Borobudur Writers and Cultural Festival ke-9 (BWCF) 2020

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Borobudur Writers and Cultural Festival ke-9 (BWCF) 2020

Minggu, 08 November 2020
Brousur rangkaian kegiatan Borobudur Writers and Cultural Festival

JOGJAKARTA— Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) kembali hadir untuk menemui para pecinta sastra, kesenian dan religi nusantara, dengan mengangkat tema "Bhūmiśodhana, Ekologi dan Bencana dalam Refleksi Kebudayaan Nusantara".

Pemilihan tema ini berdasar pada munculnya pandemi dan berbagai bencana alam yang telah terjadi belakangan ini, akibat ketidakmampuan atau kurang pedulinya manusia menjaga ekosistem alam. Kepekaan dalam memaknai pertanda alam diabaikan, hukum alam ketika menabur keburukan maka akan menuai keburukan pula, kurang dipedulikan. 

Pembabatan hutan menyebabkan meningkatnya panas bumi, gedung-gedung kaca memantulkan cahaya matahari kembali ke udara, awan tak terbentuk, musim panas berkepanjangan, kebakaran hutan terjadi di mana-mana. Tanah longsor karena tebing tandus tidak ada akar-akar pohon yang mengikat tanah, banjir karena penyempitan dan pendangkalan sungai, dan banyak lagi lainnya. 

Sudah terlalu banyak keburukan yang dilakukan manusia demi kelangsungan perekonomian dunia. Belum lagi wabah gizi buruk dan kelaparan yang melanda, ironi karena nusantara adalah negeri tropis yang memiliki sumber makanan sepanjang tahun. 

Bhūmiośdhana adalah upacara penyucian bumi (tanah) yang mulai dilakukan para pertapa sejak masa purwakala. Berawal untuk menentukan tempat berpijak dan hak bagi manusia, sampai untuk penyucian bumi dari aspek-aspek buruk yang telah ditimbulkan oleh manusianya sendiri. Sebab sang bumi adalah yang memberi kehidupan pada dunia, sebagaimana hukum kehidupan, sang bumi wajib memberi apa yang harus diberi, dan meminta apa yang harus diminta.

Karena manusia mahluk yang paling banyak mengambil keuntungan dari bumi, maka hendaklah mempersembahkan lebih banyak kepada bumi. Dengan kata lain, manusia wajib merawat bumi agar kehidupan dapat terus berlangsung. 

Sedangkan dalam ilmu ekologi yang mempelajari ekosistem mahluk hidup, atau pengetahuan komprehensif hubungan antara mahluk hidup dengan lingkungannya yang terdapat interaksi, ketergantungan, keanekaragaman, keharmonisan dan kemampuan berkelanjutan, maka manusia sangat berperan menjaga keseimbangan di tengah kebutuhan industri modern yang semakin tinggi. 

Menjaga keseimbangan ekologi telah ditulis dalam manuskrip kuno nusantara, ragam pengetahuan telah dicatat, seperti antisipasi dan peringatan akan terjadinya bencana, bagaimana menghadapinya, ketersediaan bermacam bahan obat-obatan dan pangan yang berasal dari tumbuhan dan hewan lokal, petunjuk untuk ladang serta perkebunan dan banyak pengetahuan ekologi lainnya. 

Maka, dalam perhelatan BWCF ke-9 ini, para pakar multidisiplin ilmu akan memaparkan bagaimana mengelola dan melestarikan lingkungan dalam kekayaan tradisi nusantara. Mengkaji dan menerapkan kembali kearifan-kearifan lokal dalam berbagai aspek yang telah terabaikan. Mulai dari tata cara bercocok tanam, pengadaan pangan lokal dan pengobatan herbal, upacara adat yang menumbuhkan penghormatan kepada bumi, sampai dengan pertunjukan seni musik, tari dan puisi-puisi yang menghormati bumi beserta segenap isi alam. 

Pelaksanaan BWCF ke-9 dilaksanakan selama lima hari, dari tanggal 19 November hingga 23 November 2020. Karena situasi pandemi, acara ini dilakukan secara daring dari Studio Banjarmili, Yogyakarta. Ketua Penelitian Paguyupan Tran Panéran Dipanegara Yogyakarta KRT Manu J. Widyaseputra akan membawakan pidato kebudayaan sebagai penanda dimulainya acara. 

Para pembicara yang berpartisipasi di BWCF kali ini di antaranya adalah Dr. Destario Metusala, Drs. Handaka Vijjaananda Apt., Dr. Lydia Kieven, Prof. Dr. Peter Carey, Dr. Phil. Ichwan Azhari, MS., Prof. Agus Aris Munandar, dan masih banyak lagi. 

Beragam program menarik bisa diikuti oleh para peserta seperti  webinar, simposium, ceramah umum, baca relief, peluncuran buku, bedah buku, workshop yoga, morning meditation, temu penerbit, forum call for papers Bhūmiśodhana, penyerahan Sang Hyang Kamahayanikan award, dan seni pertunjukan berupa tribute to Suprapto Suryodarmo dan tribute to Ajip Rosidi. 

Seluruh materi acara BWCF 2020 ini bisa disaksikan melalui Youtube di channel Borobudur Writers and Cultural Festival dan Zoom. Dan jika tertarik untuk mengikuti diskusi, bisa mendaftar dulu di *http://bit.ly/Webinar_The9thBWCF2020*

#Senibudaya
close