palembang. Studia Manageria, 2(1), 1-12.
Fadhilah, F. (2019). Prinsip-Prinsip Dasar Manajemen Kesiswaan di Sekolah. Serambi Tarbawi, 7(2), 163-174.
Fadhilah. (2018). Manajemen Ksiswaan di Sekolah. PT. Nasya Expanding Management. Pekalongan.
Haetami. (2023). Managemen Pendidikan Pada Era Perkembangan Teknologi. CV Jejak. Jawa Barat.
Nida, H. K. (2018, Desember 13). Problem Pendidikan. Dipetik September 4, 2023, dari Kompasiana: https://www.kompasiana.com/hanakn/5c11b6dbc112fe104c000e54/problem-pendidikan
Putri, M., Giatman, M., & Ernawati, E. (2021). Manajemen Kesiswaan Terhadap Hasil Belajar.
Sulfikram. (2021). Pengaruh Pelaksanaan Manajemen Kesiswaan Terhadap Sistem Kearsipan Di SMA Negeri 12 Maros. Skripsi, 25-27.
Zebua, R. S. Y., Hamsiah, A., Dharmayanti, P. A., Suharyatun, S., Kurnia, L. I., Sudadi, S., & Ramli, A. (2023). Buku Ajar Manajemen Pendidikan. PT. Sonpedia Publishing Indonesia. (*/)
Oleh : (*/)Kelompok 2
- Hanifah Aulia Balqis (2227210080)
- Ifdathi Zahra Khumairoh (2227210101)
- Maulia Rahmawati (2227210102)
- Lukman Nulhakim
- Firdaus
#Artikel
Komentar