Oleh: Arifin Al Bantani
Ada sesuatu yang sedang berubah di bawah permukaan laut.
Kita mungkin tidak melihatnya dari daratan. Ombak tetap datang dan pergi; kapal tetap berlayar; nelayan tetap membaca arah angin; dan matahari tetap terbit di ufuk timur. Namun di balik ketenangan permukaannya, laut sesungguhnya sedang menyimpan sebuah catatan panjang tentang perubahan bumi.
Laut adalah salah satu termometer terbesar bagi planet kita.
Sebagian besar kelebihan panas yang terperangkap dalam sistem iklim bumi diserap oleh lautan. Karena itu, ketika suhu bumi berubah, laut ikut merekamnya. Ia menyimpan panas, memindahkannya melalui arus, memengaruhi atmosfer, dan pada akhirnya ikut menentukan wajah iklim yang kita rasakan.
Laut bukan sekadar hamparan air.
Ia adalah arsip termal bumi.
Di kedalamannya tersimpan jejak perubahan yang mungkin tidak segera terasa oleh manusia, tetapi perlahan memengaruhi kehidupan di seluruh planet.
Subhanallah.
Laut yang Diam, tetapi Tidak Pernah Pasif
Selama berabad-abad manusia memandang laut terutama sebagai ruang pemisah antarbenua. Padahal, secara ilmiah, laut justru menjadi salah satu penghubung utama sistem kehidupan bumi.
Air laut bergerak melalui arus yang sangat luas. Panas dari satu wilayah dapat dipindahkan menuju wilayah lain. Penguapan laut membentuk awan dan memengaruhi curah hujan. Laut juga menyerap sebagian karbon dioksida dari atmosfer dan menjadi rumah bagi ekosistem yang sangat kompleks.
Dengan kata lain, laut ikut menjaga keseimbangan planet.
Tetapi keseimbangan itu bukan sesuatu yang tak terbatas.
Ketika laut terus menerima panas dalam jumlah besar, konsekuensinya dapat menjalar ke berbagai sistem. Air yang menghangat mengalami pemuaian dan berkontribusi terhadap kenaikan permukaan laut. Pemanasan dan perubahan kimia laut juga memberikan tekanan terhadap ekosistem, termasuk terumbu karang dan berbagai organisme yang bergantung pada kondisi laut tertentu.
Laut akhirnya menjadi semacam cermin.
Ia memantulkan apa yang terjadi di atmosfer.
Dan terkadang, cermin itu menunjukkan sesuatu yang tidak ingin kita lihat.
Kita Tidak Sedang Berbicara Hanya tentang Angka
Dalam diskusi mengenai perubahan iklim, manusia sering terjebak pada angka.
Berapa derajat kenaikannya?
Berapa milimeter permukaan laut bertambah?
Berapa banyak karbon yang dilepaskan?
Semua itu penting.
Tetapi di balik angka terdapat kehidupan.
Ada nelayan yang menghadapi perubahan kondisi laut.
Ada masyarakat pesisir yang berhadapan dengan risiko banjir rob.
Ada terumbu karang yang sensitif terhadap perubahan suhu.
Ada ikan yang mengikuti perubahan habitat dan arus laut.
Ada pulau-pulau kecil yang masa depannya sangat bergantung pada stabilitas ekosistem pesisir.
Maka perubahan iklim bukan hanya persoalan atmosfer.
Ia adalah persoalan kemanusiaan.
Laut dan Amanah Kekhalifahan
Al-Qur'an mengingatkan manusia:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia...” (QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini tidak boleh digunakan secara serampangan sebagai "ramalan ilmiah" tentang perubahan iklim modern. Namun ia memberikan prinsip etis yang sangat kuat: manusia harus menyadari bahwa tindakannya memiliki konsekuensi terhadap lingkungan.
Di sinilah agama memberikan sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh termometer, satelit, atau model komputer:
kesadaran moral.
Sains memberi tahu kita apa yang sedang terjadi.
Etika bertanya: apa yang harus kita lakukan?
Dan agama mengingatkan: apa yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan.
Laut Tidak Mengenal Batas Negara
Salah satu pelajaran terbesar dari laut adalah bahwa alam tidak mengenal garis politik.
Karbon yang dilepaskan di satu belahan bumi dapat memengaruhi sistem iklim global.
Perubahan suhu laut di satu wilayah dapat memengaruhi ekosistem dan pola cuaca yang jauh di tempat lain.
Sampah plastik yang dibuang ke sungai akhirnya dapat bermuara ke laut.
Karena itu, persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya dengan ego nasional.
Kita membutuhkan kesadaran bahwa bumi adalah rumah bersama.
Indonesia memiliki alasan yang sangat kuat untuk mengambil bagian dalam percakapan global tersebut. Sebagai negara kepulauan dengan wilayah laut yang luas dan jutaan manusia yang kehidupannya berkaitan dengan laut, perubahan kondisi samudra bukanlah isu yang jauh.
Ia berada di depan pintu rumah kita.
Dari Laut Kita Belajar tentang Kesabaran
Ada sesuatu yang menarik dari laut.
Ia tidak berteriak ketika menyerap panas.
Ia tidak mengeluh ketika menerima limbah.
Ia hanya menyimpan.
Tetapi menyimpan bukan berarti tidak mengalami perubahan.
Pada titik tertentu, apa yang tersimpan akan memengaruhi sistem yang lebih luas.
Bukankah demikian pula kehidupan manusia?
Keburukan yang kecil jika terus dikumpulkan dapat menjadi kerusakan besar.
