Oleh: M. Ibrohim Aswadi
Menanggapi pernyataan Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak, yang mendorong pelibatan masyarakat lintas agama dalam penyelenggaraan pelayanan haji dengan alasan toleransi, kebinekaan, dan gotong royong, kita perlu memberikan catatan kritis.
Kita sangat menghormati toleransi, kebinekaan, dan persaudaraan ant umat beragama. Namun, toleransi tidak harus diwujudkan dengan membawa semua batas keyakinan ke dalam ruang ritual ibadah agama lain.
Haji adalah rukun Islam kelima, ibadah yang memiliki kekhususan, ketentuan, dan tata cara berdasarkan syariat Islam.
Pertanyaannya, apakah untuk menunjukkan toleransi bangsa Indonesia harus menjadikan penyelenggaraan ibadah haji sebagai simbol keterlibatan lintas agama?
Bukankah toleransi justru berarti memberikan ruang kepada setiap agama untuk menjalankan ajarannya sesuai keyakinan masing-masing?
Saudara-saudara nonmuslim tentu memiliki hak, kedudukan, dan kehormatan yang sama sebagai warga negara. Mereka dapat berkolaborasi dalam urusan kemanusiaan, pelayanan umum, kesehatan, administrasi, transportasi, dan berbagai tugas teknis pendukung.
Tetapi harus ada batas yang jelas antara pelayanan administratif dan teknis dengan urusan ritual serta pembimbingan ibadah.
Sebagaimana ditegaskan Wakil Ketua Umum MUI, KH M. Cholil Nafis, petugas lapangan dapat berasal dari kalangan nonmuslim, tetapi bukan petugas yang menangani urusan ibadah haji. Toleransi dan ukhuwah memiliki tempat dan batasnya.
Jangan sampai atas nama moderasi dan toleransi, kita justru kehilangan keberanian menjaga prinsip dan kekhususan syariat agama.
TOLERANSI BUKAN BERARTI TANPA BATAS.
Menghormati bukan berarti mencampuradukkan.
Bersaudara bukan berarti menyamakan akidah.
Bergotong royong bukan berarti mengaburkan kesakralan ibadah.
Mari membangun Indonesia yang toleran tanpa harus mengorbankan prinsip keimanan. Sebab, menjaga kerukunan adalah kewajiban kebangsaan, sedangkan menjaga akidah dan kemurnian ibadah adalah tanggung jawab keagamaan.
JANGAN MENCARI SIMBOL TOLERANSI DENGAN MENGABURKAN BATAS-BATAS SYARIAT. (*/)
(*/)M.Ibrohm Aswadi
Panglima Besar Kesatuan Aksi Jam'iyah Intifadah Muda Banten ( Kaji Muda Banten )
#Opini
Komentar