Aktivis senior Cilegon, Mulyadi Sanusi
CILEGON— Dampak dari pencabutan aliran listrik di Masjid Agung Cilegon oleh pihak PLN Cabang Cilegon, pada beberapa hari yang lalu membuat gejolak protes dari berbagai kalangan di kota santri tersebut.
Selain ramai di Media Sosial, aktivis senior Kota Cilegon, Mulyadi Sanusi juga menyampaikan protes kerasnya.
"Seharusnya PLN sebagai perusahaan BUMN bisa bijaksana terhadap tempat ibadah. Apalagi ini masjid, mayoritas Muslim di Cilegon, dan sangat sensitif, bahkan ada versi meyebut salah satu pemicu terjadinya peristiwa berdarah Geger Cilegon 1888 adalah karena pemerintah Hindia Belanda mengganggu aktivitas ibadah di masjid," ungkapnya. Selasa (28/1/2025).
Aktivis yang akrab disapa Cak Moel ini juga menyayangkan pencabutan listrik di masjid yang berada di pusat Kota Cilegon itu bisa mengganggu ummat Islam menjalankan ibadah Shalat 5 waktu.
"Apalagi ini bertepatan dengan Isra Mi'raj, momen turunya perintah Shalat untuk ummat Islam. Jelas ini sangat miris kami masyarakat Cilegon mengetahui tindakan oknum pimpinan PLN Cabang Cilegon ini," tegasnya.
Untuk itu, selain mengajak elemen masyarakat menggelar aksi demonstrasi. Cak Moel juga mendesak pimpinan PT PLN (Persero) pusat untuk melakukan evaluasi terhadap pimpinan cabang Cilegon.
"Masyarakat Cilegon jangan diam, kita harus demo agar pusat tahu dan pecat Pimpinan PLN Cabang Cilegon," tandasnya.
Sementara itu, Humas PLN Cilegon, Nurul Azhar saat coba dikonfirmasi terkait alasan pemutusan aliran listrik di Masjid Agung dan memicu gejolak masyarakat, hingga kini belum merespon pertanyaan wartawan. (*/red)
#SosialKeagamaan
Komentar