Kartini, Literasi, dan Nafas Intelektualitas Perempuan: Sebuah Manifesto Generasi

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Kartini, Literasi, dan Nafas Intelektualitas Perempuan: Sebuah Manifesto Generasi

Senin, 20 April 2026


​Oleh : Arifin Al Bantani

​Lebih dari seabad silam, di dalam sepi tembok pingitan Jepara, Raden Adjeng Kartini tidak sedang sekadar meratapi nasib. Ia sedang melakukan tindakan paling subversif pada masanya: berpikir dan menulis. Melalui surat-surat yang melintasi samudera, Kartini menjahit gagasan tentang kemerdekaan pikiran. Hari ini, di tengah riuh rendah era digital, kita perlu bertanya: apakah perayaan Hari Kartini setiap 21 April masih merupakan sebuah perenungan ideologis, atau telah menyusut menjadi sekadar karnaval busana tahunan?

​Menembus Belenggu Literasi

​Bagi Kartini, pendidikan bukan sekadar alat untuk meraih status sosial atau mencari penghidupan. Dalam salah satu korespondensinya, ia menegaskan bahwa pendidikan adalah upaya untuk "memperluas budi dan pikiran." Di era Gen Z dan Alpha saat ini, tantangan kita bukan lagi kelangkaan informasi, melainkan anarki informasi.

​Menghidupkan kembali semangat Kartini hari ini berarti memiliki ketajaman literasi. Menjadi "Kartini masa kini" adalah keberanian untuk bersikap skeptis terhadap hoaks, memiliki kedalaman dalam menganalisis data, dan menggunakan teknologi bukan sebagai alat konsumerisme, melainkan instrumen pemberdayaan sosial. Kartini adalah pelopor intellectual activism; ia membuktikan bahwa pena dan pemikiran yang tajam mampu meruntuhkan tembok-tembok tradisi yang jumud.

​Resonansi Intelektual: Dari Khadijah hingga Kartini

​Perjuangan Kartini untuk hak-hak pendidikan dan kedaulatan berpikir sebenarnya memiliki akar yang sangat dalam dalam sejarah peradaban, terutama dalam tradisi Islam yang luhur. Semangat Kartini beresonansi kuat dengan ketangguhan para wanita hebat di awal masa kenabian.

​Kita mengenal Sayyidah Khadijah al-Kubra, seorang pebisnis ulung yang kemandirian ekonominya menjadi pilar utama dakwah kemanusiaan. Kita juga melihat jejak intelektual pada Aisyah binti Abu Bakar r.a., seorang guru besar yang menjadi rujukan ilmu hadis dan hukum bagi kaum pria pada zamannya. Jika Kartini berjuang mendirikan sekolah, sejarah Islam telah mencatat Fatima al-Fihri, pendiri Universitas Al-Qarawiyyin—universitas pertama di dunia yang memberikan gelar akademik.

​Tokoh-tokoh ini, sebagaimana Kartini, membuktikan bahwa emansipasi bukanlah konsep impor yang asing. Ia adalah fitrah kemanusiaan. Menjadi wanita yang berdaya secara intelektual dan mandiri secara ekonomi adalah sebuah amanah sejarah. Kartini dan para srikandi peradaban Islam telah memberikan cetak biru bahwa perempuan tidak perlu menanggalkan identitasnya untuk menjadi pemimpin bagi zamannya.

​Melampaui Simbolisme, Menuju Substansi

​Seringkali, apresiasi kita terhadap Kartini terjebak pada simbolisme lahiriah—kebaya dan sanggul. Tentu, merayakan identitas budaya itu mulia, namun esensi perjuangannya adalah kesetaraan akses dan kesempatan.

​Dunia hari ini tidak lagi membedakan kecakapan berdasarkan gender, melainkan berdasarkan kapasitas. Semangat Kartini harus dimaknai sebagai dukungan bagi setiap individu untuk mengejar mimpi tanpa batas stigma. Baik itu menjadi seorang teknokrat di bidang kecerdasan buatan (AI), atlet profesional, hingga ibu rumah tangga yang cerdas mengelola pendidikan anak di rumah; semua memiliki nilai yang setara selama dilakukan dengan kesadaran penuh dan kemerdekaan berpikir.

​Penutup: Menjaga Api Terap Tetap Menyala

​"Habis Gelap Terbitlah Terang" bukanlah sebuah janji yang jatuh dari langit. Ia adalah sebuah proses perjuangan kolektif yang tak kenal lelah.

​Menjadi relevan dengan semangat Kartini berarti berani menjadi suara bagi mereka yang senyap. Di dunia yang semakin bising oleh media sosial, suara yang paling berharga adalah suara yang membawa perubahan positif dan membela keadilan.

​Kartini pernah meminta dalam suratnya kepada Estella Zeehandelaar, "Panggil aku Kartini saja." Sebuah permintaan bersahaja yang meruntuhkan kasta dan formalitas. Inilah pesan bagi kita: kembalilah ke substansi. Jadilah manusia yang bermanfaat, yang pikirannya melampaui masanya, dan yang tindakannya menjadi obor bagi sesama. Kegelapan mungkin telah berlalu, namun menjaga agar "Terang" tetap menyala adalah tugas abadi kita semua. (*/)

(*/) Ustadz Arifin Al Bantani
Pemula merupakan pegiat sosial keagamaan di Kota Cilegon 

#Opini
close