Salah satu jalan di pusat Kota Cilegon (Jalan Ki Wasyid) yang mulai tampak lengang, berbeda pada hari biasanya yang padat dan kerap terjadi kemacetan.
CILEGON—Tidak hanya DKI Jakarta saja yang ditinggal para penghuninya mudik ke kampung halaman, yang membuat Ibu Kota jadi tampak sepi. Begitu juga di Kota Cilegon. Kota industri tersebut sudah terlihat lengang pada H-2 Hari Raya Idul Fitri 1445 Hijriyah atau Senin (8/4/2024).
Hal itu terpantau langsung di beberapa titik keramaian di Kota Cilegon yang terlihat sudah sepi, tidak seperti hari biasanya yang masih ramai. Begitu pun kepadatan lalu lintas di beberapa ruas jalan kota dan jalan protokol yang sudah tampak lancar. Dan sebagian toko serta tempat usaha yang sudah tutup karena ditinggal mudik pelaku usahanya.
Menurut aktivis pengamat pembangunan, Azwar Adilla hal ini disebabkan karena tidak lepas Kota Cilegon yang sudah menjadi kota industri. Sehingga budaya mudik yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia yang terpanggil untuk kembali ke asal usulnya. Membuat Kota Cilegon yang ditinggalkan sebagian penduduknya di saat musim mudik di moment Idul Fitri.
"Pertama Indonesia umat Islam terbesar di dunia di mana mudik sudah menjadi culture yang tidak bisa dilepaskan, kedua banyak penduduk Cilegon yang merupakan pendatang dari berbagai daerah yang tertantang mengadu peruntungan ekonomi di Cilegon yang terdapat ratusan industri," ujarnya.
"Ketiga, kalau dikaji dari beberapa literasi sejarah, sebenarnya perantau yang datang ke Cilegon bukan hanya pada masuknya era industri yang dipelopori Krakatau Steel atau Trikora saat tahun 70 an. Tapi di era Kesultanan Banten pun dikabarkan banyak perantau yang datang untuk menggarap pertanian di Cilegon," paparnya.
Menurut aktivis asal Citangkil yang akrab disapa Kang Away ini, heterogennya Kota Cilegon tidak lepas dari letak geografis Cilegon yang berada di kawasan pesisir, yang memungkinkan terjadinya hilir mudik atau transitnya banyak orang melintas dan menetap di daerah tersebut.
"Pada umumnya daerah yang berada di kawasan pesisir, seperti Cilegon, Jakarta, Surabaya, masyarakatnya dikenal heterogen mudah berbaur atau biasa mendapati orang luar keluar masuk ke daerah tersebut. Apalagi di Cilegon ada Pelabuhan Penyebrangan Merak penghubung Pulau Jawa-Sumatera, orang yang lalu lalang tergiur dengan banyaknya industri raksasa, atau bisnis penyangga lainnya. Lha wong tukang bakso, pecel lele aja banyak orang luar jarang orang Cilegon mah," terangnya.
Meski demikian, Kang Away menyebutkan penduduk asli Cilegon yang tinggal di kawasan perkampungan masih lebih lebih banyak presentasenya.
"Ya sekitar 60 persen penduduk asli, hal itu akan terlihat pada ramainya malam takbiran besok malam, masyarakat Cilegon yang tidak mudik biasanya tumpak ruah di pusat kota untuk belanja baju lebaran dan takbir keliling," ucapnya.
Untuk itu, ia berharap masyarakat Kota Cilegon yang mudik pada momen Hari Raya Idul Fitri 1445 H tahun ini, diberikan kelancaran di perjalanan dan keselamatan sampai tujuan di daerahnya hingga kembali lagi ke Cilegon.
"Selamat berhari raya Idul Fitri di kampung halaman, hati-hati diperjalanan, jangan lupa berdo'a semoga lancar dan selamat serta sukses meraih kemenangan," ucapnya.
Away juga menghimbau kepada Pemkot Cilegon untuk bisa mengantisipasi lonjakan penduduk di arus balik mudik nanti.
"Seperti di Jakarta biasanya pemudik kembali dari mudik membawa saudara atau temannya. Jadi Pemkot Cilegon melalui kelurahan-kelurahan, dinas kependudukan dan Satpol PP harus intensif melakukan razia yustisi, hal ini bukan hanya agar tertib administrasi, lonjakan penduduk juga bisa terkontrol, dan dihimbau membuat KTP Cilegon kalau emang ingin menetap," himbaunya. (*/red)
#SosialKemasyarakatan
Komentar