Cilegon Kota Industri dan Kota Santri: Membangun Peradaban Literasi yang Berakar pada Ilmu Pengetahuan dan Nilai Keislaman

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Cilegon Kota Industri dan Kota Santri: Membangun Peradaban Literasi yang Berakar pada Ilmu Pengetahuan dan Nilai Keislaman

Minggu, 07 Juni 2026


Oleh: M. Ibrohim Aswadi

Di tengah perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat, budaya membaca di masyarakat menghadapi tantangan yang semakin besar. Kehadiran media sosial dan berbagai bentuk hiburan digital sering kali menggeser kebiasaan membaca yang selama ini menjadi fondasi lahirnya masyarakat yang berpengetahuan dan berdaya saing. Padahal, literasi merupakan salah satu pilar utama dalam membangun peradaban yang maju, berkarakter, dan berkelanjutan.

Untuk itu, kami mendorong seluruh dunia industri yang beroperasi di Kota Cilegon agar turut berpartisipasi aktif dalam memperkuat budaya literasi melalui bantuan koleksi bacaan kepada Perpustakaan Daerah Kota Cilegon. Bantuan tersebut tidak hanya berupa buku-buku ilmu pengetahuan, pendidikan, sejarah, teknologi, ekonomi, sastra, dan keterampilan, tetapi juga koleksi literatur keislaman yang menjadi bagian dari identitas historis dan kultural masyarakat Cilegon.


Sebagai daerah yang dikenal luas sebagai Kota Santri, Cilegon memiliki sejarah panjang dalam tradisi keilmuan Islam. Dari pesantren-pesantren yang telah berdiri sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu, lahir para ulama, pejuang, pendidik, dan tokoh masyarakat yang berperan penting dalam perjalanan sejarah Banten dan Indonesia. Oleh karena itu, penguatan literasi di Cilegon juga harus mencerminkan karakter dan akar peradabannya.

Salah satu bentuk dukungan yang sangat penting adalah penyediaan berbagai kitab kuning beserta terjemah dan tafsir berbahasa Indonesia yang dapat memudahkan generasi muda memahami khazanah keilmuan Islam. Kitab-kitab dalam bidang tafsir, hadits, fiqih, akhlak, tasawuf, ushul fiqih, sejarah Islam, hingga pemikiran para ulama Nusantara perlu hadir dan dapat diakses oleh masyarakat luas melalui perpustakaan daerah.

Kehadiran kitab-kitab tersebut bukan hanya untuk kalangan santri dan pesantren, tetapi juga sebagai sarana edukasi bagi masyarakat umum agar dapat mengenal warisan intelektual Islam secara lebih mendalam, moderat, dan kontekstual. Dengan demikian, perpustakaan tidak hanya menjadi pusat literasi umum, tetapi juga menjadi pusat pengembangan literasi keagamaan yang mencerahkan.

Dunia industri melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) memiliki kesempatan besar untuk ikut membangun peradaban Cilegon melalui investasi pengetahuan. Bantuan koleksi buku dan kitab merupakan investasi jangka panjang yang manfaatnya akan terus dirasakan oleh generasi mendatang. Apa yang diberikan hari ini dapat menjadi sumber ilmu yang terus mengalir dan melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, matang secara spiritual, serta kuat dalam nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan.

Sudah saatnya Cilegon tidak hanya dikenal karena kekuatan industrinya, tetapi juga karena kekuatan literasi dan tradisi keilmuannya. Perpustakaan Daerah Kota Cilegon harus menjadi rumah besar ilmu pengetahuan, tempat bertemunya literatur modern dengan khazanah klasik Islam, tempat tumbuhnya budaya membaca, berdiskusi, meneliti, dan melahirkan gagasan-gagasan besar untuk masa depan.

Karena sesungguhnya, kemajuan sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh tingginya cerobong industri dan megahnya infrastruktur, tetapi juga oleh tingginya minat baca, luasnya wawasan masyarakat, serta kuatnya tradisi ilmu yang hidup di tengah-tengah warganya.

Sebagai Kota Industri dan Kota Santri, Cilegon membutuhkan keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan pembangunan peradaban. Industri membangun kesejahteraan, sedangkan literasi dan ilmu pengetahuan membangun manusia. Dari perpustakaan yang hidup, akan lahir generasi yang mampu menjaga identitas keislaman, memperkuat kebangsaan, dan membawa Cilegon menuju masa depan yang lebih maju dan bermartabat.

"Jika industri membangun ekonomi, maka literasi membangun peradaban. Keduanya harus berjalan beriringan untuk mewujudkan Cilegon yang maju, cerdas, dan berdaya saing." (M. Ibrohim Aswadi).

Untuk itu, dengan diwajibkannya perusahaan industri dalam Corporate Social Responsibility (CSR). Alangkah baiknya sebagian dana CSR bisa dialokasikan membeli buku untuk melengkapi koleksi buku-buku di Perpustakaan Kota Cilegon yang masih kurang, seperti kitab-kitab kuning yang diperlukan oleh masyarakat khususnya kalangan santri di Cilegon. (*/)


(*/(M.Ibrohim Aswadi
Pengamat Sosial, Literasi, dan Perkembangan Peradaban Cilegon.

#Opini
close