Merasa Paling Adil: Pelajaran dari Dzul Khuwaishirah dan Cermin Umat Hari Ini

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Merasa Paling Adil: Pelajaran dari Dzul Khuwaishirah dan Cermin Umat Hari Ini

Jumat, 23 Januari 2026


Oleh Arifin Al Bantani

Sejarah Islam tidak hanya dipenuhi oleh kisah kemenangan dan keteladanan, tetapi juga oleh peristiwa-peristiwa yang menjadi peringatan keras bagi umat sepanjang zaman. Salah satunya adalah kisah Dzul Khuwaishirah at-Tamimi, seorang lelaki yang berani memprotes pembagian ghanimah Rasulullah ๏ทบ. Kisah ini bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan cermin tajam bagi wajah umat Islam hari ini.

Protes yang Mengguncang Kenabian
Peristiwa ini terjadi setelah Perang Hunain. Kaum Muslimin memperoleh ghanimah yang sangat besar. Rasulullah ๏ทบ membagikan harta tersebut dengan penuh hikmah: para muallaf dan tokoh Quraisy mendapatkan bagian lebih besar agar hati mereka semakin kokoh dalam Islam, sementara kaum Anshar yang imannya telah matang menerima lebih sedikit.

Di tengah pembagian itu, muncullah Dzul Khuwaishirah. Dengan nada menuduh, ia berkata, “Wahai Muhammad, berbuat adillah.” Kalimat ini sederhana, tetapi dampaknya luar biasa. Ia bukan hanya mempertanyakan kebijakan Nabi ๏ทบ, melainkan meragukan keadilan manusia paling adil yang pernah hidup.

Rasulullah ๏ทบ menegur keras ucapannya, namun tetap menahan diri. Ketika para sahabat ingin menghukumnya, Nabi ๏ทบ justru melarang dan menyampaikan nubuat penting: dari orang seperti inilah akan lahir kaum yang rajin ibadah, membaca Al-Qur’an, tetapi keluar dari agama seperti anak panah melesat dari busurnya. Mereka kelak dikenal sebagai Khawarij.

Ibadah Tanpa Kedalaman

Khawarij bukan kelompok yang malas beribadah. Mereka shalat, puasa, dan membaca Al-Qur’an dengan intens. Namun masalah mereka bukan pada kurangnya ibadah, melainkan dangkalnya pemahaman dan hilangnya adab. Mereka mengubah agama menjadi alat penghakiman, bukan jalan rahmat.

Di sinilah kisah ini menjadi sangat relevan hari ini. Banyak umat Islam yang rajin berbicara tentang agama, tetapi mudah:
- Menghakimi sesama Muslim
- Menuduh tanpa tabayyun
- Merasa paling sunnah dan paling lurus

Ayat dan hadis dikutip tanpa konteks, lalu dijadikan senjata untuk menjatuhkan orang lain. Agama yang seharusnya menenangkan justru berubah menjadi sumber kegaduhan.

Keadilan yang Disalahpahami

Dzul Khuwaishirah gagal memahami satu hal penting: adil tidak selalu berarti sama rata. Rasulullah ๏ทบ membagikan ghanimah berdasarkan maslahat, bukan emosi atau tekanan. Namun orang yang dikuasai ego sering melihat keadilan hanya dari sudut kepentingannya sendiri.

Fenomena ini juga tampak hari ini:

- Dalam kepemimpinan umat
- Dalam pembagian peran dakwah
- Dalam pengelolaan lembaga keislaman

Ketika tidak mendapat apa yang diinginkan, sebagian orang segera menuduh zalim, tanpa mau memahami konteks dan tujuan yang lebih besar.

Media Sosial dan Lahirnya “Dzul Khuwaishirah Baru”

Di era media sosial, sikap seperti Dzul Khuwaishirah menemukan panggung yang luas. Status, komentar, dan potongan video menjadi sarana menghakimi. Banyak orang merasa menjadi pembela kebenaran, padahal yang dibela sering kali adalah ego dan kelompoknya sendiri.

Ironisnya, keberanian mengkritik tidak selalu diiringi keberanian untuk belajar. Suara paling keras sering kali datang dari pemahaman yang paling dangkal.

Teladan Nabi yang Terlupakan

Yang paling menyentuh dari kisah ini adalah sikap Rasulullah ๏ทบ. Beliau tidak reaktif, tidak membalas dengan kekerasan, dan tidak memecah umat. Nabi ๏ทบ melihat jauh ke depan, memahami akar masalah, dan mendidik dengan hikmah.

Bandingkan dengan kondisi hari ini, ketika perbedaan kecil bisa berujung pada:

- Hujatan terbuka
- Pemboikotan
- Pengkafiran terselubung

Padahal Rasulullah ๏ทบ mengajarkan bahwa persatuan umat lebih berharga daripada kemenangan debat.

Penutup: Cermin untuk Bercermin

Kisah Dzul Khuwaishirah bukan sekadar cerita tentang satu orang yang lancang, melainkan peringatan abadi tentang bahaya kesalehan tanpa adab dan semangat tanpa ilmu. Bisa jadi, tanpa sadar, setiap dari kita pernah berdiri di posisi merasa paling benar.

Maka pertanyaannya bukan lagi, “Siapa Dzul Khuwaishirah hari ini?”
Melainkan, “Apakah dalam diri kita ada sedikit sifatnya?”

Semoga kisah ini menuntun kita untuk menjadi umat yang:

- Rendah hati dalam kebenaran
- Dalam ilmunya
- Luas rahmatnya

Karena agama ini tidak tegak oleh suara paling keras, tetapi oleh akhlak yang paling jujur. (*/)

(*/) Ustadz Arifin Albantani
Penulis merupakan aktivis keagamaan di Kota Cilegon 

#Opini

close