Oleh : Arifin Al Bantani
Sejarah tidak selalu ditulis dengan warna kejayaan; terkadang ia ditandai oleh darah, kesedihan, dan luka yang membutuhkan generasi untuk menyembuhkannya; tragedi yang berkaitan dengan peristiwa 1965 tetap menjadi salah satu bab tergelap dalam sejarah modern Indonesia.
Saat itu, konflik politik, kekerasan, ketakutan, dan perpecahan yang mendalam merobek tenunan kehidupan masyarakat; nyawa melayang, keluarga terpecah, dan tidak sedikit manusia membawa luka yang tidak mudah untuk diceritakan.
Kita harus mengingat para korban; bukan sekadar sebagai angka dalam buku sejarah, tetapi sebagai manusia yang memiliki keluarga, impian, dan harapan tentang hari esok.
Namun mengingat sejarah bukan berarti memelihara kebencian; ingatan semestinya melahirkan kebijaksanaan, dan kesedihan harus menjadi peringatan; sebab ketika kebencian politik melampaui akal sehat, kemanusiaanlah yang pertama menjadi korban.
Karena itu, pelajaran sejarah bukan sekadar bertanya; “Siapa mengalahkan siapa?”
tetapi bertanya lebih dalam; “Bagaimana agar penderitaan seperti ini tidak pernah terulang kembali?”
Sebuah bangsa menjadi dewasa ketika berani mengingat masa lalunya yang pahit tanpa menjadikan ingatan sebagai bahan kebencian; ketika kebenaran dicari dengan keberanian; ketika keadilan diperjuangkan dengan martabat; dan ketika kemanusiaan ditempatkan di atas pertarungan politik.
Indonesia telah melewati begitu banyak badai; dan tanggung jawab setiap generasi adalah memastikan kegelapan masa lalu tidak berubah menjadi kegelapan masa depan.
Mari kita mengingat; mari belajar; mari menyembuhkan luka; dan mari membangun bangsa di mana perbedaan tidak dijawab dengan kekerasan, tetapi dengan kebijaksanaan, dialog, dan keadilan.
Sebab sejarah bukan hanya tentang masa lalu; sejarah adalah cermin yang dihadapkan kepada masa kini, lalu bertanya kepada kita; masa depan seperti apa yang bersedia kita ciptakan? (*/)
(*/) Ustadz Arifin Al Bantani
Penulis merupakan pegiat sosial keagamaan di Kota Cilegon
#Opini
Komentar