Oleh : Arifin Al Bantani
Setiap tanggal 5 Oktober; bangsa Indonesia memperingati hari lahir Tentara Nasional Indonesia. Tahun ini; TNI memasuki usia ke-81. Delapan puluh satu tahun bukan sekadar angka; ia adalah rentang panjang sejarah yang di dalamnya terdapat pengabdian; pergulatan; pengorbanan; dan perjalanan panjang menjaga sebuah republik yang dibangun dengan darah; air mata; serta cita-cita kemerdekaan.
Pada momentum ini; izinkan sebuah bangsa mengucapkan satu kalimat sederhana; tetapi mungkin tidak pernah cukup untuk membalas panjangnya pengabdian:
Terima kasih.
Terima kasih kepada prajurit yang berjaga ketika sebagian besar dari kita tertidur; kepada mereka yang meninggalkan keluarga demi tugas; kepada mereka yang berdiri di perbatasan; menyusuri lautan; menembus hutan dan pegunungan; serta hadir di berbagai wilayah ketika negara membutuhkan kehadiran.
Ada pengabdian yang terlihat oleh kamera; tetapi ada pula pengabdian yang berlangsung jauh dari sorotan. Di tempat-tempat yang sunyi; di pos-pos terpencil; di tengah keterbatasan; seorang prajurit tetap menjalankan tugasnya. Bagi rakyat; mungkin ia hanya sebuah nama. Tetapi bagi keluarganya; ia adalah ayah; ibu; suami; istri; anak; atau saudara yang selalu dirindukan.
Karena itu; ketika kita berbicara tentang TNI; sesungguhnya kita tidak hanya berbicara tentang seragam; senjata; pangkat; atau parade. Kita berbicara tentang manusia-manusia yang memilih jalan pengabdian; dengan segala konsekuensi yang menyertainya.
Tugas TNI dalam kerangka hukum negara adalah menegakkan kedaulatan; mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia; serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan. Kerangka tugas tersebut juga mencakup operasi militer selain perang dalam sejumlah keadaan; termasuk tugas kemanusiaan dan bantuan tertentu kepada masyarakat.
Namun; menjaga negara tidak hanya berarti menjaga garis batas wilayah.
Ada pula batas-batas kemanusiaan yang harus dijaga; batas antara kekuatan dan kesewenang-wenangan; antara keberanian dan kecerobohan; antara ketegasan dan kehilangan kepekaan.
Sebab kekuatan yang besar akan menemukan kemuliaannya ketika digunakan dengan tanggung jawab; disiplin; profesionalisme; dan penghormatan terhadap hukum.
Di sinilah makna pengabdian menjadi lebih dalam. Prajurit bukan hanya penjaga wilayah; ia juga penjaga amanah.
Dan sebagai rakyat; kita pun memiliki kewajiban moral untuk memahami bahwa pertahanan negara bukan semata-mata urusan tentara. Negara adalah rumah bersama; dan rumah bersama hanya akan kokoh apabila seluruh penghuninya ikut merawatnya.
TNI menjaga dari sisi pertahanan; masyarakat menjaga dari sisi persatuan. TNI menjaga kedaulatan; masyarakat menjaga keutuhan sosial. TNI berdiri di garis depan ketika negara menghadapi ancaman; sementara rakyat memiliki tanggung jawab menjaga agar perpecahan tidak tumbuh dari dalam.
Sebab sebuah bangsa tidak akan mudah dikalahkan oleh ancaman dari luar apabila ia tidak terlebih dahulu kehilangan persaudaraan di dalam dirinya.
Karena itu; HUT TNI seharusnya bukan hanya menjadi seremoni tahunan; melainkan kesempatan untuk kembali bertanya kepada diri sendiri:
Sudahkah kita menjadi rakyat yang ikut menjaga Indonesia?
Menjaga Indonesia tidak selalu membutuhkan seragam. Kadang ia hadir dalam bentuk sederhana; tidak menyebarkan kebencian; menghormati perbedaan; menjaga persatuan; bekerja dengan jujur; mendidik anak-anak dengan baik; membayar kewajiban sebagai warga negara; merawat lingkungan; dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling merendahkan.