Keserakahan yang dianggap sepele jika dilakukan berjuta-juta manusia dapat menjadi krisis ekologis.
Satu plastik mungkin tampak tidak berarti.
Satu pohon yang ditebang mungkin terasa kecil.
Satu kendaraan yang menghasilkan emisi mungkin tidak terlihat dampaknya.
Tetapi peradaban terdiri atas miliaran tindakan kecil.
Karena itu, kerusakan lingkungan sering kali bukan lahir dari satu tindakan besar, melainkan dari akumulasi tindakan kecil yang terus dibiarkan.
Teknologi Harus Menjadi Jalan Pulang
Kita tidak boleh berhenti pada rasa takut.
Perubahan iklim membutuhkan ilmu pengetahuan, teknologi, kebijakan, dan perubahan perilaku.
Kita membutuhkan energi yang lebih bersih.
Kita membutuhkan perlindungan ekosistem pesisir.
Kita membutuhkan pengelolaan sampah yang lebih baik.
Kita membutuhkan penelitian kelautan yang lebih kuat.
Dan yang tidak kalah penting, kita membutuhkan pendidikan yang menanamkan kesadaran ekologis sejak dini.
Teknologi bukan musuh alam.
Teknologi dapat menjadi bagian dari solusi apabila ditempatkan di bawah kendali etika.
Satelit membantu kita memantau perubahan laut.
Sensor membantu para ilmuwan membaca suhu dan kondisi perairan.
Model komputer membantu memproyeksikan perubahan iklim.
Energi terbarukan membantu mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Tetapi semua teknologi itu tetap membutuhkan manusia yang memiliki kebijaksanaan.
Sebab masalah bumi bukan hanya masalah kemampuan.
Sering kali ia adalah masalah kemauan.
Laut sebagai Ayat Kauniyah
Al-Qur'an berkali-kali mengajak manusia memperhatikan alam.
Langit.
Bumi.
Gunung.
Laut.
Pergantian siang dan malam.
Semua dapat menjadi jalan menuju perenungan bagi manusia yang mau berpikir.
Laut mengajarkan kepada kita bahwa sesuatu yang tampak tenang belum tentu tidak sedang mengalami perubahan.
Ia juga mengajarkan bahwa kehidupan saling terhubung.
Apa yang terjadi di atmosfer dapat dirasakan laut.
Apa yang terjadi di laut dapat memengaruhi atmosfer.
Apa yang dilakukan manusia dapat memengaruhi keduanya.
Tidak ada yang benar-benar berdiri sendiri.
Inilah salah satu keindahan ilmu ekologi: kehidupan ternyata merupakan jaringan keterhubungan yang sangat halus.
Dan semakin kita memahami keterhubungan itu, semakin kita menyadari betapa kelirunya manusia ketika merasa dirinya berdiri di luar alam.
Kita bukan penguasa yang terpisah dari bumi.
Kita adalah bagian dari bumi.
Jangan Tunggu Laut Berbicara Lebih Keras
Barangkali laut telah berbicara sejak lama.
Melalui perubahan suhu.
Melalui perubahan ekosistem.
Melalui pemutihan karang.
Melalui perubahan pola arus.
Melalui naiknya permukaan air.
Namun manusia sering baru memperhatikan setelah dampaknya menyentuh kehidupan mereka sendiri.
Karena itu, sebelum laut berbicara dengan bahasa bencana, kita harus belajar mendengarnya melalui bahasa ilmu pengetahuan.
Termometer.
Satelit.
Data.
Penelitian.
Dan kesadaran.
Sebab menjaga laut bukan hanya pekerjaan ilmuwan kelautan. Ia adalah tanggung jawab bersama.
Laut menyediakan kehidupan, tetapi kehidupan juga memiliki kewajiban untuk menjaganya.
Pada Akhirnya, Laut Mengajarkan Kerendahan Hati
Ketika kita berdiri di tepi laut, kita melihat keluasan.
Tetapi ilmu pengetahuan membuat kita melihat sesuatu yang lebih dalam.
Di balik gelombang terdapat arus.
Di balik arus terdapat energi.
Di balik energi terdapat sistem iklim.
Dan di balik seluruh keteraturan itu terdapat sebuah alam yang jauh lebih kompleks daripada kemampuan manusia untuk memahaminya secara sempurna.
Subhanallah.
Laut menjadi termometer bumi bukan karena ia berbicara dengan kata-kata, melainkan karena ia menyimpan tanda-tanda yang dapat dibaca oleh ilmu pengetahuan.
Maka tugas kita bukan sekadar mengagumi laut.
Tugas kita adalah membacanya.
Dan setelah membacanya, kita harus belajar menjaganya.
Sebab mungkin suatu hari nanti, ketika manusia bertanya mengapa bumi berubah, laut akan menjadi salah satu saksi yang paling jujur.
Ia akan mengatakan bahwa perubahan itu pernah datang perlahan.
Bahwa tanda-tandanya pernah terlihat.
Bahwa ilmu pengetahuan telah memperingatkan.
Dan bahwa manusia sebenarnya memiliki cukup waktu untuk memilih:
menjaga atau merusak;
merawat atau mengeksploitasi;
menjadi khalifah atau menjadi perusak.
Pada akhirnya, laut bukan hanya termometer bumi.
Ia adalah cermin peradaban.
Dan dari permukaannya yang luas, manusia sedang bercermin kepada dirinya sendiri.
*Sudahkah kita menjadi penjaga bumi yang diamanahkan Tuhan?* (*/)
(*/) Ustadz Arifin Albantani
Penulis merupakan pegiat sosial keagamaan di Cilegon.
#Opini
Komentar