Oleh : Arifin Al Bantani
"Jika kiamat akan terjadi, sementara di tangan salah seorang di antara kalian terdapat bibit kurma, maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat terjadi, hendaklah ia menanamnya." (HR. Ahmad)
Di antara sekian banyak sabda Rasulullah ﷺ, mungkin tidak ada yang lebih mengejutkan sekaligus menggetarkan daripada hadis tentang menanam pohon menjelang kiamat. Dalam logika manusia, ketika dunia berada di ambang akhir, segala aktivitas tampak kehilangan makna. Tidak ada lagi masa depan yang dapat diharapkan. Tidak ada lagi hasil yang dapat dinikmati. Tidak ada lagi keuntungan yang bisa dipetik.
Namun justru pada saat itulah Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk tetap menanam.
Perintah tersebut bukan sekadar anjuran bercocok tanam. Ia adalah manifesto peradaban. Sebuah pelajaran agung tentang cara pandang seorang mukmin terhadap waktu, kehidupan, dan masa depan.
Hadis ini mengajarkan bahwa seorang beriman tidak pernah hidup dalam keputusasaan. Ia bekerja bukan semata-mata karena kepastian hasil, melainkan karena keyakinan bahwa setiap amal baik memiliki nilai di hadapan Allah. Bahkan ketika kemungkinan menikmati hasil itu nyaris tidak ada, kewajiban untuk berbuat baik tetap tidak gugur.
Di sinilah letak keagungan ajaran Islam. Harapan tidak bergantung pada keadaan, tetapi tumbuh dari keimanan. Optimisme bukan lahir karena situasi yang mudah, melainkan karena keyakinan bahwa setiap kebaikan adalah bagian dari ibadah.
Peradaban besar selalu dibangun oleh orang-orang yang menanam pohon yang tidak sempat mereka nikmati buahnya. Para pendiri bangsa menanam benih kemerdekaan yang hasilnya dirasakan generasi setelah mereka. Para ulama menulis kitab yang terus dibaca berabad-abad setelah wafatnya. Para guru mendidik murid yang kelak menjadi pemimpin. Para orang tua berkorban demi masa depan anak-anaknya.
Mereka semua adalah penanam pohon.
Sayangnya, zaman modern sering kali mendorong manusia menjadi pemburu hasil instan. Segala sesuatu diukur dari manfaat yang dapat dirasakan secepat mungkin. Kesabaran dianggap kelemahan. Proses dipandang sebagai hambatan. Akibatnya, banyak orang enggan menanam karena tidak yakin dapat segera memanen.
Padahal sejarah menunjukkan bahwa kemajuan yang berumur panjang justru lahir dari kesediaan untuk menanam tanpa tergesa-gesa memetik hasil.
Pendidikan adalah contoh paling nyata. Seorang guru tidak pernah tahu secara pasti sejauh mana pengaruh ilmu yang ia tanam hari ini. Namun ia tetap mengajar. Seorang ayah dan ibu tidak pernah mengetahui secara sempurna bagaimana masa depan anak-anaknya. Namun mereka tetap mendidik. Seorang penulis tidak pernah dapat memastikan siapa yang akan membaca dan mengambil manfaat dari tulisannya. Namun ia tetap menulis.
Mereka bekerja dengan semangat yang diajarkan Rasulullah ﷺ: menanam, meskipun mungkin bukan mereka yang akan memanen.
Lebih jauh lagi, hadis ini mengandung pesan ekologis yang sangat mendalam. Menanam pohon adalah simbol keberlanjutan kehidupan. Dalam dunia yang menghadapi krisis lingkungan, perubahan iklim, dan eksploitasi alam yang berlebihan, sabda Rasulullah ﷺ terasa semakin relevan. Islam mengajarkan bahwa bumi bukan warisan nenek moyang yang boleh dihabiskan sesuka hati, melainkan titipan yang harus diserahkan kepada generasi berikutnya dalam keadaan yang lebih baik.
Karena itu, setiap upaya menjaga lingkungan, membangun pendidikan, memperkuat ekonomi umat, memberantas kebodohan, dan membentuk karakter generasi muda sesungguhnya adalah bentuk-bentuk "menanam pohon" dalam makna yang lebih luas.
Kita mungkin tidak akan menyaksikan seluruh hasilnya. Namun sejarah tidak pernah dibangun oleh mereka yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Sejarah dibangun oleh orang-orang yang mampu melihat jauh melampaui usianya.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki banyak penanam pohon. Mereka yang rela bekerja dalam sunyi, berkorban tanpa banyak pujian, dan menanam harapan untuk masa depan yang mungkin tidak sempat mereka saksikan.
Di tengah dunia yang sering dipenuhi pesimisme, konflik, dan ketidakpastian, hadis ini hadir sebagai pelita. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa selama kehidupan masih berdenyut, selama kesempatan berbuat baik masih terbuka, maka harapan tidak boleh padam.
Sebab seorang mukmin sejati bukanlah orang yang sibuk menghitung berapa banyak buah yang akan dipetiknya. Ia adalah orang yang terus menanam kebaikan, bahkan ketika dunia tampak berada di penghujung usianya.
Dan boleh jadi, bukan pohon yang ditanam itu yang paling berharga di sisi Allah, melainkan keyakinan, ketulusan, dan optimisme yang tumbuh di dalam hati orang yang menanamnya. (*/)
(*/) Ustadz Arifin Albantani
Penulis merupakan pegiat sosial keagamaan di Kota Cilegon
#Opini
Komentar