Kekuasaan dan Kesepian Seorang Manusia

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Kekuasaan dan Kesepian Seorang Manusia

Senin, 11 Mei 2026



Oleh Arifin Al Bantani

Pada mulanya, kekuasaan mungkin hanyalah sebuah kursi. Ia terbuat dari kayu, besi, atau sejarah panjang manusia yang saling berebut menjadi paling penting di muka bumi. Tetapi waktu mengajarkan bahwa kursi kekuasaan tidak pernah benar-benar sekadar benda. Ia perlahan berubah menjadi cermin yang memantulkan isi terdalam seseorang: ketamakannya, ketakutannya, bahkan kesepiannya.

Dan betapa sering manusia tidak menyadari bahwa semakin tinggi ia duduk, semakin sunyi pula dirinya.

Di negeri-negeri yang ramai oleh pidato dan janji, kita terbiasa melihat kekuasaan sebagai kemegahan. Iring-iringan kendaraan, pengawalan, tepuk tangan, dan sorot kamera membuat jabatan tampak seperti puncak keberhasilan hidup manusia. Padahal, di balik gemerlap itu, ada sesuatu yang diam-diam menggerogoti jiwa: jarak.

Kekuasaan sering membuat manusia semakin jauh dari orang lain, bahkan dari dirinya sendiri.

Mula-mula ia jauh dari kritik, sebab terlalu banyak orang takut berkata jujur di hadapannya. Lalu ia jauh dari rakyat, sebab hidupnya perlahan dipagari tembok, protokol, dan kepentingan. Sampai akhirnya ia jauh dari hatinya sendiri, karena terlalu lama mendengar pujian dan lupa mendengar suara batin.

Mungkin itulah sebabnya banyak penguasa tampak memiliki segalanya, tetapi tidak benar-benar tenang.

Dalam dunia tasawuf, manusia dianggap paling miskin justru ketika ia merasa paling memiliki. Sebab segala yang ada pada dirinya hanyalah titipan: umur, jabatan, pengaruh, bahkan nama baik. Tetapi kekuasaan sering membuat manusia lupa bahwa dirinya fana. Ia mulai percaya bahwa kursi itu adalah dirinya sendiri. Maka ketika jabatan terancam hilang, seluruh hidupnya ikut gemetar.

Di situlah kesepian bermula.

Sebab orang yang menggantungkan makna hidupnya pada kekuasaan akan selalu hidup dalam ketakutan kehilangan. Ia dikelilingi banyak manusia, tetapi sulit mempercayai siapa pun. Ia mendengar banyak suara, tetapi jarang menemukan ketulusan. Bahkan tepuk tangan pun perlahan terasa hampa, karena ia tidak pernah tahu mana cinta dan mana kepentingan.

Betapa ironis: semakin besar kuasa seseorang, semakin kecil kesempatan dirinya dicintai secara sederhana.

Padahal dahulu, sebelum jabatan itu datang, mungkin ia pernah menjadi manusia biasa yang dapat tertawa tanpa curiga, berjalan tanpa pengawalan, dan berbincang tanpa kepentingan. Tetapi kekuasaan mengubah banyak hal. Ia tidak hanya mengatur negara, melainkan diam-diam juga mengatur jiwa manusia.

Karena itu, para sufi tidak pernah terlalu terpikat kepada kekuasaan. Mereka memahami bahwa jabatan adalah ujian yang lebih berat daripada kemiskinan. Orang miskin masih mungkin ingat Tuhan karena merasa lemah, sedangkan orang berkuasa sering lupa bahwa dirinya hanyalah debu yang sedang diberi kesempatan memimpin sesama debu.

Maka kekuasaan yang tidak disertai kejernihan batin akan melahirkan kesombongan. Dari sanalah lahir pemimpin yang sibuk dipuji, tetapi lupa mendengar. Sibuk mempertahankan citra, tetapi kehilangan kebijaksanaan. Sibuk memenangkan pertarungan, tetapi kalah melawan dirinya sendiri.

Dan bukankah sejarah manusia penuh oleh penguasa yang akhirnya tumbang bukan karena musuh di luar dirinya, melainkan karena kekosongan di dalam dirinya?

Pada akhirnya, semua kursi akan ditinggalkan. Semua jabatan akan selesai. Nama-nama besar perlahan hanya menjadi arsip, foto tua, atau berita yang dilupakan zaman. Yang tersisa hanyalah satu pertanyaan sunyi: apakah selama berkuasa, seseorang masih berhasil menjadi manusia?

Sebab kekuasaan sejati bukanlah kemampuan mengatur banyak orang, melainkan kemampuan menaklukkan diri sendiri. Dan mungkin, hanya mereka yang tidak mabuk oleh kekuasaanlah yang mampu pulang kepada Tuhan dengan hati yang tetap utuh. (*/)

(*/) Ustadz Arifin Albantani
Penulis merupakan kegiatan sosial keagamaan di Kota Cilegon 

#Opini

close