Oleh : Arifin Al Bantani
Aku memasuki gerbang Al-Jurumiyah bukan sebagai penghafal matan, melainkan seorang musafir yang kehilangan alamat pulang.
Seorang syekh tua berbisik,
"Jika engkau ingin mengenal Tuhan, tertibkanlah dahulu bahasamu; sebab semesta pun diciptakan dengan kalam yang teratur."
Maka aku belajar,
bahwa hidup adalah kalimat besar.
Di dalamnya ada Isim, yang mengajarkan jati diri.
Ada Fi'il, yang menuntut ikhtiar.
Ada Harf, yang diam-diam menyambungkan langit dengan bumi, manusia dengan sesamanya, dan hamba dengan Rabb-nya.
Aku mencari 'Amil, hingga kusadari,
cinta kepada Allah-lah 'amil terbesar yang menggerakkan seluruh amal.
Sedang diriku hanyalah Ma'mul, yang tak pernah mampu berdiri tanpa kehendak-Nya.
Di hadapan Mubtada aku belajar memulai.
Di hadapan Khabar aku belajar menyempurnakan.
Di hadapan Na'at, aku belajar memperindah akhlak.
Di hadapan Taukid, aku meneguhkan iman.
Di hadapan Badal, aku memahami bahwa generasi silih berganti, tetapi perjuangan tak boleh mati.
Pada 'Athaf, aku menemukan persaudaraan.
Pada Munada, aku mendengar panggilan,
"Yā ayyuhalladzīna āmanū..."
Dan setiap kali ayat itu bergema, aku tahu, Allah sedang memanggil namaku.
Aku melewati lembah Hal, karena manusia selalu dinilai oleh keadaan.
Aku mendaki bukit Tamyiz, agar mampu membedakan antara ilmu dan kesombongan, antara ibadah dan kebanggaan, antara dakwah dan ketenaran.
Aku menyeberangi sungai Istitsna', sebab hidup selalu dipenuhi pengecualian, namun rahmat Allah tak pernah mengecualikan mereka yang kembali.
Kemudian I'rab mengubah seluruh cara pandangku.
Rafa' mengangkatku bukan karena kedudukan, tetapi karena ilmu.
Nashab membuatku letih, agar aku mengerti bahwa pengorbanan adalah harga sebuah kemuliaan.
Jar menundukkan kepalaku, hingga aku tak lagi mabuk pujian.
Jazm memotong segala keraguan, agar langkahku lurus menuju ridha-Nya.
Lalu datang Sharaf...
Ia mengajariku bahwa manusia terbaik adalah mereka yang berani berubah.
Dari Fi'il Madhi aku membaca sejarah para nabi.
Dari Mudhari' aku menulis harapan.
Dari Amr aku belajar keberanian.
Pada Tashrif, aku menyaksikan satu akar melahirkan ribuan makna.
Bukankah demikian pula seorang mukmin?
Satu iman, namun melahirkan seribu kebajikan.
Satu sujud, namun menggetarkan langit.
Kemudian aku memasuki taman Tajwid.
Di sana lidahku dimandikan adab.
Makharijul Huruf mengajariku, bahwa setiap suara harus lahir dari tempat yang benar.
Shifatul Huruf berbisik,
"Akhlak manusia adalah sifat bagi lisannya."
Pada Idzhar, aku belajar kejujuran.
Pada Ikhfa', aku menyembunyikan amal.
Pada Idgham, aku meleburkan ego.
Pada Iqlab, aku membalik kesombongan menjadi syukur.
Pada Ghunnah, dadaku bergetar oleh rindu kepada Kalam-Nya.
Pada Qalqalah, aku mendengar jantungku sendiri memanggil nama Allah.
Pada Mad Thabi'i, aku memanjangkan syukur.
Pada Mad Lazim, aku memanjangkan sabar.
Pada Tafkhim, aku mengagungkan kebesaran-Nya.
Pada Tarqiq, aku melembutkan hati agar air mata mudah jatuh.
Ketika tiba di Waqaf, aku sadar,
setiap kehidupan akan berhenti.
Dan pada Ibtida', aku mengerti,
setiap kematian adalah permulaan.
Kini aku tahu...
Nahwu bukan sekadar kaidah.
Sharaf bukan sekadar perubahan.
Tajwid bukan sekadar bacaan.
Ketiganya adalah jalan panjang mendidik akal agar rendah hati, mendidik lisan agar jujur, mendidik hati agar mengenal Tuhannya.
Maka bila kelak lembar usiaku ditutup,
aku hanya ingin dikenang sebagai seorang santri yang sepanjang hidupnya terus memperbaiki i'rab dirinya, menashrif jiwanya menuju kebaikan, dan membaca kehidupan dengan tajwid yang paling indah.
Sebab pada akhirnya,
surga barangkali bukan diperuntukkan bagi mereka yang paling fasih berbicara,
melainkan bagi mereka yang menjadikan setiap huruf ilmu sebagai tangga menuju Allah. (*/)
(*/) Ustadz Arifin Al Bantani
Penulis adalah pegiat sosial keagamaan di Kota Cilegon
#Opini
Komentar