Suasana Landmark Cilegon, warga bertakbir keliling dan menyalakan kembang api dan flare
CILEGON— Di penghujung bulan suci Ramadhan 1447 Hijriyah, gema takbir yang dikumandangkan ummat Islam di Kota Cilegon dari speaker masjid. Namun tidak sedikit masyarakat di kota industri tersebut yang memilih melakukan takbir keliling, pada Sabtu (21/3/2026) malam.
Dengan kendaraan truk dan losbak atau pick up, hingga konvoi kendaraan roda dua. Warga membawa pengeras suara untuk bertakbir diiringi dengan alat musik tradisional seperti bedung, kendang hingga sound modern, seolah merayakan pesta kemenangan setelah sebulan berpuasa.
Kemeriahan malam takbir terlihat di kawasan perkotaan Cilegon yang begitu gegap gempita dengan suara dan visual nyala kembang api yang seolah tanpa henti mewarnai langit Cilegon sepanjang malam.
"Jelas malam takbir lebih meriah dari pesta malam tahun baru yang meriah pada kisaran pukul 00.00 WIB saja. Sedangkan lihat ini dari habis maghrib sampai sekarang bahkan sampai pagi nyala kembang api gak berhenti- berhenti. Ditambah suara takbir dan bedug bersahutan dari kampung ke kampung," ujar Sarif, warga Cilegon yang ikut takbir berkeliling dengan manaiki losbak.
"Kemarin kan sudah ada yang lebaran, kalau bareng mah bisa lebih ramai lagi. Walaupun Cilegon sekarang dijuluki kota industri, tapi masyarakat aslinya mayoritas muslim yang religius, karena secara historis Cilegon dulu merupakan wilayah penyangga Kesultanan Islam Banten," sambungnya.
Dari pantauan langsung di sepanjang jalan protokol Cilegon, yakni Simpang hingga kawasan Cibeber. Iring-iringan kendaraan takbir keliling silih berganti melintas.
Titik puncak kemeriahan terlihat di kawasan Simpang Landmark, Bonakarta dan Eks Matahari Plaza yang terjadi kepadatan kendaraan yang berjalan merayap. Di mana warga yang didominasi kalangan muda ini menyalakan kembang api dan flare seolah tanpa jeda menjadi kemeriahan tersendiri di hari kemenangan, meledak dibarengi kilau cahaya yang beragam warna-warni menghiasi langit pusat kota Cilegon.
Dengan banyaknya petugas kepolisian dari Polres Cilegon yang berjaga dan mengatur lalu lintas di titik-titik keramaian dan kemeriahan, pesta malam takbir ini bisa berjalan tertib dan kondusif.
Setelah di pusat kota, rombongan jama'ah takbir keliling juga terpantau melintas ke jalan-jalan simpul kota. Keramaian ini berlangsung sepanjang malam, dari selepas waktu Isya, dan menjelang subuh mereka pulang untuk menjalankan shalat shubuh dan bersiap ikut sholat 'ied berjama'ah.
Di tingkatan tertentu memang menjadi kewajaran karena ummat Islam sedang merayakan hari kemenangan setelah sebulan berpuasa untuk menyambut dan merayakan Hari Raya Idul Fitri.
Meski idealnya, takbir dilantunkan dengan menghayati dan memaknai takbir sebagai ekspresi kesadaran akan Kebesaran Allah SWT dan tidak ada Tuhan yang patut disembah selain Dia. Ekspresi setelah menjalani peragian puasa, dari tarawihnya sebulan penuh, dari tahajjud serta amalan-amalan lainnya. Maka dipenghujung Ramadhan, lahirlah pengakuan diri dan terucaplah: "Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar Laa Ilaahaillallahualllahu Akbar, Allahukbar walillahilhamd...".
Karena, bahkan dikalangan para sufi atau pejalan tasawuf, mereka justru bersedih dan menangis ditinggalkan bulan suci Ramadhan, bulan yang begitu mulia, bulan penuh rahmat, maghfirah dan itskuminannar. Bulan di mana amal kebaikan dilipat gandakan, do'a didengar serta banyak keutamaan dan kebaikan lainnya. (*/red)
#Peristiwa
Komentar