Sambut Hari Lingkungan Hidup Bersama WALHI, Pena Masyarakat Ajak Bergerak Bangun Kekuatan Mewujudkan Keadilan Ekologis

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Sambut Hari Lingkungan Hidup Bersama WALHI, Pena Masyarakat Ajak Bergerak Bangun Kekuatan Mewujudkan Keadilan Ekologis

Minggu, 02 Juni 2024
Kegiatan Pena Masyarakat Banten

Sambut Hari Lingkungan Hidup Bersama WALHI, Pena Masyarakat Ajak Bergerak Serentak Bersama Rakyat 
Bangun Kekuatan Mewujudkan Keadilan Ekologis

SERANG— Kebijakan politik dan ekonomi yang berfokus pada pertumbuhan dan akumulasi modal dinilai telah memperburuk penderitaan rakyat, menyebabkan bencana ekologis dan perampasan ruang hidup.

Hal itu berdasarkan Tinjauan Lingkungan Hidup (TLH) WALHI 2024 yang menyoroti kegagalan agenda lingkungan hidup dalam pemerintahan Jokowi, yang menyebabkan krisis saat ini. Pemerintah terus mengejar dana luar negeri dengan mengobral sumber daya alam, menciptakan utang negara sebesar Rp 7.014,58 triliun per Februari 2022.

Ketergantungan ini dimanfaatkan oleh oligarki untuk mengendalikan politik sumber daya alam, dengan kebijakan yang menguntungkan korporasi dan mengabaikan masyarakat sipil, seperti UU Minerba, UU Cipta Kerja, dan Proyek Strategis Nasional.


Salah satu contoh kebijakan yang mengorbankan keselamatan rakyat adalah polusi udara dari PLTU Suralaya di Banten. Menurut riset Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), polusi dari PLTU ini menyebabkan 1.470 kematian setiap tahun dan kerugian kesehatan hingga Rp 14,2 triliun. Polusi ini berdampak buruk pada masyarakat sekitar, termasuk Serang dan Cilegon yang berpenduduk 13 juta jiwa, serta menjadi penyumbang utama polusi udara di Jakarta dan sekitarnya. Tak jera dengan kegagalan PLTU, pemerintah memprogramkan pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi di Padarincang.

Persoalan lingkungan lainnya di Banten meliputi banjir setiap musim hujan, tambang pasir laut, dan masalah sampah yang tak kunjung teratasi. Pertumbuhan populasi dan urbanisasi meningkatkan volume sampah, sementara tempat pembuangan akhir di Banten sudah melebihi kapasitas. Pengelolaan sampah yang buruk menyebabkan pencemaran tanah dan air serta masalah kesehatan bagi penduduk sekitar.

Sungai-sungai seperti Ciujung dan Cisadane tercemar oleh limbah industri, dan limbah beracun dari industri di Tangerang dan Cilegon mengancam sumber daya air. Pencemaran dari limbah industri dan rumah tangga merusak kualitas air laut dan kesehatan biota laut, termasuk kerusakan terumbu karang dan ekosistem laut (Utamanya Kerusakan Mangrove).

Aktivitas pertambangan pasir di Serang dan Lebak menyebabkan erosi, sedimentasi, dan hilangnya habitat. Pembangunan infrastruktur seperti jalan tol dan perumahan sering mengabaikan aspek lingkungan, menyebabkan perubahan tata guna lahan dan kerusakan ekosistem alami.

Kebijakan ugal-ugalan yang terus dipraktekkan oleh rezim tentu tak bisa dibiarkan terus merusak sendi-sendi kehidupan. Rakyat harus segera mengkonsolidasikan kekuatan dan memobilisasi perlawanan.

Dalam rangka menyambut Hari Lingkungan Hidup pada 5 Juni nanti, WALHI bersama perwakilan rakyat dari seluruh nusantara menggelar Pekan Rakyat Lingkungan Hidup di Banten dari 2-5 Juni 2024. Rangkaian kegiatan Pekan Rakyat Lingkungan Hidup dimulai dengan menggelar kampanye di lokasi Car Free Day, di Kota Serang.

Kampanye melibatkan Perwakilan dari WALHI, Pena Masyarakat, Dompet Duafa dan sejumlah komunitas.

Menurut Perwakilan Pena Masyarakat Banten, Aeng pemilihan Banten sebagai tuan rumah Pekan Rakyat Lingkungan Hidup menjadi penanda makin buruknya pengelolaan lingkungan di Daerah ini. Kampanye di lokasi di lokasi Car Free Day adalah sebuah upaya untuk menyampaikan pesan kepada publik.

"Jika kebijakan pemerintah terus pengembangn mendukung indutri ekstraktif,  maka masyarakat harus siap bersama bencana. Namun jika rakyat ingin berdaulat atas sumber-sumber penghidupan, menikmati kualitas lingkungan dan kualitas hidup yang layak, maka tidak pilihaan lain selain berjuang. Untuk itu melalui momentum Car Free Day, Aeng mengundang warga Kota $erang untuk ambil bagian dalam aksi-aksi menolak eksapansi industri ekstraktif dan segaka bentuk kebijakan yang merusak lingkungan dan merampas ruang hidup rakyat," tandasnya.

Adapun Lembaga yang tergabung Aksi Car Free Day “Pulihkan Banten Pulihkan Indonesia” diantaranya dari WALHI,
Pena Masyarakat, DMC Dompet Dhuafa,
DD Volunteer Banten, KMPLHK RANITA UIN Jakarta KMS 30, IPNU Kab. Serang
Mahasiswa UNTIRTA, Mahasiswa UIN Banten, Mahasiswa UPG (*/red)

#LingkunganHidup

close