Oleh Arifin Al Bantani
Di tengah arus globalisasi yang melintasi batas negara, budaya, dan keyakinan, sering muncul pertanyaan yang berulang: apakah Islam dan budaya berada dalam dua kutub yang saling berhadapan? Sebagian memandang budaya sebagai warisan yang harus dipertahankan, sementara sebagian lain mencurigainya sebagai sesuatu yang berpotensi mencemari kemurnian agama. Padahal, sejarah justru menunjukkan bahwa Islam tumbuh besar bukan dengan memusnahkan budaya, melainkan dengan memurnikan nilai, mengarahkan makna, dan memuliakan martabat manusia.
Islam datang membawa wahyu, bukan membawa satu paket budaya tertentu. Karena itu, ketika risalah Islam memasuki Persia, Afrika, Nusantara, hingga Eropa, wajah peradabannya tampil beragam tanpa kehilangan substansi. Bahasa, pakaian, seni, arsitektur, bahkan tradisi lokal berkembang sesuai karakter masyarakat masing-masing, selama tidak bertentangan dengan prinsip tauhid, keadilan, dan akhlak mulia.
Di Nusantara, para ulama terdahulu memahami kenyataan ini dengan sangat arif. Mereka tidak memulai dakwah dengan memutus akar budaya masyarakat, tetapi dengan menyiramnya menggunakan nilai-nilai Islam. Tradisi diberi ruh, kesenian diberi arah, adat diberi etika. Dari sinilah lahir wajah Islam Indonesia yang ramah, santun, dan berakar kuat di tengah masyarakat.
Budaya pada hakikatnya adalah hasil ikhtiar manusia dalam merespons kehidupan. Ia adalah kumpulan nilai, simbol, bahasa, seni, dan kebiasaan yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Islam tidak memusuhi kreativitas manusia. Sebaliknya, Islam mengajarkan bahwa manusia adalah khalifah yang bertugas membangun peradaban. Karena itu, budaya yang memperkuat persaudaraan, menumbuhkan gotong royong, menghormati orang tua, memuliakan ilmu, dan menjaga kelestarian alam adalah ruang yang sangat dekat dengan pesan-pesan Islam.
Persoalannya muncul ketika budaya kehilangan orientasi moral. Budaya dapat berubah menjadi sekadar hiburan tanpa hikmah, kebebasan tanpa batas, atau tradisi tanpa makna. Pada titik inilah agama hadir sebagai kompas etik. Islam bukan lawan budaya, tetapi cahaya yang menerangi budaya agar tidak kehilangan arah.
Sebaliknya, agama pun memerlukan ruang budaya agar nilai-nilainya dapat hidup dalam keseharian masyarakat. Kejujuran bukan hanya diajarkan di mimbar, tetapi dibudayakan dalam perdagangan. Kepedulian tidak berhenti pada ceramah, tetapi menjadi tradisi berbagi. Menghormati orang tua bukan sekadar ayat yang dibaca, melainkan kebiasaan yang diwariskan. Ketika nilai agama menjadi budaya, di situlah peradaban menemukan kekuatannya.
Hari ini, tantangan terbesar bukan lagi benturan antara Islam dan budaya lokal, melainkan derasnya budaya global yang sering kali mengikis identitas. Media sosial menghadirkan gaya hidup instan, budaya konsumtif, dan ukuran kesuksesan yang semata-mata material. Generasi muda perlahan mengenal lebih banyak tokoh digital daripada ulama, lebih akrab dengan tren viral daripada sejarah bangsanya sendiri.
Karena itu, tugas umat Islam bukan sekadar mempertahankan tradisi, tetapi juga menciptakan budaya baru yang lebih bermartabat. Budaya membaca, budaya berdialog, budaya literasi digital, budaya menjaga lingkungan, budaya disiplin, budaya riset, budaya menghargai perbedaan, dan budaya inovasi adalah bagian dari jihad peradaban yang sangat relevan di abad ini.
Islam tidak cukup hanya hadir di masjid. Islam harus hadir di ruang seni, dunia pendidikan, laboratorium, pasar, kantor, ruang digital, hingga pusat-pusat kebudayaan. Sebab peradaban besar selalu lahir ketika agama melahirkan etika, ilmu melahirkan kemajuan, dan budaya melahirkan karakter.
Maka, merawat budaya bukan berarti mengagungkan masa lalu. Mengembangkan budaya juga bukan berarti meninggalkan agama. Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk menjadikan wahyu sebagai sumber nilai dan budaya sebagai medium peradaban.
Sebab pada akhirnya, sebuah bangsa tidak hanya dikenang karena gedung-gedungnya yang tinggi, tetapi karena budayanya yang luhur. Dan budaya tidak akan menjadi luhur tanpa nilai yang membimbingnya. Di situlah Islam hadir, bukan untuk menghapus budaya, melainkan untuk mengangkatnya menjadi jalan menuju kemuliaan manusia.
" Agama memberi arah, budaya memberi warna. Ketika keduanya berjalan seiring, lahirlah peradaban yang bukan hanya maju, tetapi juga bermartabat." (*/)
(*/) Ustadz Arifin Al Bantani
Penulis adalah pegiat sosial keagamaan di Kota Cilegon
#Opini
Komentar