Begitu pula ketika bencana datang; semangat kebangsaan menemukan wajahnya yang paling manusiawi. Dalam berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan; TNI juga hadir bersama masyarakat. Rangkaian HUT ke-81 TNI pada 2026, misalnya; mencakup kegiatan bakti sosial; kesehatan; olahraga; bantuan pangan; serta kegiatan yang melibatkan masyarakat secara luas.
Di tengah bencana; kita belajar bahwa Indonesia bukan sekadar kumpulan pulau; melainkan kumpulan hati yang saling menguatkan.
Ketika rumah seseorang roboh; bangsa ini harus menjadi rumah baginya. Ketika seseorang kehilangan keluarganya; kita tidak boleh membiarkannya merasa sendirian. Ketika sebuah daerah dilanda bencana; semangat persatuan harus hadir lebih cepat daripada perbedaan.
Inilah wajah pertahanan yang paling manusiawi; negara hadir untuk melindungi manusia; dan manusia hadir untuk menjaga sesamanya.
Kepada para prajurit yang hari ini masih mengenakan seragam; semoga pengabdian senantiasa berjalan bersama integritas. Semoga keberanian selalu ditemani kebijaksanaan. Semoga kekuatan selalu berada di bawah kendali tanggung jawab. Dan semoga setiap langkah di medan tugas senantiasa kembali kepada satu tujuan; Indonesia yang aman; berdaulat; bersatu; dan bermartabat.
Kepada keluarga para prajurit; kami juga menyampaikan penghormatan. Sebab di balik seorang prajurit yang bertugas; ada keluarga yang menunggu kepulangannya. Ada doa yang diam-diam dipanjatkan setiap malam. Ada kecemasan yang tidak selalu diceritakan. Ada kerinduan yang sering kali harus dikalahkan oleh panggilan tugas.
Dan kepada mereka yang telah gugur dalam pengabdian; bangsa ini tidak boleh melupakan.
Sebab kemerdekaan bukan hanya tentang bagaimana kita menikmati kebebasan; tetapi juga tentang bagaimana kita menghormati mereka yang pernah membayar harga bagi keberlangsungan negeri ini.
Pada akhirnya; sebuah bangsa yang besar bukan bangsa yang hanya pandai memuji para penjaganya; tetapi bangsa yang mampu meneruskan nilai pengabdian itu dalam kehidupan sehari-hari.
TNI menjaga Indonesia dengan tugasnya.
Kita menjaga Indonesia dengan peran kita masing-masing.
Mereka menjaga perbatasan; kita menjaga persaudaraan.
Mereka menjaga kedaulatan; kita menjaga persatuan.
Mereka menjaga keamanan; kita menjaga kedamaian.
Dan semuanya bertemu pada satu nama:
Indonesia.
Maka pada HUT ke-81 Tentara Nasional Indonesia ini; dari sebuah bangsa kepada mereka yang mengemban amanah menjaga negeri; izinkan kami berkata:
Terima kasih.
Bukan karena kami menganggap pengabdian dapat dibalas dengan kata-kata; tetapi karena sebuah bangsa harus tahu cara menghormati mereka yang mengabdikan sebagian hidupnya untuk negeri.
Semoga TNI semakin profesional; semakin dekat dengan rakyat; semakin kuat dalam menjaga kedaulatan; dan senantiasa menjunjung tinggi hukum serta nilai-nilai kemanusiaan.
Semoga Indonesia tetap menjadi rumah yang kita jaga bersama; bukan hanya dengan kekuatan senjata; tetapi juga dengan persatuan; keadilan; ilmu pengetahuan; akhlak; dan cinta kepada sesama.
Selamat HUT ke-81 Tentara Nasional Indonesia. Dirgahayu TNI.
Terima kasih atas pengabdian; doa kami menyertai setiap langkahmu menjaga Ibu Pertiwi. (*/)
(*/) Ustadz Arifin Albantani
Penulis adalah egiat sosial keagamaan di Kota Cilegon
#Opini
Komentar