NODA HITAM DALAM SEJARAH: TRAGEDI 1965
✕

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

NODA HITAM DALAM SEJARAH: TRAGEDI 1965

Rabu, 30 September 2026


Oleh : Arifin Al Bantani

Sejarah tidak selalu ditulis dengan warna kejayaan; terkadang ia ditandai oleh darah, kesedihan, dan luka yang membutuhkan generasi untuk menyembuhkannya; tragedi yang berkaitan dengan peristiwa 1965 tetap menjadi salah satu bab tergelap dalam sejarah modern Indonesia.

Saat itu, konflik politik, kekerasan, ketakutan, dan perpecahan yang mendalam merobek tenunan kehidupan masyarakat; nyawa melayang, keluarga terpecah, dan tidak sedikit manusia membawa luka yang tidak mudah untuk diceritakan.

Kita harus mengingat para korban; bukan sekadar sebagai angka dalam buku sejarah, tetapi sebagai manusia yang memiliki keluarga, impian, dan harapan tentang hari esok.

Namun mengingat sejarah bukan berarti memelihara kebencian; ingatan semestinya melahirkan kebijaksanaan, dan kesedihan harus menjadi peringatan; sebab ketika kebencian politik melampaui akal sehat, kemanusiaanlah yang pertama menjadi korban.
Karena itu, pelajaran sejarah bukan sekadar bertanya; “Siapa mengalahkan siapa?”
tetapi bertanya lebih dalam; “Bagaimana agar penderitaan seperti ini tidak pernah terulang kembali?”

Sebuah bangsa menjadi dewasa ketika berani mengingat masa lalunya yang pahit tanpa menjadikan ingatan sebagai bahan kebencian; ketika kebenaran dicari dengan keberanian; ketika keadilan diperjuangkan dengan martabat; dan ketika kemanusiaan ditempatkan di atas pertarungan politik.

Indonesia telah melewati begitu banyak badai; dan tanggung jawab setiap generasi adalah memastikan kegelapan masa lalu tidak berubah menjadi kegelapan masa depan.

Mari kita mengingat; mari belajar; mari menyembuhkan luka; dan mari membangun bangsa di mana perbedaan tidak dijawab dengan kekerasan, tetapi dengan kebijaksanaan, dialog, dan keadilan.

Sebab sejarah bukan hanya tentang masa lalu; sejarah adalah cermin yang dihadapkan kepada masa kini, lalu bertanya kepada kita; masa depan seperti apa yang bersedia kita ciptakan? (*/)

(*/) Ustadz Arifin Al Bantani
Penulis merupakan pegiat sosial keagamaan di Kota Cilegon 

#Opini

close